Antara Junior, Superioritas dan Mentoring

Hubungan junior-senior di lingkungan kerja, seringkali jadi relasi love hate relationship. Tinggal bagaimana menjadikan hubungan itu produktif dan menguatkan.

Antara Junior, Superioritas dan Mentoring
Ilustrasi transfer pengalaman Photo by Gábor Szűts / Unsplash

Bagi banyak karyawan yang baru bergabung dengan sebuah perusahaan, tantangan di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan tugas, target, atau adaptasi terhadap budaya perusahaan. Ada satu aspek lain yang sering menentukan kenyamanan dan keberhasilan seseorang dalam berkarier, yakni bagaimana menghadapi dinamika hubungan antara senior dan junior.

Dalam praktiknya, hubungan ini dapat berkembang ke arah yang sangat berbeda. Di satu sisi, senioritas dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga. Namun di sisi lain, senioritas juga dapat berubah menjadi superioritas yang justru menghambat pertumbuhan profesional.

Memahami perbedaan keduanya penting bagi karyawan baru. Sebab tidak semua arahan dari senior merupakan bentuk pembinaan, dan tidak semua kritik merupakan bentuk dominasi. Kemampuan membaca situasi secara tepat akan membantu karyawan baru membangun relasi kerja yang sehat tanpa kehilangan rasa hormat maupun harga diri profesional.

Pada dasarnya senioritas adalah fakta objektif, bahwa seseorang memiliki masa kerja, pengalaman, atau pemahaman organisasi yang lebih panjang. Dalam kondisi ideal, pengalaman tersebut menjadi aset bagi tim. Namun masalah muncul ketika senioritas dijadikan sumber legitimasi untuk merasa lebih penting dibanding orang lain.

gray computer monitor
Photo by Patrick Tomasso / Unsplash

Hubungan superioritas biasanya ditandai oleh beberapa perilaku, misalnya pendapat junior selalu dianggap kurang bernilai. Sedangkan senior sering melakukan kritik ke junior nya namun dengan tujuan merendahkan, bukan memperbaiki.

Karyawan senior juga sering menggunakan senjata pengalamannya yang lebih panjang untuk membungkam diskusi. Sehingga  junior dituntut patuh tanpa diberi pemahaman. Jika junior melakukan kesalahan, itu akan terus diingat, sementara kontribusinya jarang diapresiasi.

Dalam hubungan seperti ini, fokus utama bukan lagi pengembangan kemampuan, melainkan pemeliharaan hierarki sosial. Senior ingin mempertahankan posisi simboliknya sebagai pihak yang lebih tinggi, sementara junior didorong untuk menerima posisi yang lebih rendah.

Fenomena ini sering berakar pada apa yang dalam psikologi organisasi disebut sebagai status anxiety, yaitu kecemasan terhadap hilangnya pengaruh atau pengakuan. Ketika seseorang merasa identitas profesionalnya terlalu bergantung pada status sebagai orang lama, muncul kecenderungan mempertahankan jarak dengan karyawan baru, demi menjaga posisi tersebut.

Namun, senioritas bukan berarti selalu berdampak negatif. Karena dalam senioritas ada fungsi yang membangun seperti aktivitas mentoring. Ini merupakan penggunaan pengalaman untuk membantu orang lain berkembang.

Seorang mentor tidak merasa terancam oleh kemajuan junior. Justru keberhasilan junior menjadi bagian dari keberhasilan dirinya sebagai pembimbing.

Dalam konteks hubungan mentoring ini, biasanya senior sering berbagai pengalaman sebagai bekal junior mengenali masalah yang kemungkinan bisa berulang. Misalnya senior menjelaskan alasan di balik suatu keputusan.

Dalam mentoring, kesalahan dijadikan sarana belajar, bukan alat mempermalukan, kemudian kritik disampaikan secara spesifik dan konstruktif, pertanyaan dihargai sebagai bentuk keingintahuan, pengetahuan dibagikan secara terbuka.

Dalam hubungan mentoring, pengalaman tidak digunakan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, melainkan untuk mempercepat proses pembelajaran orang lain.

