Amartha Sukses Dongkrak Pendapatan UMKM hingga Lebih dari 60%

Amartha juga telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan di puluhan ribu desa di kawasan Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat melalui aplikasi AmarthaFin.

Amartha Sukses Dongkrak Pendapatan UMKM hingga Lebih dari 60%
Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra bersama dengan UMKM perempuan mitra Amartha di Lampung. (Foto: Humas)

Amartha, sebuah perusahaan teknologi microfinance berhasil mendongkrak pendapatan 89% dari total usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaannya hingga lebih dari 60%, demikian menurut riset internal perusahaan.

Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan kesenjangan pendanaan masih menjadi tantangan besar bagi ekonomi nasional. Pelaku UMKM pun dihadapkan dengan kesenjangan akses pembiayaan, membuat Amartha turun tangan menyalurkan akses pembiayaan yang tepat sasaran sehingga mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata untuk para pelaku UMKM.

“Hasil Sustainability Report Amartha tahun 2025 menunjukkan bahwa 89 persen UMKM Binaan Amartha mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah mendapatkan akses pembiayaan,” kata Taufan melalui siaran pers yang diterima SUAR, Senin (20/04/2026).

Berdasarkan data, kebutuhan kredit UMKM di Indonesia sendiri diproyeksikan mencapai Rp4.300 triliun di tahun 2026. Tetapi di satu sisi, kapasitas pendanaan yang terakomodasi baru mencapai sekitar Rp1.900 triliun, sehingga masih ada financial gap sebesar Rp2.400 triliun.

Sejauh ini Amartha juga telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan di puluhan ribu desa di kawasan Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat melalui aplikasi AmarthaFin.

“Secara kumulatif, dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM Binaan Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa. Ini menegaskan bahwa pembiayaan inklusif bukan hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan,” lanjutnya.

Amartha yang telah berdiri sejak tahun 2010 lalu itu pun akan terus berupaya untuk memperkuat UMKM, sehingga menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Bagi Amartha, pembiayaan merupakan instrumen untuk memperkuat ekosistem usaha mikro sekaligus mendorong peningkatan kapasitas dan pertumbuhan di tingkat akar rumput. Ke depan, Amartha akan terus memperluas jangkauan layanan dan memastikan setiap penyaluran pembiayaan mampu meningkatkan daya saing usaha mikro di Indonesia,” tutupnya.

Dampak positif ini dirasakan secara langsung oleh Mama Redha, seorang nelayan dari Sumba yang merupakan mitra Amartha. Mama Redha mengatakan bahwa akses pembiayaan yang diterima olehnya itu pun telah mengubah cara dirinya menjalankan usahanya dan mendapatkan pendapatan.

Sebagai seorang nelayan, yang sehari-harinya dihadapkan dengan berbagai tantangan, pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun tak menentu. Maka dari itu, dengan bantuan Amartha ia berhasil mendapatkan kemudahan dalam akses pembiayaan sehingga ia berhasil membuka warung kelontong miliknya.

“Hasil laut tidak menentu karena bergantung pada cuaca dan pergerakan bulan. Saya sadar butuh pendapatan sampingan agar dapur tetap ngebul. Berkat modal tanpa agunan dari Amartha, kini saya memiliki warung kelontong yang menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga,” ucap Mama Redha.

Peningkatan pendapatan itu pun akhirnya membawa perubahan nyata dalam kehidupan para pelaku UMKM.

Dijelaskan oleh Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, penguatan akses pembiayaan ini merupakan salah satu faktor kunci yang mampu mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.

“Masih ada kesenjangan pembiayaan yang menunjukkan bahwa masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal. Ketika akses ini terbuka, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada kemampuan rumah tangga untuk lebih kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi,” tambah Huda.

Kehadiran teknologi finansial termasuk pinjaman daring pun membuat angka inklusi keuangan semakin meningkat. Dengan hadirnya perusahaan-perusahaan fintech lending seperti Amartha pun menghadirkan kemudahan untuk masyarakat dari sisi akses pembiayaan untuk usahanya.

“Kehadiran pinjaman daring membuat akses ke layanan keuangan menjadi terbuka lebar dan mendukung program peningkatan inklusi keuangan pemerintah. Di sisi lain, ekosistem keuangan di desa pun terdorong karena adanya pinjaman daring, seperti munculnya agen-agen produk keuangan di desa,” ungkapnya.

Baca selengkapnya

Ω