Realisasi Investasi Q1 2026 Rp498,8 Triliun, Waspada di Q2

Investasi tersebut diperkirakan mampu menyerap menyerap tenaga kerja sebanyak 706.569 orang.

Realisasi Investasi Q1 2026 Rp498,8 Triliun, Waspada di Q2
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengikuti rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026). 

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi pada Triwulan I 2026 sebesar Rp 498,8 triliun. Angka ini meningkat 7,2% dibanding periode yang sama tahun lalu, atau meningkat 0,4% dibanding triwulan IV 2025.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, realisasi investasi pada triwulan I 2026 ini menyerap tenaga kerja sebanyak 706.569 orang, atau tumbuh signifikan tumbuh 18,9% secara tahunan.

"Target investasi pada 2026 adalah Rp 2.041,3 triliun. Realisasi investasi pada Triwulan I 2026 kurang lebih 24,4% dari total target investasi pada tahun 2026 yang sebesar Rp 2.041,3 triliun," kata Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Realisasi investasi dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada tiga bulan pertama di 2026 ini nyaris berimbang, yakni PMA sebesar Rp 250,0 triliun atau 50,1% dan PMDN Rp 248,8 triliun atau 49,9%. Keduanya tumbuh masing-masing 8,5% dan 6,0% secara tahunan.

Selain itu, realisasi investasi di Jawa dan Luar Jawa juga cukup berimbang, yakni Rp 247,5 triliun atau 49,6% di Jawa dan Rp 251,3 triliun atau 50,4% di Luar Jawa. Masing-masing naik 7,9% dan 6,5% secara tahunan.

Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar investasi di Januari-Maret 2026 dengan realisasi sebesar Rp 69,4 triliun.

Disusul subsektor jasa lainnya Rp 64,2 triliun; pertambangan Rp 51,9 triliun; perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp 48,0 triliun; transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp 45,4 triliun.

Dari total realisasi investasi Rp 498,8 triliun pada Triwulan I 2026, sebanyak Rp 147,5 triliun atau 29,6 persen di antaranya berasal dari bidang hilirisasi.

"Capaian investasi yang berhubungan dengan hilirisasi cukup signifikan, meningkat 8,2% dibanding periode yang sama tahun lalu," tutup Rosan.

Belum terdampak krisis Timur Tengah

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani menilai realisasi investasi pada Kuartal I tahun 2026 sebesar Rp498,8 triliun sangat baik dalam mengawal pertumbuhan ekonomi nasional di 2026.

Menurutnya, capaian ini menunjukkan Indonesia masih diminati sebagai tempat investasi. Namun, realisasi investasi pada kuartal I dicapai tanpa ada tekanan geopolitik yang cukup kuat seperti saat ini, ketika terjadi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran di satu bulan terakhir kuartal I tahun 2026.

"Dampak konflik ini terhadap kegiatan ekonomi sektor riil pun sebetulnya agak tertunda (delayed effect) karena berbagai faktor. Misalnya krisis migas belum terjadi seperti saat ini, dan suplai migas masih berjalan berkat kapal-kapal tanker yang masih dalam perjalanan dan menunggu masuk ke negara tujuan," katanya kepada SUAR.

Begitu juga nilai tukar rupiah di kuartal I belum tertekan sedalam saat ini, dan mengubah semua perhitungan dan proyeksi beban usaha dan investasi di sektor riil.

Karena itu, ia menilai tekanan konflik geopolitik belum terlalu banyak mempengaruhi arus modal asing ke Indonesia maupun keputusan investasi pelaku usaha sektor riil nasional dan asing di Kuartal I tahun 2026 karena delayed effect tersebut.

Kondisi lebih menantang di kuartal II

Untuk realisasi investasi di kuartal II tahun 2026, Shinta memperkirakan kemungkinan besar akan berbeda, karena Indonesia sudah benar-benar terpapar dengan beban-beban konflik yang terjadi.

Apalagi, inflasi beban usaha yang bisa terjadi akibat konflik ini, kemungkinan masih akan meningkat karna konfliknya sendiri masih terus bergejolak atau semakin parah dan semakin meningkatkan cost of doing business secara global dan nasional. Akibatnya, pelaku usaha dan investor pun menahan diri dan menunda ekspansi usaha atau investasi.

"Karena itu kami proyeksikan Indonesia akan lebih sulit mencetak realisasi investasi di kuartal-kuartal berikutnya tahun ini kalau kita hanya mengandalkan iklim usaha atau investasi status quo," katanya.

Dalam kondisi tekanan-tekanan eksternal yang masih meningkat, sambungnya, Indonesia idealnya perlu menciptakan innovasi atau perubahan iklim usaha atau investasi yang substansial agar bisa mengkompensasi potensi realisasi investasi yang lebih menantang dan terus menstimulasi kinerja realisasi investasi yang baik di kuartal II dan seterusnya seperti kinerja di kuartal I.

Selain iu, perlu juga disadari bahwa secara objektif investasi per kapita di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara ASEAN lain, yang menerima Foreign Direct Investment (FDI) lebih rendah secara nominal, seperti Vietnam dan Thailand. Ini artinya investasi dicapai masih belum optimal sesuai dengan potensi ekonomi yang dimiliki.

Indonesia masih punya banyak potensi ekonomi yang belum digarap dan masih butuh banyak lapangan kerja di Indonesia. Untuk memastikan kebutuhan-kebutuhan pertumbuhan ini tercapai, menurut Shinta, diperlukan realisasi investasi yg lebih banyak.

"Kita perlu menjaga kinerja yang baik ini dengan inovasi-inovasi iklim usaha atau investasi yang sesuai dengan kebutuhan stimulasi realisasi investasi di tengah kondisi geopolitik yang kurang menguntungkan ini," katanya.

Perlu stimulus yang lebih agresif

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan, pertumbuhan realisasi investasi 7,2% (yoy) di kuartal I terlihat “baik di atas kertas”, tapi jika ditarik ke kebutuhan struktural ekonomi Indonesia, masih tergolong moderat, bahkan cenderung kurang ambisius.

Dengan target pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja yang besar, Indonesia butuh pertumbuhan investasi dua digit secara konsisten, bukan single digit yang fluktuatif.

"Jadi 7,2% ini lebih mencerminkan stabilisasi pasca tekanan global, bukan pemulihan solid. Dengan kata lain, mesin investasi sudah nyala, tapi masih di gigi dua belum masuk "overdrive"," katanya.

Untuk kuartal II, Ronny melihat ada peluang membaik dibanding kuartal I, tapi tidak akan ada lonjakan signifikan tanpa katalis baru. Biasanya kuartal II mendapat dorongan dari realisasi proyek yang tertunda di awal tahun dan akselerasi belanja, tapi faktor global masih jadi penahan, mulai dari suku bunga tinggi di negara maju sampai ketidakpastian geopolitik.

Ronny mengatakan jika tidak ada reformasi truktural tambahan atau stimulus yang lebih agresif, pertumbuhan investasi kemungkinan hanya naik tipis secara kuartalan.

"Jadi outlook-nya, sedikit lebih baik, iya. Tapi breakout performance? Belum tentu. Indonesia masih butuh dorongan kebijakan yang lebih berani kalau mau investasi benar-benar jadi lokomotif utama pertumbuhan," katanya.

Baca selengkapnya

Ω