Setelah beberapa kali melakukan penyesuaian harga di awal tahun, kebijakan terbaru Pertamina kali ini menjadi yang paling meresahkan. Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax naik sebesar Rp 3.950 per liter, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter atau melonjak 32,11% di bulan Juni.
Tidak sendiri, jenis produk Pertamax Green juga turut dinaikkan sebesar 31,78% menjadi Rp 17.000 per liter. Keputusan ini diambil akibat tingginya tekanan eksternal dari fluktuasi harga minyak mentah dunia serta depresiasi nilai tukar rupiah. Dampaknya memaksa korporasi energi negara ini menyelaraskan harga keekonomian demi menjaga keberlanjutan fiskal dan pasokan domestik.
Jika ditarik garis tren sepanjang semester pertama 2026, lonjakan harga sebenarnya sudah terjadi lebih awal pada lini BBM mesin diesel dan kendaraan premium. Data menunjukkan Pertamina Dex melesat drastis dari Rp 13.600 di bulan Januari menjadi Rp 27.900 per liter sejak Mei hingga Juni, alias mengalami kenaikan ekstrem sebesar 105,15%.
Dexlite mengikuti pola serupa dengan merangkak naik dari Rp 13.500 ke Rp 26.000 per liter pada periode yang sama. Kenaikan tajam kelompok BBM logistik dan komersial sejak kuartal II-2026 ini secara kumulatif telah menumpuk beban biaya produksi di hulu. Ketika Pertamax ikut melonjak di bulan Juni, batas toleransi biaya transportasi massal dan distribusi komoditas pun mencapai titik puncaknya. Hal tersebut memicu transmisi langsung ke sektor riil lainnya.
Dampak biaya logistik yang membengkak tersebut kini mulai terkonfirmasi pada volatilitas harga pangan di pasar domestik. Berdasarkan fluktuasi Harga Nasional Tertimbang (HNT) antara 2 Januari hingga 11 Juni 2026, komoditas pangan hortikultura dan kebutuhan pokok mengalami pertumbuhan harga yang signifikan.
Cabai merah besar memimpin lonjakan tertinggi sebesar 17,16% menjadi Rp 52.343 per kg, disusul oleh bawang merah yang naik 16,71% menjadi Rp 49.152 per kg, dan cabai rawit merah yang merangkak naik 10,21% ke level Rp 66.421 per kg. Kenaikan atau perubahan harga ini disebabkan olah banyak pemicu, termasuk kenaikan harga BBM.
Dari sisi rantai distribusi, biaya melonjak akibat transportasi pengangkut bahan pangan dari sentra produksi ke perkotaan yang mayoritas mengonsumsi Dexlite atau Pertamax. Setiap kenaikan biaya angkut langsung dibebankan pada harga jual eceran di tingkat konsumen.
Kondisi ini kian mengkhawatirkan mengingat komoditas minyak goreng yang menjadi kebutuhan primer harian juga ikut bergejolak. Minyak goreng sawit curah mencatatkan kenaikan sebesar 8,83% menjadi Rp 19.576 per liter, sementara Minyak goreng sawit kemasan premium naik 5,8% menjadi Rp 22.384 per liter.
Kenaikan harga minyak goreng di tengah melesatnya harga BBM non-subsidi memicu potensi transmisi inflasi lanjutan yang lebih luas pada sektor UMKM kuliner dan industri makanan olahan. Ditambah lagi dengan kenaikan komoditas impor seperti kedelai (naik 1,51%) dan bahan pokok lain seperti daging sapi paha belakang (naik 6,54% menjadi Rp 140.985 per kg) serta gula pasir curah (naik 3,11%), daya beli masyarakat di paruh kedua tahun ini akan menghadapi ujian yang sangat berat.
Guna memitigasi risiko pembengkakan inflasi pangan (volatile foods) yang lebih parah, kebijakan yang adaptif menjadi kunci yang harus diupayakan pemerintah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).