Mengoptimalkan Dampak Ekonomi dari MotoGP Mandalika
Penyelenggaraan MotoGP menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan sport tourism di Indonesia.
Penyelenggaraan MotoGP menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan sport tourism di Indonesia.
Pemerintah dan pelaku usaha pariwisata tengah bersiap mengoptimalkan dampak ekonomi berantai dari penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP Mandalika) pada 9-11 Oktober 2026 mendatang di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengembangan sport tourism, mencakup industri olahraga, hingga mendorong beragam aktivitas perekonomian di sekitar destinasi penyelenggaraan ajang.
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir menjelaskan, nilai industri olahraga dan sport tourism secara global sangat besar, namun Indonesia baru menyumbang sekitar 0,5% dari nilai global yang sebesar USD 625 triliun atau baru sekitar Rp39,45 triliun.
“Dampak ekonomi dari MotoGP mencapai hampir Rp5 triliun, dan ini terus kita tingkatkan, target pengunjung tahun ini bisa 145 ribu, dan ini hal yang positif. Tapi jangan sampai event ini berjalan sendiri sehingga dampaknya bisa berdampak untuk daerah,” ucap Erick dalam Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika 2025 di Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu (30/09/2026).

Sebagaimana diketahui, Pertamina Grand Prix of Indonesia pada 2025 lalu menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia mampu menjadi destinasi sport tourism utama di Asia, dengan dihadiri lebih dari 140 ribu pengunjung di Mandalika. Jumlah penonton ini menjadi rekor tertinggi sejak MotoGP pertama kali digelar di Indonesia pada 2022.
Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, kesuksesan dari MotoGP Mandalika ini tidak bisa hanya berhenti di lintasan saja. Lebih dari itu, event ini harus mampu menggerakkan perekonomian nasional dengan kepuasan wisatawan yang tinggi dan dampak ekonominya yang turut meluas ke mata rantai dan berbagai wilayah di sekitarnya.
“Kita harus menghindari ketergantungan berlebih terhadap satu event saja, sebuah destinasi sport tourism yang matang adalah destinasi yang tetap hidup dan dikunjungi sepanjang tahun,” ucap Widiyanti.
Penyelenggaraan MotoGP Mandalika memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi daerah, nasional, dan juga masyarakat. Berdasarkan kajian dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencana Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara selama event MotoGP Mandalika mencapai Rp35,3 juta, sementara wisatawan nusantara Rp9,3 juta dan wisatawan lokal Rp3 juta.
Besarnya aktivitas ekonomi ini turut menciptakan sekitar 14 ribu kesempatan kerja serta membuka peluang bagi ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi. Dengan ini, MotoGP tidak hanya berperan sebagai ajang olahraga, tetapi menjadi katalis bagi pembangunan ekonomi dan pariwisata.
“Kita juga melihat semakin banyak produk wisata dalam bentuk pengalaman yang terbangun dengan sport tourism seperti di Sirkuit Mandalika ada paddock tour dan track day yang menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke lombok,” jelas Putri.
Meski memiliki potensi yang besar, pengembangan sport tourism juga masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu segera diatasi, agar berbagai peluang yang ada dari berbagai event seperti MotoGP Mandalika pada pekan mendatang ini bisa ditangkap dan dioptimalkan untuk perekonomian Indonesia.
Salah satu tantangannya, penyelenggaraan event olahraga selama ini cenderung masih terkonsentrasi di destinasi wisata unggulan saja. Pemerintah pun mendorong agar penyelenggaraan event dapat menyebar ke berbagai daerah dengan mengangkat potensi dan karakteristik lokal dari masing-masing daerah.
Selain itu, daya dukung destinasi juga perlu menjadi perhatian. Hal ini mengingat lonjakan kunjungan pada musim penyelenggaraan dapat memberikan tekanan terhadap ketersediaan akomodasi hingga berbagai infrastruktur pendukungnya.
“Profesionalisme pengelolaan dan juga pengelolaan risiko yang baik adalah syarat mutlak bagi penyelenggaraan event berskala internasional,” tegas Putri.

