Presiden RI Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kerja ke Paris, Prancis perkuat posisi diplomatik dan ekonomi Indonesia di kancah internasional. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo menghadiri pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée guna membahas penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis.
Momentum itu sekaligus menjadi ajang peluncuran France–Indonesia High Level Business Council yang mempertemukan 30 pimpinan industri terkemuka dari kedua negara. Langkah diplomasi tersebut diproyeksikan akan menjadi katalis dalam mempererat hubungan bilateral, sekaligus membuka keran investasi yang lebih besar.
Tren pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) asal Prancis menunjukkan performa yang bagus dalam beberapa kuartal terakhir. Berdasarkan data realisasi investasi, komitmen pelaku usaha Prancis di Indonesia naik dari Rp 1.773,2 miliar pada kuartal III-2025 menjadi Rp 3.003,3 miliar pada kuartal IV-2025, dengan pertumbuhan kuartalan (q-to-q) mencapai 69,4% dan pertumbuhan tahunan (y-o-y) yang besar sebesar 242,6%.
Tren positif pertumbuhan PMA terus berlanjut hingga kuartal I-2026, di mana realisasi investasi menembus rekor baru sebesar Rp 3.283,2 miliar, tumbuh 9,3% (q-to-q) dan naik 141,4% (y-o-y). Angka-angka ini menjadi bukti bahwa kepercayaan investor Prancis terhadap terjaga melihat potensi ekonomi Indonesia.
Melihat peta persebaran investasi selama lima tahun terakhir (2022–2026), dinamika sektor unggulan Prancis di Indonesia mengalami pergeseran yang menarik. Sektor Industri Mesin, Elektronik, Instrumen Kedokteran, Peralatan Listrik, Presisi, Optik, dan Jam sempat mendominasi pada tahun 2022 dengan kontribusi sebesar Rp 1.297,2 miliar. Namun, dalam tiga tahun berikutnya, sektor Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran mengambil alih panggung utama
Sektor Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran konsistensi menggaet investasi yang selalu melampaui angka Rp 1,1 triliun per tahun. Lonjakan paling signifikan terjadi pada tahun 2025 di sektor Industri Kimia dan Farmasi, yang meroket tajam menjadi Rp 2.224,1 miliar dari yang sebelumnya hanya Rp 434,8 miliar pada tahun 2024. Pergeseran ini menunjukkan bahwa investor Prancis kini semakin jeli melihat hilirisasi industri dan sektor bernilai tambah tinggi di Indonesia.
Selain industri berat dan kimia, sektor tersier seperti perdagangan dan reparasi, serta hotel dan restoran juga menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Sepanjang tahun 2025, sektor perdagangan dan reparasi menyerap investasi Prancis sebesar Rp 821,1 miliar, disusul oleh sektor hotel dan restoran yang mencatatkan realisasi sebesar Rp 780,8 miliar.
Kehadiran investasi Prancis di sektor pariwisata dan gaya hidup ini tidak hanya memperkuat infrastruktur komersial nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Memasuki awal tahun 2026, akumulasi pergerakan dana di lima sektor utama ini tetap terjaga kuat, dengan sektor industri kimia dan farmasi memimpin realisasi tahun berjalan sebesar Rp 878,2 miliar, diikuti sektor perumahan dan kawasan industri sebesar Rp 715,5 miliar.
Melalui pondasi investasi yang sudah kokoh tersebut, forum bisnis tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron di Paris berhasil menargetkan perluasan kerja sama yang transformatif. Dari forum tersebut, Indonesia digadang telah mengantongi empat kesepakatan komersial baru dengan nilai total mencapai 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 56 triliun).
Bentuk perjanjian tersebut dikabarkan fokus pada tiga pilar utama, yakni ketahanan energi, ekspansi perdagangan, dan penguatan kerja sama pertahanan. Target dari kemitraan baru ini bukan sekadar mengejar angka nominal investasi, melainkan mendorong transfer teknologi, memperkuat kedaulatan energi nasional, serta memposisikan Indonesia sebagai mitra strategis utama Prancis di kawasan Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan geopolitik global di masa depan.