Dalam siklus hidup ekonomi manusia, dengan membandingkan komponen konsumsi dan pendapatan, maka akan terdapat selisih, bisa surplus atau negatif. Selisih tersebut menjadi istilah yang disebut defisit siklus hidup ekonomi jika konsumsi lebih besar dibandingkan pendapatan.
Data BPS menunjukkan pada kelompok anak-anak (0-19 tahun) terdapat defisit per kapita sebesar Rp 35,90 juta, diikuti oleh kelompok lansia (61 tahun ke atas) sebesar Rp 21,67 juta. Sebaliknya, kelompok usia kerja (20-60 tahun) menjadi penopang utama dengan mencatatkan surplus (nilai negatif pada defisit) sebesar Rp 16,86 juta per kapita.
Temuan itu mencerminkan bahwa beban ekonomi nasional secara agregat sangat bergantung pada produktivitas kelompok usia kerja yang mampu menghasilkan pendapatan tenaga kerja rata-rata Rp 67,38 juta per kapita per tahun.
Menelisik berdasarkan pola konsumsi, terdapat perbedaan prioritas yang mencolok antar-kelompok umur. Konsumsi publik untuk pendidikan didominasi oleh kelompok anak-anak (Rp 4,83 juta per kapita), sementara konsumsi kesehatan mulai menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok lansia (Rp 1,33 juta untuk publik dan Rp 2,84 juta untuk privat).
Adapun angka konsumsi privat kelompok usia kerja yang mencapai Rp 45,43 juta per kapita menunjukkan daya beli yang masif di segmen ini. Namun, tingginya konsumsi privat selain pendidikan dan kesehatan pada semua kelompok umur yang secara agregat mencapai Rp 10.456 triliun, menandakan pasar yang luas untuk barang konsumsi umum, gaya hidup, dan kebutuhan rumah tangga primer.
Dalam konteks ekonomi yang lebih besar, data tersebut mencerminkan tantangan transisi demografi Indonesia. Pendapatan tenaga kerja agregat yang mencapai Rp 11.940,5 triliun sebagian besar berasal dari upah dan gaji (Rp 8.022,5 triliun), namun kontribusi dari berusaha sendiri tetap signifikan (Rp 3.918,1 triliun). Hal ini mengindikasikan struktur ekonomi yang masih sangat didorong oleh sektor formal maupun informal.
Gambaran di atas menunjukkan kelompok usia kerja produktif merupakan mesin pertumbuhan. Sementara, ketergantungan kelompok lansia yang mulai meningkat akan menggeser arah konsumsi menuju layanan perawatan (care economy) dan produk kesehatan berkualitas tinggi di masa mendatang.
Selain itu, pada kelompok muda (anak-anak), sektor pendidikan masih menjadi investasi terbesar, baik melalui jalur publik maupun privat. Total konsumsi pendidikan (agregat) yang mencapai Rp 923,6 triliun (gabungan privat dan publik), merupakan angka yang besar untuk pengembangan modal manusia (human capital). Bagi pelaku usaha di bidang edukasi dan teknologi, temuan BPS tersebut memvalidasi potensi pasar yang berkelanjutan.
Di sisi lain, fakta bahwa lansia memiliki pendapatan tenaga kerja sisa sebesar Rp 26,68 juta per kapita menunjukkan bahwa penduduk senior di Indonesia masih memiliki peran ekonomi aktif atau memiliki aset yang menghasilkan, bukan sekadar menjadi konsumen pasif.
Neraca Economic Life Cycle 2024 memberikan peta jalan bagi pemerintah dan dunia usaha untuk melakukan sinkronisasi strategi. Dengan total konsumsi agregat nasional mencapai Rp 13.024,4 triliun, pasar Indonesia tetap menjadi salah satu yang paling dinamis.
Ke depan, pemahaman mengenai bagaimana pendapatan berpindah dari kelompok usia kerja ke anak-anak dan lansia, baik melalui mekanisme keluarga maupun jaminan sosial akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas daya beli. Sektor usaha yang mampu beradaptasi dengan pergeseran pola konsumsi berbasis usia ini akan memiliki keunggulan dalam berkompetisi dalam menangkap peluang ekonomi di tengah perubahan struktur demografi nasional.