Menyiasati Ekspor Panel Surya yang Tertekan Tarif AS
Penguatan permintaan dalam negeri penting untuk menciptakan kepastian pasar sekaligus mendorong pengembangan industri panel surya nasional.
Penguatan permintaan dalam negeri penting untuk menciptakan kepastian pasar sekaligus mendorong pengembangan industri panel surya nasional.
Industri panel surya Indonesia dinilai perlu memperkuat pasar domestik dan memperluas tujuan ekspor agar tidak bergantung pada kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap produsen di kawasan ASEAN. Penguatan permintaan dalam negeri dinilai penting untuk menciptakan kepastian pasar sekaligus mendorong pengembangan industri panel surya nasional.
Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna mengatakan, penguatan pasar domestik dapat menjadi basis untuk mendorong peningkatan produksi PLTS dan komponennya di dalam negeri. Langkah tersebut diperlukan karena pasar panel surya global masih didominasi produk Tiongkok sehingga tidak mudah bagi produsen Indonesia menembus pasar ekspor.
“Secara praktis, tidak mudah menembus pasar yang sudah 80% didominasi Tiongkok sehingga fokus pada pasar domestik akan bisa menjadi modal untuk 'memaksa' semakin banyaknya produksi PLTS dan komponennya di dalam negeri,” ujarnya kepada SUAR, Rabu (30/9/2026).
Meski demikian, Putra menilai Indonesia tidak harus memproduksi seluruh komponen PLTS secara mandiri. Kompleksitas rantai pasok global membuat industri perlu memilih bagian rantai nilai yang paling berpeluang dikembangkan di dalam negeri.
“Sama seperti EV, tidak mungkin seluruh komponen bisa berasal dari dalam negeri karena kompleksitas supply chain dunia, dan Indonesia harus mampu menelisik sisi apa yang paling memberikan kesempatan di tengah persaingan, tidak hanya Tiongkok, tapi juga India dan negara ASEAN lainnya,” kata dia.
Putra juga menilai pasir silika dapat menjadi modal awal pengembangan industri panel surya, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri. Indonesia membutuhkan permintaan yang kuat serta rencana pendalaman industrialisasi agar pengembangan industri tidak berhenti pada pengolahan bahan dasar.
Baca juga:
“Pasir silika bisa jadi modal tetapi tidak akan cukup. Bergantung pada satu komoditas tidak akan berhasil tanpa disertai pembangunan demand dan rencana pendalaman industrialisasi yang matang,” ungkapnya.
Selain itu, Indonesia perlu bermitra dengan pihak yang memiliki kemampuan mengolah silika menjadi polysilicon dan produk turunannya. Tahapan tersebut membutuhkan modal besar dan merupakan bagian awal dari rantai komponen PLTS. Terakhir, ia menilai pengembangan industri juga membutuhkan peta jalan yang jelas dan kredibel.
“Belajar dari hilirisasi nikel yang setengah jalan, harus ada peta jalan yang jelas dan kredible. Harus ada ikatan antara insentif dengan kedalaman industri, jangan hanya memberikan insentif tetapi tidak mendorong pendalaman secara bertahap,” ungkapnyaa.
Sejalan dengan itu, Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai Indonesia memiliki peluang menjadi pemain ekspor panel surya, terutama di tingkat regional sebelum membidik pasar global yang lebih besar.
Kementerian Perindustrian mencatat 34 pabrik modul aktif dengan kapasitas sekitar 10,9 gigawatt (GW) per tahun. Sekitar 4,3 GW dari kapasitas tersebut diarahkan untuk ekspor. Di tengah pertumbuhan permintaan global, International Energy Agency (IEA) mencatat penambahan kapasitas surya dunia pada 2025 telah melampaui 600 GW.
Namun, Syafruddin menilai peningkatan kapasitas produksi belum cukup. Industri perlu memastikan biaya listrik kompetitif, skala produksi, kualitas, sertifikasi internasional, dan akses pasar.
“Faktor penentunya bukan sekadar menambah pabrik, melainkan memastikan biaya listrik kompetitif, skala produksi besar, kualitas konsisten, sertifikasi internasional, serta akses pasar yang jelas,” kata Syafruddin.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat rantai nilai dari ingot, wafer, sel hingga modul. Hal itu diperlukan agar ekspor tidak bergantung pada komponen impor.
“Jika kapasitas ekspor tumbuh tanpa integrasi teknologi dan produktivitas, Indonesia hanya menjadi lokasi perakitan,” jelasnya.
Tantangan tersebut semakin besar karena China masih mendominasi rantai pasok panel surya global. IEA mencatat China memiliki pangsa sekitar 95% pada produksi wafer, sementara harga modul dunia turun sekitar 50% sejak 2023.
Oleh karena itu, ia mendorong insentif berbasis kinerja yang dikaitkan dengan nilai tambah lokal, produktivitas, ekspor, riset dan pengembangan, transfer teknologi, serta pengembangan pemasok domestik.
Ia juga menilai pasar domestik perlu menjadi anchor demand melalui lelang PLTS yang transparan dan berskala memadai. Insentif, lanjutnya, perlu memiliki sunset clause dan evaluasi berkala agar industri terdorong meningkatkan produktivitas, bukan bergantung pada proteksi.