Keberadaan infrastruktur rantai dingin (cold chain) menjadi tulang punggung yang menentukan daya saing produk Indonesia di kancah global. Berdasarkan data Instalasi Cold Storage Nasional 2024, dominasi kapasitas saat ini masih terpusat pada sektor logistik sejuk sewaan (rental cold logistics) yang mencapai lebih dari 1 juta posisi palet.
Namun, jika menelisik lebih dalam pada sektor-sektor produksi spesifik, angka instalasi masih tergolong sangat minim, seperti pada sektor produk susu (dairy food) dan hortikultura yang menunjukkan keterbatasan fasilitas pendingin di titik hulu produksi.
Ketimpangan kapasitas ini menciptakan risiko besar bagi keberlangsungan kualitas komoditas pangan. Sektor hortikultura, misalnya, hanya memiliki kapasitas sekitar 35.425 posisi palet, angka yang sangat kecil dibandingkan dengan total luas lahan dan volume produksi nasional. Padahal, penggunaan penyimpanan bersuhu rendah sangat krusial untuk memperlambat proses degradasi biologis pada produk yang dapat menyebabkan pembusukan.
Rendahnya pertumbuhan tahunan (yoy) pada sektor pemrosesan makanan laut yang hanya sebesar 4,8% juga mengindikasikan bahwa ekspansi infrastruktur belum mampu mengejar laju potensi ekspor perikanan Indonesia yang terus didorong oleh pemerintah.
Dalam lanskap regional Asia Pasifik, posisi Indonesia masih tertinggal jauh di bawah para pesaing di Asia Tenggara. Data perbandingan kapasitas menunjukkan Indonesia berada di urutan kelima dengan kapasitas sekitar 820.500 unit, kalah signifikan dibandingkan Thailand (1,46 juta unit) dan Vietnam (1,32 juta unit), apalagi jika dibandingkan dengan China dan Jepang.
Dari sisi luas wilayah dan keanekaragaman sumber daya alam, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang jauh lebih besar. Ketertinggalan ini mencerminkan adanya hambatan investasi dan distribusi infrastruktur rantai dingin yang belum merata, yang pada akhirnya dapat membuat produk ekspor kita kalah bersaing dalam hal kesegaran dan standar keamanan pangan internasional.
Ketergantungan pada logistik sewaan (pertumbuhan 48% yoy) menjadi anomali sekaligus solusi jangka pendek. Tingginya angka ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha lebih memilih menyewa daripada membangun instalasi mandiri. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh tingginya biaya modal dan operasional listrik untuk fasilitas cold storage.
Di sisi lain, sektor-sektor strategis, seperti daging merah dan ayam itik, tumbuh di bawah angka 12%, menandakan bahwa modernisasi penyimpanan di tingkat produsen berjalan lambat. Padahal, stabilisasi harga dan kualitas protein hewani sangat bergantung pada ketersediaan stok yang tersimpan dengan baik dalam fasilitas pendingin yang memadai.