Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026 Tumbuh 5,47%
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 mencapai 5,47% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 sebesar 5,29% (yoy),
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 mencapai 5,47% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 sebesar 5,29% (yoy),
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 mencapai 5,47% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 sebesar 5,29% (yoy), atau tumbuh 1,59% secara kuartalan.
Pada triwulan III-2026, BPS mencatat besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku sebesar Rp6.741 triliun, sementara besaran PDB Atas Dasar Harga Konstan 2010 tercatat Rp3.363,2 triliun.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Mohammad Edy Mahmud menjelaskan, dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi triwulan III-2026 ditopang konsumsi rumah tangga sebesar 51,97% dari total PDB, tumbuh 5,04% (yoy). Porsi ini lebih rendah dibandingkan besaran konsumsi triwulan lalu sebesar 53,32%.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen investasi menjadi kontributor PDB dengan besaran andil 30,81%, tumbuh 6,06%. Sementara itu, pengeluaran belanja pemerintah stabil di level 7,28%, dengan pertumbuhan yang lebih terkendali ke level 8,95%.
"Komponen konsumsi pemerintah meningkat didorong realisasi belanja pegawai, serta belanja barang dan jasa. Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yakni 2,62%, diikuti PMTB sebesar 1,91%, dan konsumsi pemerintah 0,62%" jelas Edy dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Edy menjelaskan, konsumsi rumah tangga didorong pengeluaran kelompok restoran dan hotel yang tumbuh 6,59% seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi pada rumah makan dan restoran, mobilitas rumah tangga, dan berbagai event pertunjukan dan olahraga.
"PMTB tumbuh positif terjadi pada subkomponen kendaraan yang tumbuh 12,96%, baik yang berasal dari produksi domestik maupun impor. Pertumbuhan PMTB sejalan dengan peningkatan realisasi investasi BKPM sebesar 7,59%," imbuh Edy.
Sementara itu, dari aspek lapangan usaha, industri pengolahan masih menjaga status juara bertahan sebagai kontributor terbesar 19,22% dari total PDB, tumbuh 5,87% (yoy), dan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 1,20%.
Tiga industri utama yang mendorong pertumbuhan lapangan usaha ini adalah industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,90%, diikuti industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 8,10% dan industri logam dasar yang tumbuh 9,94%.
Capaian ini diikuti pertumbuhan lapangan usaha perdagangan sebesar 7,14% (yoy), informasi-komunikasi sebesar 7,13% (yoy), dan konstruksi 6,42% (yoy). Peningkatan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat di masing-masing sektor tersebut mendorong pertumbuhan ini.
Berdasarkan tingkat pertumbuhan, lapangan usaha akomodasi & makan-minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi 11,22%, didorong peningkatan hunian kamar hotel dan konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran.
Secara spasial, BPS mencatat pertumbuhan tertinggi kembali terjadi di kawasan Bali-Nusa Tenggara yang mencatatkan pertumbuhan 6,08% (yoy), di atas pertumbuhan ekonomi nasional, diikuti pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi, Jawa, Sumatra, Maluku & Papua, serta Kalimantan
"Sumber pertumbuhan utama kawasan Bali-Nusa Tenggara bersumber dari pertambangan, industri pengolahan, dan perdagangan, dengan Provinsi Bali mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 2,79%," imbuhnya.
Artikel ini akan dilengkapi pengayaan kemudian