Sejumlah pakar menilai konsep kesehatan finansial atau financial health menjadi kunci utama agar para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu tetap bertahan dan terus berkembang, menjadikan sektor ini sebagai pendorong ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Direktur Ekonomi Digital Center of Law and Economic Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan kinerja UMKM justru masih tumbuh positif di tengah keadaan pertumbuhan ekonomi yang mengalami pelambatan dalam beberapa bulan terakhir.
“UMKM ternyata itu bisa kita bilang masih tumbuh positif dalam hal indeks produksinya. Ini berkebalikan dengan penyaluran kredit ke UMKM yang merosot, tapi satu sisi ternyata indeks produksi untuk industri mikro dan kecil itu masih tumbuh positif,” ucap Nailul Huda dalam Media Briefing Road to The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta Selatan, Rabu (20/05/2026).
Di Indonesia, kontribusi UMKM juga sangat signifikan. Hal ini terlihat pada tahun 2025 lebih dari 65,5 juta UMKM menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97% dari total angkatan kerja.
Tetapi di balik kontribusinya yang besar terhadap perekonomian, ternyata banyak pelaku UMKM yang masih menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan permodalan, tekanan biaya hidup, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan usahanya.
Masalah terkait permodalan ini masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM di Indonesia, padahal urusan permodalan menjadi salah satu cara efektif untuk bisa membuat UMKM tumbuh secara berkelanjutan.
“Fintech termasuk P2P lending dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat. Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM,” jelasnya.
Baca juga:

Financial health ini menggambarkan kemampuan seseorang atau keluarga dalam memenuhi kebutuhan harian, mengelola keuangan, menghadapi risiko, serta merasa percaya diri terhadap kondisi keuangannya di masa yang akan datang.
Menurut Huda, UMKM yang memiliki kondisi keuangan sehat tidak hanya mampu menjaga operasional usahanya tetap berjalan, tetapi juga bisa tetap melakukan pembayaran kewajibannya, mempertahankan pelanggan, hingga menjaga pendapatan rumah tangganya.
“Saya pribadi melihat financial health ini bagaimana UMKM bisa bertahan di kondisi ekonomi yang sedang memburuk misalkan, itu kan dibutuhkan sistem permodalan yang cukup, pangsa pasar yang tidak tergantung pada satu segmen saja, itu bisa seperti itu. Tapi yang pasti, adalah bagaimana mereka bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu,” ujarnya.
Huda menjelaskan, sulitnya akses pinjaman ke UMKM juga dialami oleh pengusaha UMKM perempuan yang sering kali
Berdasarkan Celios, permodalan merupakan tantangan terbesar yang dihadapi. Tantangan ini semakin besar untuk para pelaku UMKM perempuan, lantaran mereka sering kali memegang peran ganda sebagai pengelola usaha sekaligus pengelola keuangan keluarga.