Pengembangan Mandalika ke depannya pun didorong untuk tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan MotoGP saja, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan lain yang dapat memperpanjang dampak ekonomi dari sebuah event.
Ia mencontohkan, Singapura sebagai negara tetangga telah menghadirkan berbagai agenda dengan memanfaatkan penyelenggaraan dari Formula 1. Pola tersebut pun dapat diterapkan di Mandalika, dengan demikian MotoGP dapat menjadi anchor event yang menarik lebih banyak kegiatan dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Baca juga:

“Kenapa tidak Mandalika supaya dalam satu minggu itu ada banyak event, kementerian-kementerian mungkin bisa bikin konferensi internasional di situ. Jadi jangan hanya balapan saja, supaya pembangunan fasilitas yang sudah dibangun ini tidak menjadi mangkrak,” jelasnya.
Pendekatan semacam ini juga sejalan dengan upaya dari InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) yang telah mengembangkan kalender aktivitas sepanjang tahun di Mandalika.
“Ini bukti sukses bahwa secara bulanan sudah profitable, kualitas aspalnya juga salah satu terbaik di dunia, pemandangannya terbaik, dan juga ada terus peningkatan kunjungan,” ungkapnya.
Pemerhati olahraga Fritz Simanjuntak menilai, Indonesia masih harus banyak belajar dari negara lain dalam penyelenggaraan sport event. Amerika Serikat pun dapat menjadi salah satu rujukan dalam melihat perkembangan industri olahraga, di mana industri tersebut di negaranya telah berkembang secara luas tidak hanya melalui penyelenggaraan event saja tetapi juga hingga menyentuh penjualan merchandise.
“Ada pertandingan tenis, bola basket, american football, dan penjualan merchandise. Pada dasarnya, Amerika adalah surganya industri olahraga,” kata Fritz.
Indonesia pun memiliki tantangan apabila ingin mendorong perkembangan dari industri olahraganya. Sebab, perkembangan industri olahraga ini menurutnya sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, ataupun Jepang, tingginya masyarakat atau tenaga kerja di sektor formal membuat mereka memiliki pendapatan yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan rekreasi seperti berwisata dan menyaksikan pertandingan olahraga. Hal ini berbeda dengan kondisi Indonesia di mana banyak masyarakat yang masih bergantung pada sektor informal.
Plt. Direktur Utama InJourney Tourism Development Corporation Ahmad Fajar menjelaskan, pengembangan Mandalika sejak awal telah dirancang untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih baik, sebuah destinasi wisata pun tidak cukup hanya menawarkan pemandangan dan daya tarik alam saja, tetapi harus didukung dengan layanan serta pengalaman yang berkualitas.
“Kita menciptakan Mandalika ini harus penuh terpakai. Kehidupan hotel-hotel bukan hanya saat MotoGP saja, tapi akan menjadi living destination. Olahraga ini harus menggairahkan ekonomi dan inklusif, ekosistem harus kita bangun,” ucap Ahmad.
ITDC sendiri terus mendorong agar dampak ekonomi MotoGP ini semakin besar. Salah satu perkembangan yang telah dilakukan menyambut datangnya MotoGP Mandalika 2026 adalah paket wisata MotoGP di Mandalika yang semakin kompetitif dibandingkan dengan penyelenggaraan MotoGP di Sepang, Malaysia.
Meskipun telah semakin kompetitif, peluang investasi di sektor pariwisata Mandalika dan Lombok menurutnya masih terbuka lebar, khususnya untuk pengembangan akomodasi. Hal ini seiring dengan tingginya jumlah pengunjung event yang belum diimbangi dengan kapasitas penginapan yang tersedia.
Saat ini, jumlah kamar hotel di seluruh Lombok diperkirakan baru sekitar 30 ribu saja, sementara pemerintah menargetkan jumlah penontong MotoGP Mandalika 2026 mencapai 145 ribu orang.
“Penerbangan pun harus kita tambah, Garuda juga sudah menambah penerbangannya sebanyak 66 penerbangan tambahan untuk selama MotoGP. Jadi yang kami inginkan adalah kami membangun ekosistemnya,” lanjutnya.
Pemilihan Mandalika sejak awal sebagai lokasi penyelenggaraan MotoGP juga diarahkan untuk mendorong pembangunan daerah di NTB. Keberadaan MotoGP telah secara signifikan membawa dampak di kawasan Mandalika dan juga wilayah sekitarnya melalui pergerakan wisatawan, masuknya investasi, serta aktivitas usaha yang ikut tumbuh.