Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

Negara yang berhasil maju adalah negara yang mampu meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, serta penguasaan teknologi secara berkelanjutan.

Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
Petugas melakukan perawatan panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian/hma/YU)
Daftar Isi

Sejumlah pakar menilai Indonesia perlu mempercepat transformasi ekonomi agar mampu menjaga pertumbuhan jangka panjang dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Salah satunya adalah dengan tidak menggantungkan kekayaan sumber daya alam (SDA).

Ekonom senior Raden Pardede mengingatkan negara-negara yang berhasil maju adalah negara yang mampu meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, serta penguasaan teknologi secara berkelanjutan.

"Negara yang maju sekarang itu selalu the productivity increasing rapidly, the skill of the people. Itulah yang mereka mendapatkan benefit dan prosperity yang sebenarnya. Itu yang lebih penting dari hanya sekadar berlimpahnya resources," kata Raden dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Selasa (19/05/2026).

Ia menjelaskan transformasi ekonomi menjadi syarat utama Indonesia dapat keluar dari middle income trap. Transformasi tersebut, kata dia, harus bergerak dari sektor pertanian menuju manufaktur dan jasa, sekaligus peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Raden Pardede dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (19/5/2026). (Foto: Tangkapan Layar Youtube SMBC)

Menurut Raden, Indonesia saat ini masih berada pada tahap mengadopsi dan menyebarkan teknologi asing atau infusion. Sementara tahap berikutnya yang harus dicapai adalah innovation dan invention, yakni kemampuan menciptakan produk baru dengan produktivitas tinggi dan penguasaan teknologi sendiri.

Raden mencontohkan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, hingga China yang berhasil melakukan lompatan ekonomi melalui industrialisasi dan peningkatan produktivitas.

"Indonesia belum, kita akan bertarung di sini. (Pendapatan per kapita) kita masih di US5.000 dolar per kapita. Yang kita harapkan adalah kita harus keluar dari US$14.000 dolar per kapita nantinya. Dan itu semua biasanya dibarengi dengan a solid industrial policy. Ini adalah bagian yang sangat penting, transformasi agriculture ke manufacturing ke service sector," katanya.

Raden menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini masih terletak pada struktur ekonomi yang belum ideal. Ia menyoroti sektor pertanian yang masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, sementara kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) justru menurun dibanding beberapa dekade lalu.

Ia menyebut kontribusi manufaktur terhadap ekonomi Indonesia pernah mencapai 25-26 % dari PDB, tetapi kini turun menjadi sekitar 19 %. Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja terbesar justru masih terjadi di sektor pertanian.

“Kalau makin banyak petani, itu menurut saya adalah kemiskinan daripada satu negara. This is our challenge. Kalau kita biarkan begini terus, we are not sustainable. Our growth will not be sustainable," katanya.

Tak terlena hilirisasi

Selain itu, Raden juga mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan hilirisasi berbasis sumber daya alam. Meski hilirisasi dinilai berhasil meningkatkan ekspor dan nilai tambah, Indonesia disebut masih belum menguasai teknologi inti.

Ia menilai ketergantungan terhadap sumber daya alam berisiko menimbulkan persoalan jangka panjang ketika cadangan mulai menipis. Raden bahkan mencontohkan sejumlah daerah berbasis tambang yang mengalami penurunan setelah sumber daya alamnya habis dieksploitasi.

Ia mencontohkan Sawahlunto di Sumatera Barat yang dahulu hidup dari industri tambang, namun kini kehilangan aktivitas ekonominya.

"I can predict, somehow Morowali could be like that over the next 50 years kalau tergantung kepada the natural resources. Ini yang ingin saya katakan, good, tetapi jangan terlena dengan ini," kata Raden.

Di sisi lain, Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat karena ditopang kekuatan domestik, mulai dari sumber daya manusia, sumber daya alam, hingga peningkatan pengetahuan dan teknologi.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya membangun growth mindset di tengah ketidakpastian global.

"Kalau mindset kita adalah mindset pesimis terus, we will never get anywhere. Jadi kita untuk tumbuh besar, selain kita punya sumber daya, kita punya kebijakan yang mengarahkan ke arah yang tepat, tapi juga kita harus punya
mindset untuk tumbuh bersama-sama," katanya.

Ia mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global ditopang kuatnya faktor domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi.

Ia menyebut ekonomi Indonesia pada kuartal I 2024 tumbuh 5,11 % secara tahunan (year-on-year/yoy), termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20. Pertumbuhan tersebut katanya terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 % dengan kontribusi mencapai 54,4 % terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96 % dengan kontribusi sekitar 28,3 % terhadap PDB. Sedangkan konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 % dengan komposisi 6,7 % terhadap PDB.

“Nah, jadi tiga hal utama ini yang pertama konsumsi rumah tangga domestik, lalu yang kedua investasi domestik, dan yang ketiga konsumsi pemerintah. Semuanya ini adalah faktor domestik,” ujar Herman.

Ia mengatakan besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi kekuatan utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Dengan penduduk Indonesia yang lebih dari 270 juta jiwa, ini menunjukkan betapa besar potensi domestik kalau diarahkan dengan mindset yang tepat.

"Oleh sebab itu, apapun sumber ketidakpastian yang berasal dari eksternal negara, kami meyakini bahwa segenap sumber daya di Indonesia, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya, dan sumber daya pengetahuan yang kita punya," katanya.

Pekerja menggarap revitalisasi Kali Cideng di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (18/5/2026).(ANTARA FOTO/Reno Esnir/fzn/kye)

Daya tahan ekonomi kuat

Sementara itu, Direktur Utama SMBC Indoesia Henoch Munandar mengatakan Indonesia masih mampu menunjukkan daya tahan ekonomi dan optimisme yang kuat di tengah gejolak global.

Menurutnya, stabilitas ekonomi nasional yang tetap terjaga, besarnya pasar domestik, serta agenda transformasi ekonomi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk tetap menjadi salah satu pusat pertumbuhan di kawasan.

"Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan penting di kawasan," katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Ia melihat pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi, sekaligus memastikan momentum pertumbuhan tetap terjaga.

Karena itu, ia menilai dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, sektor publik, dan swasta untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

"Kami melihat pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi, sekaligus memastikan momentum pertumbuhan tetap terjaga. Di tengah dinamika global, hal ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor publik dan swasta," katanya.

Baca selengkapnya

Ω