Angin Segar LNG dan CNG di Tengah Tekanan Energi Global

Pengembangan bisnis liquefied natural gas (LNG) sebagai salah satu motor pertumbuhan utama perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan gas bumi domestik dan masih terbatasnya infrastruktur pipa gas nasional.

Angin Segar LNG dan CNG di Tengah Tekanan Energi Global
Dari kiri ke kanan: Direktur PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) Andika Andianto, Direktur Utama Andika Purwonugroho, Direktur Agung Wibawa, Direktur Mohamad Isa Safardi usai paparan publik (public expose) pada Senin (15/6/2026) di Hotel Bidakara, Jakarta. Foto: Nana/Suar.id
Daftar Isi

PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) menempatkan pengembangan bisnis liquefied natural gas (LNG) sebagai salah satu motor pertumbuhan utama perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan gas bumi domestik dan masih terbatasnya infrastruktur pipa gas nasional.

Melalui pembangunan Stasiun LNG Karawang di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, perusahaan mulai memperluas model bisnis yang selama ini bertumpu pada compressed natural gas (CNG). Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan membuka akses pemanfaatan sumber-sumber gas marginal yang selama ini belum dapat dikomersialisasikan secara optimal.

Direktur Utama CGAS Andika Purwonugroho mengatakan pembangunan LNG Karawang saat ini telah mencapai progres 75,7%. Perseroan telah menyelesaikan pekerjaan struktur sipil dan melakukan inspeksi berbagai peralatan yang akan dipasang pada fasilitas tersebut.

Menurut Andika, proses uji coba dan commissioning dijadwalkan berlangsung pada kuartal IV 2026, sementara operasi komersial ditargetkan dimulai pada awal 2027.

“LNG station ini akan mulai beroperasi diharapkan di awal tahun 2027. Jadi kita sudah mulai uji coba dan commissioning di kuartal empat tahun 2026,” ungkap Andika dalam Public Expose Tahunan CGAS, Senin (15/6/2026).

Perseroan menilai LNG memiliki prospek yang lebih luas dibandingkan CNG karena mampu menjangkau wilayah yang tidak terhubung jaringan pipa gas. Selain memiliki kapasitas angkut yang lebih besar, LNG juga dinilai lebih efisien untuk distribusi jarak jauh dan menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi.

Andika menjelaskan LNG Karawang akan memanfaatkan sumber gas marginal, yaitu lapangan gas dengan cadangan relatif kecil dan umur produksi terbatas. Selama ini, banyak sumber gas tersebut belum dapat dimanfaatkan secara ekonomis karena keterbatasan infrastruktur pengangkutan.

“LNG memiliki kemampuan daya angkut yang lebih besar dibandingkan CNG, memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi, dan jangkauan yang jauh lebih luas,” katanya.

Menurut dia, potensi gas marginal di Indonesia cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah. Dengan pendekatan LNG, sumber-sumber gas tersebut dapat menjadi pasokan energi alternatif bagi sektor industri maupun kawasan yang belum terjangkau jaringan pipa.

Selain fokus pada LNG, CGAS juga memperluas jaringan distribusi gas bumi melalui pengembangan stasiun dan hub baru. Pada kuartal III 2026, perseroan menargetkan pengoperasian Stasiun CNG Majalengka. Jumlah hub distribusi juga akan bertambah menjadi enam lokasi setelah CNG Hub Jombang mulai beroperasi.

Untuk pengembangan jangka panjang, perusahaan menyiapkan pembangunan stasiun CNG baru di Blora dan Sumatera Selatan yang ditargetkan beroperasi pada 2027. CGAS juga tengah menjajaki pembangunan fasilitas CNG atau LNG berkapasitas 6 MMSCFD di Kutai Kartanegara melalui kerja sama dengan badan usaha milik daerah (BUMD) setempat.

Ekspansi tersebut didukung belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp161 miliar pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan proyek LNG Karawang, membangun stasiun baru, mengembangkan hub distribusi, serta menambah aset distribusi berupa gas transport module (GTM) dan peralatan pendukung lainnya.

Saat ini, investasi LNG masih difokuskan pada proyek Karawang. Adapun pengembangan fasilitas LNG berikutnya akan bergantung pada ketersediaan sumber pasokan gas yang dapat dimanfaatkan secara komersial.

Untuk mendukung kebutuhan pendanaan ekspansi, perseroan tidak hanya mengandalkan fasilitas perbankan. Manajemen juga membuka peluang melakukan aksi korporasi apabila kondisi pasar dan fundamental perusahaan mendukung.

Dalam kesempatan yang sama, pihaknya juga mengungkapkan potensi besar pemanfaatan sumur-sumur gas marginal di Pulau Jawa. Menurut Andika, terdapat ratusan sumur dengan cadangan relatif kecil yang belum dikomersialisasikan karena kendala infrastruktur dan faktor keekonomian.

CGAS berencana memanfaatkan peluang tersebut melalui pembangunan fasilitas CNG maupun LNG tanpa harus masuk ke bisnis hulu migas. Perusahaan akan membeli gas yang telah diproduksi oleh operator lapangan dan mendistribusikannya kepada pelanggan industri.

