Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, erempuan lulusan pendidikan tinggi (DIV/S1/S2/S3) memiliki peluang terbesar untuk segera terserap di dunia kerja, dengan 61,29% di antaranya berhasil mendapatkan pekerjaan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Angka tersebut secara signifikan lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan pendidikan lebih rendah, seperti lulusan SD ke bawah, di mana hanya 19,68% yang mampu mengakses pekerjaan dalam waktu singkat, sementara mayoritas (71,44%) membutuhkan waktu lebih dari dua tahun.
Data juga menunjukkan bahwa sektor formal, yang direpresentasikan oleh status buruh/karyawan/pegawai, merupakan penampung terbesar pekerja perempuan dengan jumlah yang terus meningkat hingga mencapai 20,27 juta orang pada Agustus 2025.
Namun, di sisi lain, terdapat jumlah yang juga cukup besar pada kategori pekerja keluarga/tidak dibayar yang mencapai 13,27 juta orang. Tingginya angka pada kategori pekerja tidak dibayar ini mengindikasikan bahwa meskipun akses masuk ke pasar kerja tersedia, kualitas dan formalitas pekerjaan bagi banyak perempuan masih menjadi isu krusial yang perlu menjadi perhatian.
Pada kategori pekerjaan dengan berusaha sendiri jumlahnya di kisaran 12,9 juta orang pada periode terakhir. Hal ini mencerminkan bahwa kewirausahaan menjadi alternatif yang dipilih perempuan untuk membangun kemandirian ekonomi. Hal ini agaknya juga terkait dengan fleksibilitas waktu dalam bekerja yang ditujukan untuk menyeimbangkan peran domestik.
Pada status pekerjaan perempuan dengan kategori berusaha dibantu buruh tetap/dibayar pertumbuhannya cenderung lambat dan berada di angka terendah dibandingkan kategori lainnya. Hal ini menandakan bahwa skala usaha yang dikelola perempuan mayoritas masih berada di level mikro atau kecil.
Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lulusan pendidikan tinggi dan kejuruan lebih mudah dan cepat terserap di dunia kerja dengan persentase penyerapan cepat (0-12 bulan) yang sedikit lebih baik atau setidaknya kompetitif dibandingkan laki-laki di kategori yang sama.
Sebagai contoh, di tingkat sarjana, 61,29% perempuan mendapat pekerjaan lebih cepat (0-12 bulan) dibandingkan laki-laki yang persentasenya 59,06%. Hal ini menunjukkan bahwa secara kompetensi dan kualifikasi akademik, perempuan memiliki daya saing yang sangat tinggi. Kendati demikian, jurang yang lebar pada tingkat pendidikan rendah menunjukkan bahwa perempuan tanpa keahlian khusus jauh lebih rentan mengalami pengangguran jangka panjang atau terpaksa masuk ke sektor informal yang tidak berbayar dibandingkan rekan laki-laki.
Pendidikan tinggi terbukti menjadi kunci utama bagi perempuan untuk memperoleh pekerjaan dengan cepat dan masuk ke sektor formal.
Namun, data menunjukkan masih banyak perempuan yang terjebak sebagai pekerja keluarga tidak dibayar atau mereka yang berpendidikan rendah sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Negeri ini masih dihadapkan pada tantangan mewujudkan kesetaraan bagi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di sektor formal dan dukungan terhadap pengembangan usaha mikro oleh perempuan.
Kesetaraan kerja bukan hanya soal angka partisipasi yang terus meningkat, melainkan juga soal kualitas kesejahteraan dan kemandirian ekonomi yang diraih perempuan.