Setelah Margarin dan Es Krim, Unilever Lepas Teh Sariwangi untuk Fokus di Bisnis Inti

Menilik perhitungan bisnis dari divestasi bisnis teh Sariwangi yang dilepas Unilever. Ada apa di baliknya?

Setelah Margarin dan Es Krim, Unilever Lepas Teh Sariwangi untuk Fokus di Bisnis Inti
Grha Unilever di BSD. Foto: Dokumentasi Unilever
Daftar Isi

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) resmi mengumumkan divestasi bisnis teh perseroan dengan merek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) lokal yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Aksi korporasi ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement/BTA) pada Selasa, 6 Januari 2026.

Dalam keterbukaan informasi, Unilever menyebut nilai transaksi divestasi bisnis teh tersebut sebesar Rp 1,5 triliun. Nilai pengalihan bisnis itu disepakati di luar pajak yang berlaku. PT Savoria Kreasi Rasa ditegaskan tidak memiliki hubungan afiliasi langsung dengan Unilever Indonesia.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menyampaikan bahwa divestasi ini diyakini akan membawa dampak positif bagi pengembangan merek Sariwangi ke depan, sekaligus memperkuat fokus bisnis perseroan.

“Kami yakin transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis Sariwangi untuk fase pertumbuhan berikutnya. Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Benjie Yap dalam keterangan yang diterima SUAR, Kamis (8/1/2026).

Selain itu, penjualan bisnis teh dinilai memberikan ruang bagi Unilever untuk merealisasikan nilai investasinya di bisnis teh nasional dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang saham dalam jangka pendek.

“Serta berfokus pada bisnis inti perseroan yang tersisa guna meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” kata dia.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, nilai transaksi divestasi ini mencerminkan sekitar 45% dari total ekuitas Unilever Indonesia. Sementara itu, aset bisnis Sariwangi tercatat setara dengan 2,5% dari total aset perseroan.

Dari sisi kinerja, laba bersih Sariwangi berkontribusi sekitar 3,1% terhadap laba bersih Unilever, dengan porsi pendapatan mencapai 2,7% dari total pendapatan usaha UNVR.

Unilever juga menegaskan bahwa divestasi Sariwangi merupakan bagian dari strategi optimalisasi portofolio perusahaan. Langkah ini selaras dengan fokus Unilever untuk berkonsentrasi pada kategori yang lebih sedikit, namun memiliki skala besar dan peluang pertumbuhan berkelanjutan guna mendukung penciptaan nilai jangka panjang.

“Transaksi ini akan selesai setelah seluruh persyaratan penutupan yang umum terpenuhi, dan diperkirakan selesai pada semester pertama tahun 2026,” kata Benjie.

Di sisi lain, PT Savoria Kreasi Rasa bukan pemain baru di industri konsumer Indonesia. Perusahaan yang berada di bawah kendali Grup Djarum ini sebelumnya mengakuisisi merek permen Fox’s dari Nestlé pada September 2018. Sejak saat itu, Savoria aktif mengembangkan berbagai inovasi produk, mulai dari Fox’s Ice Mints, Fox’s Coffee World, hingga ekspansi ke produk non-permen seperti Fox’s Fusion Tea dan Fox Instant Puding.

Sejumlah produk dari Savoria. Sumber: Dokumentasi Savoria

Sebagai konteks, Savoria merupakan unit bisnis konsumer yang berada di bawah Grup Djarum, konglomerasi yang dikendalikan oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, dua orang terkaya di Indonesia. Dengan masuknya Sariwangi ke dalam portofolio Savoria, merek teh legendaris ini diharapkan memasuki fase pertumbuhan baru di bawah pengelolaan pemilik barunya.

Deretan bisnis yang dilepas UNVR

Divestasi Sariwangi bukanlah yang pertama. Pada 2018, Unilever Indonesia lebih dulu melepas bisnis margarin dan spreads dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,65 triliun. Sejumlah merek besar seperti Blue Band, Blue Band Master, Blue Band Gold, Minyak Sarimin, hingga Frytol resmi keluar dari portofolio UNVR.

Aksi tersebut sejalan dengan kebijakan Unilever global yang pada 2017 memutuskan menjual bisnis spreads dunia kepada perusahaan asal Amerika Serikat, KKR & Co, senilai US$ 8,04 miliar.

“Pada 15 Desember 2017, Unilever N.V. dan Unilever Plc menerima tawaran mengikat dari Sigma Bidco B.V. sehubungan dengan pembelian bisnis Spreads global milik Grup Unilever, termasuk aset kategori spreads di Indonesia yang dimiliki oleh Perseroan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (8/1/2026).