Andika juga optimistis terhadap prospek LNG di Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem distribusi energi yang mampu menjangkau wilayah-wilayah yang sulit dilayani jaringan pipa.

“Secara geografis Indonesia memang kepulauan, sehingga membutuhkan transportasi energi dengan jangkauan yang cukup jauh,” cetusnya.

Saat ini, calon pelanggan LNG Karawang didominasi sektor manufaktur di Jawa Barat dan Jawa Tengah, termasuk industri makanan dan minuman. Seluruh kapasitas LNG yang disiapkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri skala besar yang membutuhkan volume gas lebih tinggi dibandingkan pengguna CNG.

Selain melayani pelanggan baru, LNG juga diharapkan meningkatkan efisiensi distribusi ke jaringan hub CGAS yang selama ini masih menggunakan CNG sehingga memperluas jangkauan layanan perusahaan.

Sejalan dengan ekspansi tersebut, CGAS menargetkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp879 miliar pada 2026 atau meningkat 43,65% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Penjualan ditargetkan mencapai 3,539 juta MMBTU, naik 41,83%, sedangkan laba bersih diproyeksikan mencapai Rp23,9 miliar atau tumbuh 68,82%.

Target pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya kebutuhan gas bumi nasional, ekspansi bisnis CNG dan LNG, serta program konversi energi yang didorong pemerintah. Perseroan melihat peluang besar dari peralihan penggunaan bahan bakar berbasis impor, terutama LPG, menuju CNG dan LNG yang bersumber dari gas bumi domestik.

“Pertumbuhan bisnis CNG dan LNG juga menjadi bagian dari program pemerintah untuk mengembangkan konversi bahan bakar yang sebelumnya berasal dari impor atau LPG menjadi bahan bakar CNG dan LNG,” kata Andika.

Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar pada hari yang sama, pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp7,1 miliar atau sekitar Rp4 per saham. Nilai tersebut setara dengan 50% laba bersih perseroan, sementara sisanya digunakan untuk mendukung operasional dan investasi.

RUPST juga menyetujui penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 35201 terkait pengadaan gas alam. Penambahan KBLI tersebut menjadi bagian dari persiapan operasional LNG Karawang sekaligus membuka peluang pengembangan energi berbasis gas nonkonvensional, seperti biogas dan biometana, pada masa mendatang.

CNG dipacu jadi alternatif di tengah gejolak energi

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Kamis (11/6/2026) lalu menyebut jika pemerintah mempercepat upaya pengalihan penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) ke compressed natural gas (CNG) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Pemerintah menilai gejolak geopolitik yang masih berlangsung berpotensi memengaruhi harga energi dan komoditas strategis dunia.

Menurut Bahlil, percepatan konversi LPG ke CNG diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus menekan beban subsidi energi.

"Secara kebetulan kita lihat perkembangan geopolitik yang belum selesai, Bapak Presiden memerintahkan untuk segera mencari energi-energi alternatif, khususnya yang sekarang kita fokus itu adalah percepatan peralihan LPG ke CNG," kata Bahlil.

Warga membeli elpiji bersubsidi saat operasi pasar penyeimbang di Pasar Datah Manuah, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (13/6/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.

Selain membahas diversifikasi energi, Presiden dan Menteri ESDM juga mendiskusikan penataan sektor pertambangan. Namun, Bahlil belum menjelaskan secara rinci bentuk penataan yang dimaksud.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah turut mengevaluasi kesiapan pasokan energi nasional, termasuk kondisi kelistrikan dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).

"Dan yang ketiga adalah kesiapan di sektor energi PLN maupun dari sisi ketersediaan daripada BBM kita. Saya pikir itu," ujar Bahlil.

Gejolak energi dorong peralihan ke CNG

Kepala Centre of Food, Energy and Sustainable Development (CFESD) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov menilai gejolak energi global yang kembali meningkat menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi, termasuk mendorong penggunaan gas alam seperti compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti bahan bakar berbasis impor.

Abra mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi kerentanan akibat tingginya ketergantungan terhadap energi impor di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Menurut dia, harga BBM dalam negeri sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak global, kurs rupiah, serta harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis minyak.

“Kita sama-sama melihat bahwa eskalasi kembali meningkat, saling serang rudal antara Iran terhadap Israel dan terhadap militer Amerika, itu juga kembali mengerek naik harga minyak mentah dunia,” kata Abra.

Ia mengungkapkan konsumsi BBM nasional terus meningkat, sementara sebagian kebutuhan masih dipenuhi melalui impor. Pada saat yang sama, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketahanan energi ketika terjadi lonjakan harga energi global.

Karena itu, Abra menilai pemerintah perlu membangun kesadaran mengenai risiko krisis energi sekaligus menyiapkan langkah-langkah diversifikasi energi yang dapat mengurangi tekanan terhadap impor.

“Kedua juga tetap pemerintah harus membangun urgensi ya sense of crisis dari krisis energi yang kita hadapi sekarang,” pungkasnya.

Baca selengkapnya