Pasar Modal Indonesia Bertahan di Emerging Market, Meski Minus di Arus Informasi

Pasar modal Indonesia masih bertahan di kategori Emerging Market. MSCI menilai Arus Informasi kurang transparan

Pasar Modal Indonesia Bertahan di Emerging Market, Meski Minus di Arus Informasi
Morgan Stanley International (MSCI) mempertahankan Indonesia di kelompok pasar berkembang (emerging market)
Daftar Isi

Penyedia indeks global Morgan Stanley International (MSCI) mempertahankan Indonesia di kelompok pasar berkembang (emerging market), namun memberikan sejumlah catatan yang menyoroti kualitas akses informasi dan transparansi pasar modal domestik menjelang pengumuman hasil MSCI Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026.

Dalam laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis Jumat (19/6/2026), Indonesia mengalami penurunan penilaian pada aspek Information Flow atau arus informasi. MSCI menurunkan status indikator tersebut dari positif (+) menjadi negatif (-), hal tersebut dikarenakan masih adanya hambatan yang dinilai dapat memengaruhi keputusan investasi investor internasional.

Perubahan penilaian tersebut terutama dipicu oleh kekhawatiran mengenai keterbukaan informasi, terkait struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat. MSCI menilai informasi yang dibutuhkan investor untuk mengidentifikasi pengendali dan menilai tingkat saham beredar bebas (free float) belum sepenuhnya tersedia secara transparan.

"Information Flow: + to -. Masalah terkait kelayakan investasi masih ada akibat keterbatasan transparansi dalam struktur kepemilikan saham, serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga yang wajar. Informasi pasar saham yang terperinci tidak selalu diungkapkan dalam bahasa Inggris," tulis MSCI dalam laporannya.

Perilaku perdagangan terkoordinasi

Selain persoalan keterbukaan kepemilikan saham, MSCI juga menyoroti adanya indikasi coordinated trading behavior atau perilaku perdagangan yang terkoordinasi. Praktik tersebut dinilai berpotensi mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar (fair price discovery) di pasar, sehingga menyulitkan investor asing dalam melakukan penilaian risiko dan valuasi.

Sorotan MSCI tidak berhenti pada aspek transparansi. Lembaga tersebut juga mencatat sejumlah kendala operasional yang masih dihadapi investor internasional, ketika bertransaksi di pasar Indonesia.

Pada sektor valuta asing, MSCI menilai Indonesia belum memiliki pasar mata uang offshore yang efisien. Transaksi valuta asing di dalam negeri juga masih dibatasi, termasuk kewajiban menghubungkan transaksi valas dengan transaksi efek yang menjadi dasar kebutuhan dana tersebut.

Fleksibilitas pelaku pasar terbatas

Dari sisi penyelesaian transaksi (clearing and settlement), MSCI menyoroti tidak tersedianya fasilitas overdraft bagi investor asing. Kondisi tersebut membatasi fleksibilitas pelaku pasar dalam menyelesaikan transaksi ketika terjadi kekurangan dana sementara.

MSCI juga mencatat bahwa transfer saham secara in-kind masih hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Sementara itu, aktivitas peminjaman saham (stock lending) telah tersedia, namun terbatas pada saham-saham tertentu dengan jangka waktu kontrak maksimal 90 hari.

Untuk mekanisme short selling, MSCI mengakui Indonesia telah membuka ruang bagi investor untuk melakukan transaksi tersebut. Namun, implementasinya masih disertai sejumlah pembatasan, sehingga belum sepenuhnya sejalan dengan praktik yang berlaku di berbagai pasar global.

Penjelasan lebih detail pada 23 Juni 2026

Laporan MSCI Global Market Accessibility Review sendiri merupakan evaluasi tahunan yang digunakan untuk mengukur tingkat aksesibilitas pasar modal di berbagai negara. Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yakni keterbukaan terhadap kepemilikan asing, kemudahan arus modal masuk dan keluar, efisiensi kerangka operasional pasar, ketersediaan instrumen investasi, serta stabilitas kerangka kelembagaan.

Kelima aspek tersebut kemudian diukur melalui 18 indikator aksesibilitas yang menjadi acuan investor institusional global dalam menilai kemudahan berinvestasi pada suatu negara.

MSCI menegaskan bahwa informasi lebih lanjut mengenai posisi Indonesia dalam peninjauan klasifikasi pasar modal tahunan akan diumumkan pada 23 Juni 2026. Hingga saat ini, Indonesia masih tercatat sebagai bagian dari kelompok Emerging Market, meskipun sejumlah catatan terkait transparansi, akses informasi, dan infrastruktur pasar masih menjadi perhatian investor internasional.

IHSG sendiri dibuka di level 6.161 dan sempat menguat di level 6.215. namun, hingga pukul 09.15 WIB, IHSG tercatat berada di lebel .135 atau turun 36,56 poin setara 0,59% dibanding penutupan sebelumnya di level 6.172. aktivitas perdagangan pada awal sesi terpantau cukup ramai. Volume transaksi mencapai 4,18 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2,72 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 279.400 kali.

Artikel ini akan diupdate sesuai perkembangan terbaru

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya