Pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hingga internet of things (IoT) mulai mengubah cara kawasan industri di Indonesia dalam beroperasi. Pemanfaatan teknologi ini dilakukan untuk berbagai macam hal mulai dari pemantauan arus lalu lintas, pengelolaan infrastruktur, hingga efisiensi pekerjaan administratif.
Pengelola kawasan industri pun tengah mengintegrasikan teknologi digital ini untuk meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus memperkuat daya saing kawasan di tengah tuntutan industri yang semakin kompetitif.
Pengelola kawasan industri juga butuh AI
Direktur Eksekutif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan, digitalisasi ini tidak hanya diterapkan oleh perusahaan tenant di kawasan industri dalam proses produksinya saja, tetapi pengelola kawasan industri juga sudah memanfaatkannya untuk kegiatan operasional, seperti AI untuk pekerjaan administrasi.
“Dari kantor kita juga ada menggunakan aplikasi AI di mana itu mengurangi pekerjaan administrasi sehingga staf yang sebelumnya pekerjaannya cukup monoton itu bisa mengerjakan pekerjaan lain yang lebih added value,” kata Juliani, Rabu (12/08/2026).
Dengan ini, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh pengelola kawasan industri pun dapat mengerjakan pekerjaan dengan nilai tambah yang lebih tinggi lagi. Selain itu, ada pula command center yang akan mengintegrasikan aktivitas sehari-hari di kawasan, dengan sistem yang dapat menangkap anomali seperti mendeteksi kemacetan di luar jam sibuk.
“Dan kita juga ada yang namanya nanti command center yang mana itu lebih terintegrasi dengan day to day kawasan industri. Jadi contohnya, kita bisa mendeteksi kemacetan di titik tertentu sementara itu bukan jamnya peak hour, nah itu kan bisa langsung terdeteksi dan kita bisa langsung mengurangi waktu kemacetan,” jelasnya.
Pemanfaatan IoT dalam memantau lingkungan
KEK Kendal juga telah memanfaatkan sistem pemantauan pasang-surut air laut berbasis Internet of Things (IoT). Sebagaimana diketahui, KEK Kendal sendiri berada di wilayah utara Pulau Jawa yang memiliki risiko terhadap perubahan ketinggian muka air.
Dengan pemantauan berbasis IoT, kondisi permukaan air laut pun dapat dipantau dan diketahui secara lebih cepat oleh pihak pengelola, sehingga pengelola kawasan industri dapat dengan cepat melakukan antisipasi terhadap potensi gangguan aktivitas dan operasional kawasan.
“Karena kita di utaranya Pulau Jawa, tentunya dengan ketinggian air laut pasang surut itu kan merupakan salah satu yang harus kita monitor, nah itu juga kita memasan IoT sistem di situ,” lanjut Juliani.
Penerapan teknologi digital ini juga sudah dilakukan oleh perusahaan yang beroperasi di dalam KEK Kendal. Juliani mengatakan, sudah terdapat perusahaan yang mengimplementasikan teknologi big data dan AI dalam kegiatan operasionalnya. Adopsi teknologi ini pun menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital juga sudah diterapkan oleh para pelaku industri di dalam kawasan.

Lebih ke upaya efisiensi dan optimalisasi
KEK Kendal yang mayoritas ditempati oleh sektor industri berorientasi ekspor, substitusi produk impor, hingga produk berteknologi tinggi, dibangun di atas lahan seluas 1.000 hektare. Namun dikarenakan tingkat okupansinya sudah penuh, KEK Kendal pun menaikkan total luas kawasannya menjadi 2.000 hektare guna menarik investasi baru dan memperkuat rantai pasok manufaktur.
Lahan seluas 2.000 hektare tersebut apabila masih dipantau secara manual pastinya akan membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Oleh karena itu, demi membantu mengurangi pekerjaan yang bersifat rutin sehingga personel dapat dialihkan untuk mengerjakan tugas lain, teknologi pun dimanfaatkan.
