Capaian Investasi Kuartal I-2026 di Tengah Dinamika Global

Realisasi investasi kuartal I-2026 tumbuh 7,2% secara tahunan. Sejumlah sektor mencatat kenaikan investasi seperti di sektor hotel dan restoran serta sektor jasa lainnya. Namun, sejumlah sektor lain mengalami penurunan investasi.

Capaian Investasi Kuartal I-2026 di Tengah Dinamika Global

Pada kuartal I-2026 ini, Indonesia mencatatkan performa realisasi investasi yang positif secara tahunan dengan total investasi senilai Rp 498,8 triliun. Meskipun secara kuartalan (q-t-q) mencatatkan perlambatan pertumbuhan tipis sebesar 0,4% dibandingkan dengan kuartal IV-2025, dilihat secara tahunan (y-o-y) pertumbuhan capaian di kuartal I ini mencapai 7,2% dibandingkan dengan kuartal I-2025. Di tengah kondisi geopolitik global yang memicu ketidakpastian, pertumbuhan positif tersebut memberi harapan perekonomian nasional tumnbuh stabil.

Pertumbuhan investasi secara tahunan yang mencapai 7,2% ini didorong oleh kontribusi yang seimbang dari kedua pilar utama investasi. Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat tumbuh sebesar 8,5% (y-o-y) dengan nilai Rp 250 triliun. Meski demikian, pertumbuhan PMA secara kuartalan tercatat turun -2,5% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 6,0% (y-o-y) yang mencapai Rp 248,8 triliun. Angka pertumbuhan tahunan tersebut juga selaras dengan pertumbuhan secara kuartalan sebesar 3,4% di kuartal I ini, setelah mencatatkan penurunan signifikan di kuartal IV-2025 yaitu -13,9% (q-t-q). Keseimbangan pertumbuhan PMA dan PMDN tersebut turut menjelaskan potensi Indonesia masih menjadi destinasi menarik bagi investor global maupun pelaku usaha domestik.

Secara sektoral, sektor perikanan mencatatkan peningkatan realisasi investasi signifikan dengan memimpin pertumbuhan kuartalan (q-t-q) sebesar 91% di Kuartal I 2026. Peningkatan ini terjadi setelah mengalami kontraksi pada periode sebelumnya. Secara tahunan, sektor hotel dan restoran serta sektor jasa lainnya menjadi sektor dengan pertumbuhan investasi tertinggi, masing-masing 87,6% dan 56,8%.

Pemulihan serupa juga terlihat pada industri kayu yang berhasil mencetak pertumbuhan tahunan 55,90%, membalikkan kondisi dari kontraksi dalam di tahun sebelumnya. Momentum ini juga diikuti oleh sektor properti dan kawasan industri yang mulai menggeliat kembali dengan pertumbuhan kuartalan sebesar 36,50%, menandakan kepercayaan investor yang mulai pulih pada aset riil di awal tahun.

Namun, penurunan investasi terjadi di sektor manufaktur strategis. Industri kendaraan bermotor mengalami tekanan ganda, yakni merosot 46,40% secara tahunan dan lanjut melemah 39,60% secara kuartalan. Penurunan ini menunjukkan kelesuan di ekosistem otomotif. 

Kondisi serupa terjadi pada industri kertas dan percetakan yang mengalami koreksi kuartalan paling tajam hingga -69%. Selain itu, sektor konstruksi, kehutanan, serta industri mineral non logam juga mencatatkan penurunan investasi.

Secara keseluruhan, tren data realisasi investasi menunjukkan adanya reorientasi modal yang cukup signifikan di awal tahun 2026. Sektor konstruksi, yang biasanya menjadi motor penggerak, kini mulai mengalami titik jenuh dengan penurunan secara kuartalan sebesar 58,9% setelah mencapai puncaknya di akhir 2025. 

Fenomena ini memberikan sinyal penting bagi para pemangku kebijakan bahwa meskipun sektor jasa dan pariwisata sedang berada di puncak performa, sektor industri pengolahan seperti otomotif, tekstil, dan kimia memerlukan perhatian khusus. Keseimbangan pertumbuhan antara sektor jasa dan industri manufaktur yang stabil akan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan arus investasi nasional sepanjang tahun 2026.

Baca selengkapnya

Ω