Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Pulau Jawa tetap menjadi tulang punggung utama perekonomian nasional dengan distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 56,93% dan laju pertumbuhan yang solid di angka 5,3%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pusat aktivitas ekonomi, infrastruktur, dan konsumsi masih terkonsentrasi di Jawa, khususnya DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang secara kolektif menyumbang pertumbuhan terbesar melalui sektor industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi.
Meskipun Jawa mendominasi secara volume, Pulau Sulawesi mencuri perhatian sebagai wilayah dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi nasional, yakni mencapai 6,23%. Pertumbuhan impresif ini didorong secara signifikan oleh Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Keberhasilan Sulawesi menunjukkan efektivitas hilirisasi industri pengolahan yang dipadukan dengan sektor pertanian dan perdagangan. Hal ini membuktikan bahwa wilayah luar Jawa memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih cepat jika sektor manufaktur berbasis sumber daya alam terus dioptimalkan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, wilayah Maluku dan Papua menyajikan anomali data yang kontras. Secara kawasan, pertumbuhan wilayah ini berada di titik terendah yaitu 1,44%. Namun, jika dibedah per provinsi, Maluku Utara justru menjadi juara pertumbuhan nasional dengan angka 5,33%, berkat sektor industri pengolahan.
Kontradiksi tersebut terjadi akibat anjloknya pertumbuhan di Papua Tengah yang mengalami kontraksi dalam hingga -6,44%. Penurunan drastis ini menjadi sinyal adanya hambatan besar pada lapangan usaha utama di wilayah tersebut, yang menyebabkan rata-rata pertumbuhan kawasan timur melambat meski provinsi tetangganya sedang melaju pesat.
Sumatera dan Kalimantan menunjukkan performa yang cukup stabil di angka pertumbuhan 4,81% dan 4,79%. Sumatera tetap mengandalkan diversifikasi ekonomi antara industri pengolahan dan kekuatan tradisional di sektor pertanian serta perdagangan. Sementara itu, Kalimantan Timur menjadi motor utama di wilayahnya dengan pertumbuhan 2,39%, didorong oleh aktivitas industri dan perdagangan.
Secara kolektif, kedua pulau besar ini menyumbang sekitar 30% terhadap PDRB nasional, mempertegas perannya sebagai penyangga ekonomi di luar Jawa yang berbasis pada komoditas dan pengolahan hasil bumi.
Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 secara konsisten bersandar pada tiga pilar utama yaitu industri pengolahan, perdagangan, serta pertanian. Khusus untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara, sektor penyediaan akomodasi dan makanan-minuman tetap menjadi katalisator unik yang menjaga pertumbuhan di angka 4,87%.
Ke depannya, menjaga momentum menjadi tantangan di wilayah dengan pertumbuhan tinggi, seperti Sulawesi. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan intervensi kebijakan yang tepat untuk memulihkan wilayah yang mengalami kontraksi seperti Papua Tengah, agar visi pemerataan ekonomi nasional dapat tercapai.