Percepat Transformasi Pengelolaan Sampah, Danantara Percepat Proyek PSEL Tahap 2 di 8 Lokasi

Proyek PSEL tahap 2 akan mencakup 8 lokasi dan 20 kabupaten dan kota. Adapun pasokan sampah tiap lokasi berkisar antara 1.000 ton per hari - 1.700 ton per hari. Apabila sudah beroperasi pada 2028 atau 2029 fasilitas PSEL imemproduksi listrik sekitar 20 Megawatt-30 Megawatt per jam di tiap lokasi.

Percepat Transformasi Pengelolaan Sampah, Danantara Percepat Proyek PSEL Tahap 2 di 8 Lokasi
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (ketiga kiri), Wamenko Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq (kiri), Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani (kedua kiri), Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (ketiga kanan), Chief Executive Officer Danantara Investment Management Pandu Patria Sjahrir (kedua kanan), Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo (kanan) dan Gubernur Bali Wayan Koster (tengah) membuang sampah secara simbolis saat peresmian pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Denpasar, Bali, Rabu (8/7/2026). PSEL Bali yang ditargetkan dapat beroperasi pada semester pertama tahun 2028 dengan nilai investasi sebesar Rp3 triliun tersebut diproyeksikan dapat mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun dan menurunkan hingga 80 persen emisi per ton sampah dibandingkan metode pembuangan terbuka ke TPA. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym.
Daftar Isi

Perusahaan afiliasi Danantara yang bergerak di bidang pengolahan sampah terintegrasi yang diolah jadi energi listrik, PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), terus mempercepat era baru pengolahan sampah di Tanah Air. Setelah menyelesaikan seremoni dimulainya pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Denpasar, Bali, pada 8 Juli lalu, kini Denera sudah siap melanjutkan proyek PSEL tahap 2 di 8 lokasi dan 20 kabupaten/kota di Indonesia.

Chief Executive Officer (CEO) Denera, Fadli Rahman, menjelaskan, selain di Denpasar, proyek tahap 1 pembangunan PSEL di Bogor dan Bekasi terus dalam pembangunan. Seluruh proyek tahap 1 ditargetkan bisa selesai pada triwulan IV-2027 dan triwulan I-2028. Adapun total investasi proyek tahap I mencapai sekitar Rp 9 triliun.

Sembari menyelesaikan, pembangunan fasilitas tahap 1, Fadli mengatakan, Denera sudah ancang-ancang untuk melanjutkan proyek tahap 2.

Chief Executive Officer (CEO) Denera, Fadli Rahman, dalam jumpa pers di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (13/7/2026). Foto: Krisna/Suar.id

"Pemerintah melalui Danantara lewat Denera punya aspirasi untuk memecahkan persoalan sampah dengan melakukan transformasi pengolahan sampah ini menjadi energi. Dengan dukungan penuh pemerintah pusat dan sinergi dengan pemerintah daerah kami ingin mempercepat PSEL tahap kedua ini," ujar Fadli dalam jumpa pers di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan, untuk proyek tahap 2 akan mencakup 8 lokasi dan 20 kabupaten dan kota. Adapun delapan lokasi ini adalah di kawasan Medan Raya (2 kabupaten/kota), Kabupaten Bekasi (1), Lampung Raya (3), Serang Raya (3), Semarang Raya (2), Surabaya Raya (4), Bogor Raya (2), dan Yogyakarta Raya (3).

Adapun pasokan sampah tiap lokasi berkisar antara 1.000 ton per hari - 1.700 ton per hari. Mereka akan mengolah jenis sampah rumah tangga bukan limbah industri ataupun B3.

Fadli menjelaskan, apabila sudah beroperasi, fasilitas PSEL ini bisa memproduksi listrik sekitar 20 Megawatt- 30 Megawatt per hour di tiap lokasi. Adapun rencananya seluruh PSEL tahap 2 ini sudah bisa beroperasi pada triwulan 4-2028 atau triwulan 1-2029.

Namun, Fadli menegaskan, produksi energi listrik ramah lingkungan ini hanya salah satu manfaat dari PSEL. Ia menekankan, tujuan utama Danantara lewat Danantara adalah melakukan transformasi pengolahan sampah di Tanah Air.

"Rencananya di tiap PSEL ini akan dibangun fasilitas edukasi sehingga masyarakat bisa melihat prosesnya. Akan ada taman dan ruang terbuka hijau. Jadi ini lingkungan yang sangat sehat. Kami ingin transformasi pengelolaan sampah di Indonesia," ujar Fadli.

Ia menjelaskan, pembangunan proyek PSEL Tahap 2 ini bisa menyerap tenaga kerja 900-1.200 orang. Adapun bila sudah beroperasi PSEL ini akan menyerap tenaga kerja 250-300 orang.

"Ini bisa dibilang green jobs," ujarnya.

Ia menjelaskan, proses pembangunan PSEL tahap 2 ini kini sudah selesai memilih mitra. Adapun untuk kawasan Medan Raya mitra yang terpilih adalah SUEZ-IA Consortium (SUEZ Insan Asia) yang merupakan perusahaan kerjasama Prancis dan Indonesia.

Untuk PSEL Kabupaten Bekasi tahap 2 terpilih mitra bernama Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni) perusahaan antara China dan Indonesia. Adapun mitra untuk proyek PSEL Lampung Raya adalah Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas) yang merupakan perusahaan antara China dan Indonesia.

Mitra PSEL untuk kawasan Serang Raya adalah Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE) yakni perusahaan antara Indonesia dengan China. Adapun kawasan Semarang Raya adalah Veolia Environmental Services Asia Pte.Ltd (Veolia) perusahaan dari Perancis.