Baca juga:

Gemilang di 2025, Industri Makanan dan Minuman Jadi Harapan Penopang di 2026
Industri makanan dan minuman (mamin) terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung manufaktur Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Di tahun 2026, Industri mamin menjadi salah satu sektor industri yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tak berselang lama, Unilever Indonesia kembali melepas bisnis es krimnya. Perjanjian pengalihan bisnis es krim kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia ditandatangani pada 22 November 2024 dan terealisasi penuh pada Desember 2025. Nilai transaksi mencapai Rp 7 triliun, yang mencakup aset tetap senilai Rp 2,55 triliun, nilai buku bersih Rp 1,99 triliun, serta nilai persediaan Rp 172,79 miliar.

Manajemen UNVR sendiri menyatakan penjualan ini memungkinkan perseroan merealisasikan nilai investasi dan mengembalikannya kepada pemegang saham.

“Dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang sahamnya dalam jangka pendek, serta berfokus kembali pada bisnis intinya yang tersisa untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” kata manajemen.

Direktur Keuangan Unilever Indonesia saat itu, Vivek Agarwal, menjelaskan bisnis es krim memiliki karakteristik berbeda dibanding unit usaha lain, mulai dari distribusi hingga penyimpanan.

“Jadi itu adalah maksud dari pemisahan yang sedang dilakukan di tingkat global. Juga luas operasi ini akan dilakukan dan kami mencoba melakukan inovasi,” ujar Vivek.

Adapun bisnis teh Sariwangi sendiri telah menjadi bagian dari Unilever Indonesia selama lebih dari tiga dekade sejak diakuisisi pada 1989. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, nilai transaksi divestasi Sariwangi mencerminkan sekitar 45% dari ekuitas UNVR, dengan kontribusi aset sebesar 2,5% dari total aset, laba bersih 3,1%, dan pendapatan 2,7% terhadap kinerja perseroan.

Divestasi perkuat fokus bisnis inti

Keputusan Unilever untuk melepas merek teh Sariwangi kepada Grup Djarum dinilai sebagai langkah strategis untuk memperbaiki kinerja jangka panjang perseroan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai divestasi tersebut sejalan dengan upaya penyederhanaan portofolio dan penguatan fokus pada bisnis inti yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.

Menurut Nafan, Sariwangi bukan merupakan produk unggulan Unilever Indonesia dan kontribusinya terhadap pendapatan dinilai relatif kecil, bahkan berada di bawah dua digit. Dengan porsi yang tidak signifikan tersebut, Sariwangi tidak menjadi motor pertumbuhan utama bagi UNVR sehingga divestasi dianggap wajar dilakukan.

“Kalau kontribusinya kecil dan bukan produk unggulan, divestasi justru mempermudah perusahaan untuk fokus pada segmen utama yang peluang pertumbuhannya paling bagus,” jelas Nafan kepada SUAR.

Wisatawan menjelajahi kebun teh di Camping Ground Pinetrees, Sukawana, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (1/1/2026). Foto: Antara/Raisan Al Farisi/nz.

Nafan menambahkan, hasil divestasi Sariwangi dapat dialokasikan kembali sebagai modal untuk pengembangan bisnis yang lebih potensial, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan laba perusahaan secara lebih berkelanjutan. Langkah ini juga dinilai mendukung upaya Unilever untuk menjaga konsistensi kinerja dan keberlanjutan laba ke depan.

Selain Sariwangi, Nafan menyinggung langkah Unilever secara global yang telah memisahkan bisnis es krim, termasuk merek seperti Magnum. Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan konsistensi Unilever Indonesia dalam mengikuti strategi global induk usaha yang mengarahkan fokus ke segmen dengan margin dan prospek pertumbuhan lebih tinggi, seperti produk perawatan pribadi dan skincare.

“Ke depan, fokus ke personal care dan skincare tentu perlu dibarengi dengan inovasi produk serta distribusi yang lebih efisien dan efektif,” katanya.

Dari sisi prospek, Nafan menilai kinerja Unilever Indonesia masih berpeluang membaik dengan dukungan permintaan domestik yang relatif stabil. Selama inflasi terjaga dan daya beli masyarakat tetap solid, bisnis consumer goods dinilai masih memiliki fondasi yang kuat.

Ia juga menilai Unilever tetap memiliki daya tahan (resilient) di tengah ketatnya persaingan domestik, ditopang oleh kekuatan merek yang sudah mapan. Sementara isu boikot terhadap sejumlah produk dinilai mulai mereda dan tidak lagi menjadi tekanan signifikan.

“Secara prospek, harusnya masih bagus, selama konsumsi domestik terjaga. Dengan strategi fokus ini, kinerja Unilever berpotensi lebih solid ke depan,” tutup Nafan.

Sebagai informasi, saham UNVR terpantau menghijau pada penutupan perdagangan hari ini ke level 2.620 naik 0,77% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yakni 2.600.