Bonus Demografi Buka Peluang Silver Economy bagi Industri Kesehatan
Peluang silver economy bagi industri kesehatan perlu ditangkap dengan mempersiapkan infrastruktur, tenaga kerja, hingga daya beli lansia.
Peluang silver economy bagi industri kesehatan perlu ditangkap dengan mempersiapkan infrastruktur, tenaga kerja, hingga daya beli lansia.
Meningkatnya populasi lansia di Indonesia akibat bonus demografi turut melahirkan silver economy, yang memberikan peluang besar bagi sektor kesehatan. Infrastruktur kesehatan dan sumber daya manusia perlu dipersiapkan sedini mungkin.
Kebutuhan permintaan terhadap layanan preventif, hunian ramah lansia, hingga tenaga keperawatan diperkirakan meningkat seiring perubahan demografi dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini turut didukung oleh gaya hidup sehat dan kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap kesehatan.

Komisaris Utama & Group CEO Mayapada Healthcare Jonathan Tahir menjelaskan, bertambahnya populasi lanjut usia (lansia) juga akan menciptakan kebutuhan baru yang dapat dikembangkan oleh industri kesehatan, salah satunya adalah menyediakan fasilitas senior living. Di sisi lain, permintaan terhadap tenaga keperawatan juga diperkirakan akan meningkat.
“Perawat itu bukan hanya perempuan saja, laki pun juga bisa. Keperawatan ke depan demand-nya akan sangat tinggi dan itu menurut saya juga menjadi hal yang menarik,” ujarnya dalam sebuah acara diskusi di Jakarta Pusat, Selasa (29/09/2026).
Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan, masih ada persoalan mengenai ketimpangan antara supply dan demand tenaga kesehatan. Keterbatasan jumlah dokter maupun perawat pun masih menjadi tantangan yang harus diatasi untuk menyambut peluang yang ada.
“Ada mismatch dalam supply-demand dalam spesialisasi dokter tertentu. Dalam keperawatan juga mungkin kurang bergengsi, itu juga menjadi pertimbangan mengapa dari sisi industri kesehatan kita masih kekurangan supply fresh graduate kedokteran dan juga perawat,” ungkapnya.

Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana menjelaskan, perubahan struktur penduduk saat ini perlu menjadi perhatian lantaran meningkatnya jumlah penduduk lansia akan membawa kebutuhan kesehatan yang berbeda. Indonesia saat ini telah memasuki fase baru transisi demografi yang ditandai dengan semakin panjangnya usia hidup masyarakat dan semakin kecilnya ukuran keluarga.
“Permintaan untuk layanan kesehatan ini akan menjadi sangat demanding. Kemudian perawatan jangka panjang juga, kalau masyarakat sehat tapi tetap perlu diawasi,” kata Dewa.
Menurutnya, Silver economy ini hanya akan menjadi peluang jika lansia memliki daya beli, dan daya beli tersebut pun harus dipersiapkan sejak usia produktif. Saat ini, kurang dari 5% lansia mendapatkan perawatan atau pengasuhan yang layak.
Menurut data yang ia himpun, jumlah penduduk lansia pada tahun 2025 tercatat sebanyak 33,8 juta dan akan meningkat menjadi 65,6 juta pada tahun 2045 mendatang. Adapun total biaya belanja kesehatan yang diserap lansia sebesar Rp190-260 triliun per tahunnya, dengan penyakit kronis memakan 70% dari total biaya tersebut.
“Pasarnya membesar, tapi daya belinya belum ada, bukannya tidak ada. Daya belinya ada, tapi ini harus dibangun, harus dibangkitkan kesadarannya. Potensinya memang besar di sektor kesehatan, belanja kesehatan kita terutama untuk kelompok lansia harusnya akan naik,” ungkapnya.
Dia menyatakan, Indonesia sebenarnya telah memasuki fase akhir bonus demografi seiring meningkatnya kembali rasio ketergantungan. Oleh karena itu, besarnya jumlah penduduk usia produktif ini harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan produktivitas agar bonus demografi tidak berubah menjadi beban di masa depan.
Komisaris Utama & Group CEO Mayapada Healthcare Jonathan Tahir mengatakan, peluang lainnya untuk sektor kesehatan ini muncul dengan adanya perubahan pola kebutuhan masyarakat yang semakin menempatkan kesehatan sebagai bagian penting dalam menjaga produktivitas.
“Menurut saya, peluang di sektor kesehatan ini sangat besar, kita lihat dengan banyak sekali masyarakat yang lebih aware mengenai kesehatan, pasti dari sisi industri diagnostik itu akan populer seperti lab, cek darah, bisa juga dari imaging dan juga genetic screening,” jelas Jonathan.
Bagi penduduk usia produktif, menjaga kesehatan kini semakin penting. Menurutnya, bonus demografi sendiri hanya akan memberikan manfaat bagi perekonomian apabila penduduk yang berada dalam usia produktif ini memiliki kondisi kesehatan yang baik sehingga mampu bekerja dan berkontribusi secara optimal.
“Silver economy akan terjadi dalam tahun-tahun yang akan datang, ini harus kita lihat apakah akan menjadi produktif atau menjadi beban, karena yang paling penting ketika usia bisa semakin panjang, kita perlu pastikan usia itu tetap harus menjadi usia yang sehat,” jelasnya.
Berbagai penyakit kronis sendiri saat ini telah muncul pada usia yang lebih muda. Berdasarkan data yang dicatat olehnya, kasus diabetes tipe dua pada kelompok usia 15-39 tahun saat ini telah meningkat 56%, sehingga penyakit metabolik ini mulai masuk ke usia produktif.
Selain itu, pada usia 25-39 tahun, hipertensi juga sudah mulai muncul hampir 18% sehingga risiko kronis ini bergerak lebih cepat. Begitu juga dengan kasus kanker yang meningkat 79% secara global sepanjang tahun 1990-2019. Deteksi kanker pada usia muda ini mengalami peningkatan secara global sehingga membuat screening atau deteksi dini menjadi semakin penting.
Jonathan menilai, preventive healthcare menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko kesehatan sekaligus mengantisipasi peningkatan biaya kesehatan di masa depan.
“Kalau kita bisa mendeteksi dini, ini akan menciptakan sebuah produktivitas, dan kita akan enjoy dari sekarang dan ke depannya,” ujar Jonathan.
Rumah sakit pun kini didorong untuk mengubah filosofinya, dari yang tadinya hanya sekadar melayani pasien orang sakit, menjadi membantu pasien untuk mencegah terjadinya penyakit. Langkah antisipatif melalui pencegahan penyakit ini harus dilakukan sejak dini agar penduduk tetap sehat dan produktif, seiring terjadinya perubahan struktur usia penduduk.
“Di rumah sakit sekarang banyak pasien muda yang datang, karena rumah sakit harus bisa menjadi service provider supaya memastikan masyarakat tidak sakit ke depannya. Preventive healthcare ini menjadi suatu tren bahwa benar anak-anak muda lebih aware untuk memastikan tidak sakit,” ungkapnya.