Tak hanya modal
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Poppy Ismalina mengatakan, pemberdayaan perempuan ini perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akses permodalan saja.
“Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tetapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan, serta dapat mengakses produk keuangan digital dengan baik,” kata Poppy.
Pelaku UMKM perempuan pun menurutnya lebih resilien dalam menghadapi berbagai tantangan. Salah satu upaya efektif untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya untuk pelaku UMKM perempuan, adalah dengan melakukan peningkatan kemampuan dan pendampingan.
“Saya sepakat bahwa capacity building atau pelatihan dan pendampingan bagi perempuan itu masih sangat efektif, karena tidak sekadar mentransfer pengetahuan atau informasi, tapi kemudian yang dilakukan adalah melalui agen lokal, jadi lembaga-lembaga keuangan harus memiliki agen lokal yang dekat dengan perempuan pengusaha dalam melakukan pendampingan,” ucapnya.
Bagi Amartha Financial atau yang lebih dikenal dengan brand Amartha, perluasan akses keuangan ini perlu bergerak menuju dampak yang lebih dalam. Layanan keuangan digital yang dihadirkan pun tidak hanya membuka akses pembiayaan, tetapi juga membantu masyarakat akar rumput termasuk pelaku UMKM perempuan dalam mengelola keuangannya dalam membangun ketahanan finansial dalam jangka panjang.
Di kesempatan yang sama, Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto mengatakan, pendekatan kesehatan finansial menjadi bentuk keberlanjutan dari konsep inklusi keuangan.
“Oleh karena itu mendorong kesehatan keuangan perlu dilakukan oleh berbagai pihak tidak hanya oleh financial services provider seperti Amartha atau bank tapi semua pihak, karena financial health ini sebenarnya adalah tujuan akhir dari pengelolaan keuangan dari akses keuangan,” jelas Aria.
Pendekatan kesehatan finansial ini menjadi semakin penting demi memastikan inklusi keuangan benar-benar menghasilkan dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat akar rumput.
“Keberhasilan inklusi keuangan tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses produk keuangan, tetapi dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai tujuan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi,” ucapnya.
Apa saja elemen utama kesehatan finansial
Menurut Arya, ada sejumlah elemen yang harus terpenuhi agar seseorang atau dalam hal ini pelaku UMKM masyarakat akar rumput agar mencapai financial health, dimulai dari kemampuan dalam mengelola keuangan sehari-hari, memiliki tujuan keuangan yang jelas, hingga secara psikologis merasa aman dan tidak khawatir bagaimana nasib usahanya ke depan.
“Kalau kita punya faktor-faktor itu, maka kita bisa disebut sebagai orang yang sudah financially healthy, ini yang mendasarkan Amartha untuk mengembangkan produk-produk agar nasabah Amartha itu secara bertahap menuju tangga kesehatan keuangan,” kata Aria.
Amartha juga telah mendesain framework piramida financial health untuk membantu para UMKM perempuan. Langkah utamanya dimulai dari menghasilkan dan memperkuat kapasitas pendapatan, membangun cadangan keuangan atau tabungan, melakukan investasi, proteksi, hingga pada akhirnya menciptakan warisan kesejahteraan untuk generasi mendatang.
Hingga saat ini, Amartha telah menyalurkan lebih dari 46,38 triliun modal usaha kepada lebih dari 3,91 juta pelaku UMKM perempuan.
“Berita bagusnya, 9 dari 10 nasabah Amartha itu melaporkan peningkatan pendapatan, bisa mulai dari 5 persen atau bisa hampir dua kali lipat setelah diintervensi oleh Amartha,” ungkapnya.
Baca juga:

Sementara itu dalam beberapa kesempatan, Aria mengatakan Amartha telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp3 triliun sepanjang kuartal I-2026. Dana tersebut difokuskan untuk mendukung sektor produktif, terutama usaha mikro di pedesaan.
Aria menegaskan perusahaan tidak akan terlalu agresif dalam ekspansi pembiayaan tahun ini. Amartha lebih mengutamakan kualitas kredit ketimbang mengejar pertumbuhan cepat. Meski demikian, target kenaikan pembiayaan tetap dipatok hingga 20% dengan menjaga tata kelola dan seleksi nasabah secara ketat.
Untuk meminimalkan risiko, Amartha memperkuat pendampingan melalui petugas lapangan di desa-desa. Perusahaan juga mendorong peningkatan literasi digital agar pelaku usaha mikro mampu memperluas pasar lewat platform daring.
Setelah mengalami peningkatan pendapatan, Amartha juga melakukan pendampingan demi memastikan para pelaku UMKM bisa mengatur keuangannya. Dalam Amartha Sustainability Report 2025, 96% peminjam memperoleh keterampilan baru sejak bergabung dengan Amartha, 94% peminjam juga mengalami peningkatan pendapatan, dan lebih dari 90.000 peminjam berhasil merekrut karyawan mereka setelah mengakses pembiayaan sehingga hal ini tentu menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat.
Menegaskan pentingnya kesehatan finansial, Amartha juga mewujudkan komitmennya itu dalam menyelenggarakan The 2026 Asia Grassroots Forum bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health” yang digelar di Jakarta pada 3-4 Juni 2026 mendatang.
“Amartha mengajak mitra lintas sektor untuk berkontribusi mewujudkan solusi kesehatan finansial yang relevan dan dapat diterapkan secara luas. Di The 2026 Asia Grassroots Forum tahun ini, kami ingin memastikan layanan keuangan digital tidak hanya memperluas akses, tetapi juga memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput agar dapat tumbuh lebih berdaya dan berkelanjutan,” kata dia