Dorong Kontribusi Sektor Pariwisata Lebih Besar untuk Pertumbuhan Ekonomi
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6%, sektor pariwisata bisa diandalkan untuk berkontribusi lebih besar.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6%, sektor pariwisata bisa diandalkan untuk berkontribusi lebih besar.
Sektor pariwisata menjadi salah satu mesin akselerasi yang menjanjikan untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Dengan bentang alam dan kekayaan budaya yang luas dan beragam, Indonesia memiliki modal besar untuk menarik arus wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi pariwisata yang dimiliki tidak sekadar menawarkan pesona keindahan, tetapi juga menyimpan daya ungkit ekonomi yang juga besar jika dikelola dan diakselerasi dengan strategi yang tepat.
Ketangguhan sektor pariwisata sebagai salah satu kontributor ekonomi yang signifikan terekam dalam laporan Tourism Satellite Account Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan laporan tersebut, tren kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menunjukkan tren pemulihan pasca pandemi.
Pada tahun 2020, kontribusi sektor pariwisata sempat anjlok ke angka 2,23% atau senilai Rp 344,84 triliun. Namun, sektor pariwisata ini berhasil bangkit dan tumbuh hingga mencapai kontribusi 4,82% dengan nilai menembus Rp 1.067,28 triliun pada tahun 2024.
Angka tersebut hampir mendekati pencapaian pada saat sebelum pandemi, yakni 4,97% atau Rp 786,3 triliun (2019). Pertumbuhan pascapandemi menggambarkan bahwa pariwisata telah kembali pada jalurnya sebagai penyumbang triliunan rupiah yang berarti bagi PDB nasional.
Bahkan, di tahun 2024 lapangan usaha penyedia makanan dan minum memiliki kontribusi tertinggi dalam industri pariwisata dengan persentase mencapai 34,98%, disusul dengan penyedia akomodasi dengan persentase distribusi 18,40%. Sub sektor tersebut secara konsisten memiliki distribusi terbesar dalam nilai tambah industri pariwisata.
Lonjakan PDB sektor yang ditopang pergerakan konsumsi wisatawan ini menempatkan wisatawan nusantara (wisnus) sebagai pondasi terkuat perekonomian pariwisata lokal. Merujuk data BPS, pengeluaran konsumsi wisnus selalu mendominasi perputaran uang di sektorpariwisata setiap tahunnya.
Meskipun sempat terpuruk di angka Rp 674,51 triliun pada 2020, konsumsi domestik ini meningkat secara konsisten hingga mencapai puncaknya di angka Rp 1.954,26 triliun pada tahun 2024. Fakta ini menunjukkan bahwa kemampuan dan antusiasme masyarakat Indonesia untuk menjelajahi negerinya sendiri sangat tinggi. Kondisi ini menjadi benteng pertahanan ekonomi yang menjaga denyut nadi bisnis pariwisata lokal di berbagai daerah tetap hidup.
Di sisi lain, peran wisatawan mancanegara (wisman) juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Wisman bertindak sebagai katalisator pertumbuhan dan sumber devisa negara yang vital. Setelah mengalami kontraksi hebat dengan pengeluaran yang merosot tajam menjadi hanya Rp 12,64 triliun pada masa kelam tahun 2021, tingkat konsumsi wisman kini telah pulih seutuhnya.
Pada tahun 2024, angka pengeluaran wisman tercatat mencapai Rp 291,68 triliun, melampaui rekor tertinggi yang sempat terjadi di tahun 2019 dengan angka Rp 279,29 triliun. Pulihnya kepercayaan wisatawan global ini menjadi sinyal positif bahwa daya tarik pariwisata Indonesia di mata dunia telah kembali dan memberi angin segar bagi akselerasi perekonomian.
Melihat tren dari kontribusi PDB dan tingkat konsumsi wisatawan baik domestik maupun mancanegara, target pertumbuhan ekonomi 6% di tahun 2027 optimistis dapat tercapai. Sektor pariwisata dengan berbagai potensi dan daya tariknya telah terbukti menjadi mesin ekonomi yang tangguh dalam menghadapi krisis menumbuhkan pertumbuhan baru.
Dengan terus mengembangkan infrastruktur, mendorong promosi destinasi wisata dari potensi yang dimiliki, serta meningkatkan kualitas layanan dan tata kelola, pariwisata dapat bersiap menjadi katalis utama yang akan membawa Indonesia menuju lompatan ekonomi yang lebih tinggi.