Pasar modal Indonesia belakangan menghadapi tantangan yang tidak hanya bersumber dari dinamika ekonomi global, tetapi juga dari isu domestik terkait integritas dan transparansi. Sejumlah kasus yang memicu pertanyaan publik mengenai praktik tata kelola emiten hingga kualitas keterbukaan informasi telah menekan kepercayaan investor, khususnya investor ritel.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa stabilitas pasar tidak cukup ditopang oleh kinerja indeks semata, melainkan juga oleh fondasi kepercayaan terhadap pelaku dan institusi pasar.
Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Lolita Liliana mengatakan di sisi eksternal, sorotan dari lembaga indeks global seperti MSCI turut mempengaruhi arus modal asing. Setiap perubahan kebijakan, klasifikasi, maupun evaluasi aksesibilitas pasar dapat memicu aliran dana masuk atau keluar secara signifikan.
Industri reksadana tahun lalu masih mencatat kenaikan, meski pertumbuhan lebih banyak ditopang produk pasar uang dan fixed income, terutama obligasi.
Kekhawatiran investor juga meningkat seiring perhatian lembaga pemeringkat internasional terhadap prospek fiskal dan utang pemerintah. Penilaian dari lembaga seperti Moody's, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings menjadi indikator penting risiko sovereign rating Indonesia.
“Potensi perubahan outlook atau penurunan peringkat dapat meningkatkan biaya pendanaan negara sekaligus menekan pasar obligasi dan saham secara bersamaan,” ujar dia dalam acara Best Mutual Fund Awards 2026 di Oakwood Suites, Jakarta (25/2/2026).
Di tengah tekanan tersebut, regulator domestik dituntut memperkuat pengawasan serta mendorong praktik tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel. Peran Otoritas Jasa Keuangan menjadi krusial dalam memastikan perlindungan investor sekaligus menjaga kredibilitas pasar. Upaya memperdalam basis investor domestik juga dinilai penting agar pasar tidak terlalu bergantung pada modal asing yang mudah keluar saat gejolak global meningkat.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pasar modal tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi oleh kekuatan struktur domestik secara keseluruhan.
Penguatan likuiditas lokal, peningkatan kualitas emiten, serta konsistensi kebijakan diyakini dapat menjadi bantalan menghadapi gejolak eksternal. Tanpa pondasi yang kokoh, pasar modal akan terus rentan terhadap kombinasi tekanan integritas internal dan sentimen global yang sulit dikendalikan.
Dana Kelolaan Industri Reksadana Meningkat
Vice President PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana menunjukkan pemulihan yang sangat signifikan dalam dua tahun terakhir. Setelah sempat menyentuh titik terendah sekitar Rp476 triliun pada April 2024, total dana kelolaan kini melonjak menjadi Rp675 triliun pada Januari 2026. Capaian tersebut sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high), menandakan kembalinya kepercayaan investor terhadap instrumen investasi kolektif ini.
Pemulihan tajam tersebut didorong oleh kombinasi faktor, mulai dari stabilisasi kondisi pasar keuangan, penurunan volatilitas global, hingga meningkatnya minat investor ritel.
“Produk reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap menjadi kontributor utama karena dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian suku bunga. Selain itu, digitalisasi distribusi melalui platform daring juga memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi,” ujar dia.
Baca juga:

Dari sisi regulasi dan pengawasan, peran Otoritas Jasa Keuangan turut memperkuat kepercayaan publik. Berbagai kebijakan perlindungan investor, transparansi kinerja produk, serta penguatan tata kelola manajer investasi dinilai membantu memulihkan reputasi industri setelah periode tekanan sebelumnya. Edukasi keuangan yang semakin masif juga membuat investor lebih memahami profil risiko dan tujuan investasi jangka panjang.
Meski demikian, pelaku industri mengingatkan bahwa pertumbuhan dana kelolaan harus diimbangi dengan kualitas pengelolaan dan diversifikasi produk. Ketergantungan pada jenis aset tertentu berpotensi menimbulkan risiko baru apabila terjadi perubahan kondisi ekonomi. Oleh karena itu, rekor tertinggi ini dipandang bukan hanya sebagai pencapaian, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat fondasi industri agar pertumbuhan dapat berkelanjutan.
Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Penting
Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan strategi utama untuk mendorong industri reksa dana adalah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat secara masif.
Otoritas Jasa Keuangan bersama pelaku industri perlu memperluas edukasi mengenai manfaat investasi, profil risiko, serta perencanaan keuangan jangka panjang melalui berbagai kanal, baik digital maupun tatap muka.
“Upaya ini penting karena masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa reksa dana dapat diakses dengan modal relatif kecil dan dikelola secara profesional. Peningkatan pemahaman diharapkan mampu memperluas basis investor ritel, terutama dari kalangan generasi muda dan kelas menengah yang terus tumbuh,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (25/2/2026).
Selain itu, digitalisasi layanan dan inovasi produk juga menjadi kunci pertumbuhan industri. Kemudahan pembelian melalui aplikasi, integrasi dengan perbankan dan dompet digital, serta transparansi kinerja portofolio akan meningkatkan kenyamanan dan kepercayaan investor.
Manajer investasi juga perlu menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan pasar, seperti reksa dana syariah, pendapatan tetap, atau berbasis tema tertentu. Dukungan kebijakan pemerintah, termasuk perlindungan investor dan stabilitas pasar, akan memperkuat ekosistem sehingga industri reksa dana dapat berkembang berkelanjutan dan menjadi salah satu motor pendalaman pasar keuangan nasional.