“Jadi 2.000 hektare itu kan sebenarnya kalau harus terpantau secara manual pastinya akan amat sangat memakan waktu, dan juga personel-personel lain itu bisa melakukan suatu hal yang lebih added value,” jelasnya.

Juliani menegaskan, penerapan teknologi digital ini bukan bertujuan untuk menggantikan tenaga kerja, tetapi lebih mendorong kepada penggunaan SDM secara lebih efektif. Pemanfaatan teknologi digital ini memungkinkan kawasan untuk beroperasi dengan secara lebih optimal, sementara SDM juga terus didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui peningkatan kemampuan.
Di sisi lain, transformasi digital ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, khususnya mengenai biaya.“Pengurangan tenaga kerja atau pemangkasan cost itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan digitalisasi. Tapi kita bekerja dengan cara yang lebih smart saja, dengan mengalokasikan manpower lebih ke skill yang mereka punya, ketimbang misalnya day to day admin yang tadinya bisa mengerjakan sesuatu yang lebih dari itu,” tegasnya.
Pengembangan konsep smart industrial park juga masih dilakukan. Saat ini, penerapan dan pemanfaatan dari teknologi digital dimulai dari pihak pengelola terlebih dahulu. Penerapan dan pemanfaatan teknologi juga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan aktivitas dari kawasan industri.
Pemanfaatan teknologi seperti AI dan IoT ini memang membantu kawasan industri dalam mempercepat proses pemantauan dan memberikan informasi secara real-time. Namun, tetap memiliki keterbatasan sehingga campur tangan manusia juga masih diperlukan. Maka dari itu, penerapan teknologi ini masih tetap membutuhkan kombinasi antara kemampuan manusia dan sistem digital.
“Jadi misalkan menggunakan teknologi AI untuk tahu ada kebocoran air, pasti AI bisa tahu kebocoran air itu ada di mana tapi kan belum bisa memberi tahu ke kita penyebabnya apa, ujung-ujungnya harus melihat drawing lagi sambungan-sambungannya ada di mana titiknya, kan tetap saja harus kerja manual juga,” ujar Juliani.
Bukan lagi pilihan, tapi sudah jadi kebutuhan
Penerapan teknologi digital juga sudah mulai terlihat di kawasan industri lain. Digitalisasi ini tidak hanya diarahkan untuk membantu aktivitas pengelolaan kawasan industri, tetapi juga untuk membangun ekosistem kawasan yang lebih terintegrasi. Salah satu contohnya dilakukan oleh Kawasan Industri Medan yang menggandeng TransTRACK untuk mengembangkan konsep smart industrial estate berbasis AI dan IoT.
Founder & CEO TransTRACK Anggia Meisesari menjelaskan, pihaknya sebagai perusahaan teknologi yang berfokus pada digitalisasi operasional armada kendaraan berbasis IoT dan AI tengah menjalin kerja sama dengan PT Kawasan Industri Medan (KIM) untuk mempercepat transformasi KIM menuju smart industrial estate yang lebih terintegrasi dan memiliki daya saing.
Kawasan industri sendiri dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, sehingga pengembangan ekosistem digital di kawasan industri ini menjadi semakin penting untuk memperkuat daya saingnya di tengah dinamika rantai pasok global.
“Digitalisasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan bagi kawasan industri untuk meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan daya saing,” ucap Anggia.

Ruang lingkup kolaborasinya mencakup berbagai inisiatif digital seperti smart transportation, smart logistic, AI safety, asset management, visitor management, smart parking, carbon emission monitoring, hingga digital command center. Dengan ini, penerapan teknologi AI maupun IoT pun menjadi semakin kuat di berbagai sektor strategis Indonesia yang mendukung transformasi industri menuju ekosistem transportasi dan logistik yang lebih efisien.
“Kami meyakini pemanfaatan AI dan IoT dapat menjadi fondasi bagi pengembangan kawasan industri yang lebih produktif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat menjadi model transformasi digital yang dapat direplikasi di kawasan industri lainnya di Indonesia,” sambungnya.