Untuk kawasan Surabaya Raya terpilih mitra Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS) yang merupakan perusahaan antara Indonesia dan China. Adapun untuk kawasan Bogor Raya terpilih mitra MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA) yang merupakan perusahaan Indonesia dan China. Sedangkan kawasan Yogyakarta Raya terpilih mitra Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC) yang merupakan perusahaan Indonesia dengan China.

Fadli menjelaskan, para mitra itu terpilih dari total 85 konsorsium dan entitas mandiri yang mengajukan aplikasi kepada Denera. Adapun kriteria pemilihan mitra tersebut berdasarkan kredensial rekam jejak, kemampuan finansial, pengalaman eksekusi di Indonesia, aspek strategis, kecepatan eksekusi & aspek komersial, dan aspek risiko.

Pemilihan mitra tak hanya dilakukan Tim Danantara saja namun juga melibatkan tenaga ahli dan profesional antara lain bersama Indonesia Infrastructure Finance (IIF), Sucofindo, firma hukum Ginting & Reksodiputro (“G&R”) in association with A&O Shearman, Nippon Koei Energy Indonesia, dan GroEN Consulting.

Nilai investasi Rp24 triliun - Rp25 triliun

Direktur Keuangan Denera, M Ramadhan Harahap, menjelaskan, total investasi untuk pembangunan tahap 2 menelan biaya sekitar Rp24 triliun - Rp25 triliun. Adapun perhitungannya adalah setiap membangun PSEL dengan kapasitas pengolahan sampah sekitar 1.000 ton per hari itu memakan biaya sekitar Rp3 triliun. Maka dengan adanya 8 lokasi maka pembangunan tahap 2 secara total akan membutuhkan investasi sekitar Rp24 triliun-Rp25 triliun.

Ia menjelaskan, untuk pembiayaan pembangunan proyek tahap kedua ini, pihaknya akan menggunakan ekuitas perusahaan sebesar 30%. Selebihnya sebesar 70% dana akan menggunakan pendanaan dari perbankan.

Adapun Denera membuka pendanaan dengan perbankan baik dalam maupun luar negeri. Pihaknya juga mendukung peranan sinergi Himpunan Bank Negara (Himbara) agar ikut serta dalam pendanaan proyek ini.

"Proyek ini akan masuk dalam kategori pembiayaan ekonomi hijau. Maka, proyek ini bisa jadi kesempatan bagi perbankan untuk menambah portofolio kredit hijaunya," ujar Ramadhan.

Pengelolaan sampah dan energi bersih

Sebelumnya, pakar ketahanan energi dari Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi menilai, langkah percepatan pembangunan proyek PSEL yang dimulai di Bali oleh pemerintah dan Danantara Indonesia ini sudah tepat, mengingat permasalahan di kawasan tersebut menurutnya sudah mengkhawatirkan dan berlangsung sejak lama.

“Kalau orang macam saya yang peneliti itu kan suka keluyuran ke pesisir, itu sebagai daerah wisata cukup mengkhawatirkan karena banyak sekali sampah yang tidak terurus di sana. Kalau kemudian terjadi percepatan untuk pengolahan sampah di Bali,saya kira memang sudah seharusnya,” ucap Ali.

Pengembangan PSEL ini dikatakan berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi, pasokan listrik pun dapat dihasilkan dari limbah yang tersedia secara berkelanjutan, terutama di kota-kota besar yang memiliki volume timbulan sampah tinggi.

“Saya kira ini dengan volume sampah yang besar di kota-kota Indonesia, saya ambil contoh Jakarta itu bisa 8 ribu ton sehari, Depok 2.400 ton, Bekasi 2.800 ton, Kota Tangerang 2.500 ton, Tangsel 2.600 ton, di Jabodetabek aja kalau dikelola dikonversi menjadi listrik setidaknya akan sangat mengurangi ketergantungan pada PLTU,” jelasnya.

Baca juga:

PSEL Bali, Solusi Ubah Sampah Jadi Sumber Energi Berkelanjutan
Bali menjadi tempat pertama bagi pembangunan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang diinisiasi Danantara.

Sampah ini memiliki potensi sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) karena selalu tersedia seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat, berbeda dengan energi fosil yang jumlahnya terus berkurang dan pada akhirnya akan habis.

“Produksi sampah itu gak mungkin menurun, berbeda dengan energi fosil yang kalau ditambang dia berkurang dan habis. Masyarakat kan terus bertambah, pasti sampah akan terus ada, dan kalau kemudian pengelolaannya bagus itu menjadi sesuatu yang bisa masuk kategori renewable energy,” lanjutnya.

Dari dunia usaha, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar mengatakan, kalangan pelaku usaha saat ini menilai dinamika global yang terjadi semakin memperkuat pengembangan EBT di Indonesia. Mulai dari ketidakpastian pasokan energi, fluktuasi harga, hingga meningkatnya tuntutan pengurangan emisi karbon pun mendorong perlunya diversifikasi energi yang lebih berkelanjutan.

“Kami melihat bahwa dinamika global saat ini justru memperkuat urgensi pengembangan energi baru terbarukan. Namun, penting untuk ditekankan bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan secara instan,” kata Sanny.

Pengembangan EBT di Indonesia menurutnya perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan sejumlah aspek seperti kesiapan infrastruktur, keandalan sistem kelistrikan, aspek pembiayaan, serta memastikan pasokan energi bagi masyarakat dan industri tetap terjaga.

“Pendekatan yang lebih realistis adalah transisi yang bertahap dan berbasis kesiapan sistem, di mana EBT terus dikembangkan, namun di saat yang sama bagaimana tetap menjaga keandalan pasokan energi bagi industri,” ucapnya.

Baca selengkapnya