Jika bertemu senior yang memiliki semangat mentoring, manfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin. Senior yang baik biasanya lebih senang membantu orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dibanding orang yang merasa sudah tahu segalanya.

Tidak semua pelajaran tercantum dalam prosedur kerja. Banyak pengetahuan praktis diperoleh melalui pengalaman yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Agar hubungan dengan mentor senior ini bisa stabil, maka perlu ada penghargaan waktu dan bantuan yang diberikan. Sikap profesional dan apresiatif akan memperkuat hubungan pembelajaran yang sehat.

Sebagai junior, juga jangan hanya menjadi penerima saja. Ketika sudah berkembang, tunjukkan hasil dari masukan yang diberikan. Mentor yang baik, biasanya merasa puas melihat dampak positif dari bimbingannya.

Di sisi lain, karyawan baru juga perlu memahami cara menghadapi perilaku superioritas senior tanpa terjebak konflik yang tidak perlu. Karena meski cara penyampaiannya kurang menyenangkan, terkadang masih ada informasi penting yang bisa dipelajari.

Ambil substansinya, abaikan nada yang tidak perlu, tetap profesional. Hindari reaksi impulsif yang justru memperburuk situasi. Profesionalisme sering menjadi perlindungan terbaik bagi reputasi jangka panjang.

Maka, bangunlah kredibilitas melalui kinerja. Di banyak organisasi, kualitas kerja yang konsisten pada akhirnya lebih kuat daripada permainan status sosial. Pelajaran yang bisa diambil, jangan bergantung pada satu orang.

Belajar dari berbagai senior, rekan kerja, maupun atasan akan membantu memperoleh perspektif yang lebih seimbang.

Selain itu, jangan meniru perilaku yang salah. Kesalahan terbesar seorang junior adalah meyakini, bahwa dominasi merupakan syarat untuk menjadi senior.

Budaya kerja yang sehat terbentuk ketika generasi berikutnya tidak mewariskan pola yang merugikan.

turned-on monitor
Photo by Blake Wisz / Unsplash

Dalam perspektif filosofis, filsuf Cina Confucius mengajarkan, orang yang lebih berpengalaman, memiliki kewajiban moral untuk menjadi teladan. Penghormatan kepada senior bukanlah hak yang diperoleh secara otomatis, melainkan hasil dari karakter dan kebijaksanaan yang ditunjukkan dalam tindakan sehari-hari.

Sementara pemikir dari Yunani kuno, Aristoteles berpendapat,  keunggulan manusia tercermin dari kemampuannya mengembangkan kebajikan, termasuk kemurahan hati dalam berbagi pengetahuan. Dalam konteks lingkungan kantor, pengalaman yang tidak dibagikan hanya akan menjadi aset pribadi, sedangkan pengalaman yang diwariskan dapat menjadi modal kolektif organisasi.

Pandangan ini relevan bagi dunia kerja modern. Senioritas yang sehat, tidak bertujuan menciptakan jarak, melainkan membangun kesinambungan pengetahuan antar generasi pekerja.

Sebagai pengingat ke karyawan baru, memahami perbedaan antara senioritas yang sehat dan superioritas yang berlebihan, merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan kantor. Senioritas pada hakikatnya adalah sumber pengalaman yang dapat mempercepat pembelajaran dan mengurangi kesalahan.

Namun ketika senioritas berubah menjadi alat untuk mendominasi, hubungan kerja berisiko kehilangan unsur saling menghormati dan saling belajar.

Pada akhirnya, senior terbaik bukanlah mereka yang paling sering mengingatkan orang lain tentang lamanya masa kerja mereka, melainkan mereka yang kehadirannya membuat rekan-rekan di sekitarnya tumbuh menjadi lebih kompeten, lebih percaya diri, dan lebih siap melanjutkan estafet pengetahuan dalam organisasi.

Sebab ukuran seorang senior bukanlah seberapa tinggi ia berdiri di atas juniornya, melainkan seberapa banyak orang yang dapat ia bantu untuk ikut bertumbuh.

Author

Baca selengkapnya