Digitilisasi, mesin pertumbuhan baru
Direktur PT Kawasan Industri Medan (KIM) Daly Mulyana menilai, digitalisasi di kawasan industri kini menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya tarik investasi dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan oleh pihak pengelola kawasan.
“Sinergi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan keselamatan transportasi serta logistik, tetapi juga menciptakan model bisnis baru melalui optimalisasi aset, digitalisasi layanan, serta pemanfaatan teknologi AI dan IoT. Kami meyakini kolaborasi ini akan memberikan nilai tambah bagi seluruh tenant, memperkuat daya saing KIM sebagai kawasan industri modern,” tambahnya.
Pemerintah juga sudah melihat digitalisasi ini sebagai mesin pertumbuhan baru, transformasi digital ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengembangan kawasan industri maupun yang berstatus KEK. Digitalisasi dan pemanfaatan AI dinilai dapat menjadi salah satu pendorong produktivitas.
Pemerintah juga mendorong para pelaku usaha khususnya di KEK untuk mengintegrasikan teknologi yang mendukung smart manufacturing dan adopsi industri 4.0.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, transformasi digital ini membuka peluang baru dalam meningkatkan investasi, produktivitas, dan daya saing nasional. Indonesia pun terus memperkuat ekosistem ekonomi digitalnya melalui pengembangan infrastruktur, AI, semikonduktor, maupun pengembangan talenta digital. Hal ini didukung dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai kuat.
Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh berbagai indikator makro yang tetap terjaga, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata global, inflasi yang terkendali pada level 2,88%, serta terus meningkatnya investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja.
"Pemerintah terus mendorong investasi melalui berbagai instrumen, termasuk pengembangan kawasan ekonomi khusus guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,"kata Airlangga dalam keterangannya, Rabu (05/08/2026).
Berbagai kolaborasi juga dilakukan pemerintah dalam hal pengembangan tata kelola AI global sekaligus membuka peluang lain di bidang teknologi digital. Saat ini, Indonesia harus menangkap momentum emas untuk menarik investasi dan peluang kolaborasi. Ketahanan energi nasional sendiri memegang peran penting dalam menopang perkembangan teknologi tersebut.
“Dengan energi kita dapat memperkuat digitalisasi, mendorong manufaktur, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memastikan keamanan siber tetap terjaga,” lanjutnya.
Tergantung kesiapan masing-masing pelaku industri
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, adaptasi teknologi ini kini bukan lagi sekadar nilai tambah bagi industri yang ingin bersaing. Lebih jauh dari itu, dalam persaingan industri global saat ini, penerapan teknologi menurutnya sudah menjadi kebutuhan dari industri.
“Teknologi yang semakin modern tentu menawarkan nilai tambah yang tinggi kepada sebuah produk industri. Mereka bisa lebih efisien dalam hal harga, kualitas produk lebih baik, dan bersaing dengan barang dari luar negeri. Maka, kebutuhan terkait dengan teknologi yang modern mutlak diperlukan,” kata Huda, Rabu (12/08/2026).
Penggunaan berbagai macam teknologi seperti AI pun dapat membantu operasional kawasan industri ataupun proses produksi dari pelaku industri dengan mengurangi potensi kesalahan dari manusia. Akan tetapi, tingkat adopsi maupun penggunaan dari AI dan otomasi ini tetap bergantung pada kesiapan dari masing-masing pelaku industri.

Tantangannya menurut Huda adalah soal kesiapan dari SDM dan teknologi dasar Indonesia yang belum berkembang secara signifikan.
“Jika industri smelter tentu tidak terlalu dibutuhkan adanya teknologi yang canggih. Tapi jika untuk mengembangkan industri medium-high manufactured pasti membutuhkan teknologi yang paling tinggi. Tapi sayangnya, industri kita belum ada yang menuju ke medium-high manufactured,” ujarnya.