Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, total pendatang yang pada tahun 2023 mencapai angka 25.918 jiwa, merosot tajam hingga hanya 9.089 jiwa pada April 2026 ini.
Penurunan drastis sebesar 43,4% ini menandakan bahwa Jakarta mungkin bukan lagi menjadi magnet ekonomi utama bagi para perantau. Pergeseran ini mencerminkan dinamika baru dalam distribusi kesempatan kerja di daerah atau keberhasilan kebijakan pemerataan ekonomi yang mulai meredam ambisi masyarakat untuk mengadu nasib di ibu kota.
Secara demografis, komposisi pendatang ke ibu kota terus didominasi oleh kelompok perempuan dibandingkan laki-laki di setiap tahunnya. Sebagai contoh, pada tahun 2026, terdapat 4.624 pendatang perempuan dibandingkan 4.465 laki-laki. Tren ini secara konsisten terlihat sejak 2023, di mana jumlah perempuan selalu lebih banyak.
Dominasi ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor informal dan jasa, seperti menjadi asisten rumah tangga atau sektor ritel, yang secara tradisional banyak diisi oleh pekerja perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa struktur lapangan kerja yang tersedia bagi para pendatang baru masih terkonsentrasi pada sektor-sektor pendukung kehidupan perkotaan.
Berdasarkan sebaran wilayahnya, Jakarta Timur menjadi kota tujuan utama dengan jumlah 2.780 pendatang, disusul oleh Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Preferensi terhadap Jakarta Timur dan Jakarta Barat kemungkinan besar disebabkan oleh faktor aksesibilitas transportasi dan ketersediaan kawasan industri atau hunian dengan biaya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan pusat kota. Wilayah-wilayah ini berfungsi sebagai pintu masuk sekaligus penyangga bagi para perantau yang mencari titik keseimbangan antara biaya hidup dan peluang kerja.
Berdasarkan daerah asal pendatang, terlihat bahwa urbanisasi ke Jakarta kini lebih didominasi oleh migrasi jarak pendek dari wilayah penyangga (Bodetabek). Kota Bekasi, Bogor, dan Kota Depok menempati urutan teratas sebagai penyumbang pendatang terbanyak.
Pergerakan penduduk lebih bersifat komuter atau mobilitas lokal di dalam kawasan aglomerasi, bukan lagi murni perpindahan jarak jauh dari pelosok desa di luar Jawa. Kehadiran kota-kota seperti Brebes, Tegal, dan Medan dalam daftar asal pendatang memang masih ada, namun jumlahnya jauh di bawah angka pendatang dari wilayah satelit Jakarta sendiri.
Data Dukcapil tersebut menggambarkan Jakarta yang sedang bertransformasi dari kota tujuan migrasi massal menjadi pusat aglomerasi yang lebih selektif. Penurunan tajam pertumbuhan pendatang hingga angka minus 43,4% di tahun 2026 harus dibaca sebagai sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk menata ulang strategi kependudukan.
Meskipun daya tarik ekonomi Jakarta belum sepenuhnya hilang, pola pendatang yang kini didominasi oleh wilayah tetangga mengindikasikan bahwa tantangan utama Jakarta bukan lagi sekadar lonjakan penduduk, melainkan bagaimana mengelola mobilitas harian dan integrasi ekonomi dengan kota-kota penyangga di sekitarnya.