PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menutup tahun 2025 dengan pertumbuhan penjualan dan laba bersih di tengah kondisi pasar fast moving consumer goods (FMCG) domestik yang relatif stagnan. Manajemen menyebut pasar offline pada kategori yang digeluti perseroan tercatat minus 1%, namun perseroan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan dan menstabilkan pangsa pasar.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan kinerja tersebut mencerminkan perbaikan fundamental yang dilakukan sepanjang tahun.
“Kami senang melihat pertumbuhan yang kami hasilkan meskipun pasar relatif flat. Portofolio kami yang beragam memungkinkan kami melayani konsumen dari berbagai lapisan daya beli,” ujar Benjie dalam paparan kinerja, Kamis (12/2/2026).
Sepanjang 2025, penjualan bersih dari operasi yang masih berjalan (continuing operations), tidak termasuk bisnis es krim dan Teh Sariwangi, mencapai Rp31,9 triliun atau tumbuh 4,3% secara tahunan.
Dari total tersebut, penjualan domestik mencapai sekitar Rp31 triliun atau naik sekitar 4% dibandingkan 2024, sementara penjualan ekspor tumbuh 16,5% menjadi Rp942,1 miliar.
Momentum pertumbuhan menguat pada kuartal IV-2025. Pada periode tersebut, penjualan domestik melonjak sekitar 17% menjadi sekitar Rp7,7 triliun–Rp7,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, UNVR mencatat pertumbuhan volume sebesar 1,2% dan pertumbuhan harga sebesar 2,8%.
“Penjualan domestik tumbuh secara stabil, dan bisnis ekspor kami terus menunjukkan kinerja yang baik. Selama sepanjang tahun, kami berhasil mencatat pertumbuhan volume sebesar 1,2% dan pertumbuhan harga sebesar 2,8%, menunjukkan pemulihan yang seimbang dan sehat,” kata Benjie.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih operasi berjalan tercatat Rp3,5 triliun atau naik 21,8% secara tahunan. Laba sebelum pajak untuk operasi yang masih berjalan meningkat menjadi 14,1%, naik 183 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya. Di luar biaya transformasi, laba sebelum pajak mencapai 16,3%.
Pada kuartal IV-2025, margin tercatat sebesar 41,7%. Efisiensi operasional juga tercermin dari peningkatan laba sebelum pajak sebesar 129 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jika memasukkan kontribusi dari bisnis yang dihentikan (discontinued operations), termasuk divestasi es krim dan Teh Sariwangi, laba bersih UNVR melonjak menjadi Rp7,6 triliun atau naik sekitar 126% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara total, penjualan perseroan, termasuk operasi yang dihentikan, mencapai Rp36,4 triliun atau tumbuh 3,5%. Earnings per share (EPS) tercatat Rp201 per saham setelah memperhitungkan dampak divestasi.
“Sepanjang tahun tersebut, kami juga mencatat pertumbuhan yang menggembirakan. Underlying volume dan underlying price masing-masing tumbuh 1,2% dan 2,8%, menunjukkan fundamental bisnis yang semakin menjanjikan,” ucap Benjie.
Manajemen menyatakan pangsa pasar berhasil distabilkan setelah sebelumnya mengalami tekanan. Volume pasar disebut tetap konsisten di level 26,1% pada paruh pertama 2025.
Transformasi bisnis UNVR sepanjang 2025 bertumpu pada penguatan 16 power brands yang menyumbang sekitar 75% dari total penjualan. Kelompok merek utama ini tumbuh 9,1% sepanjang tahun.
Perusahaan juga mempercepat pergeseran portofolio ke segmen dengan pertumbuhan lebih tinggi. Kontribusi high-growth segment meningkat dari 8% pada 2024 menjadi 9,8% pada 2025 atau naik 26,5%.
Untuk mendukung strategi tersebut, UNVR mengalokasikan belanja iklan dan promosi sebesar Rp2,7 triliun atau setara 8,5% dari penjualan bersih. Dalam lima tahun terakhir, porsi belanja media digital telah berlipat ganda.
“Kami kini fokus pada platform di mana konsumen menghabiskan waktu mereka—digital first, social first, dan creator-led communication,” tutur dia.
Pendekatan ini menghasilkan lebih dari 119 juta views dalam kampanye digital, meningkatkan engagement hingga empat kali lipat, serta mendorong penjualan hingga tiga kali lipat selama periode aktivasi.
Di sisi distribusi, direct coverage diperluas sebesar 21% dari kuartal IV-2024 ke kuartal IV-2025. Jumlah tenaga penjualan meningkat 20%, sementara optimalisasi assortmen di toko naik 80%. Aplikasi Sahabat Warung terus diperluas untuk memperkuat pemesanan dan visibilitas mitra dagang.
Fokus pertumbuhan juga diarahkan pada kanal masa depan, yakni e-commerce serta health and beauty. Kanal ini kini mewakili lebih dari 20% pasar dan tumbuh 20–25% dalam setahun terakhir. UNVR mencatat pertumbuhan 24% di kanal tersebut sepanjang 2025.
“Kami akan mendorong pertumbuhan di e-commerce dan health and beauty. Ini adalah area dengan ruang pertumbuhan yang masih sangat besar,” ungkapnya.
Divestasi dan Proyeksi
Sebagai bagian dari restrukturisasi portofolio, UNVR menyelesaikan divestasi bisnis es krim pada 2025 dengan nilai transaksi sekitar Rp7 triliun melalui pengalihan ke PT The Magnum Ice Cream Indonesia. Sementara bisnis Teh Sariwangi dilepas kepada PT Savoria Kreasi Rasa melalui perjanjian pada 6 Januari 2026 dengan nilai transaksi Rp1,5 triliun.
Untuk diketahui, Unilever menyelesaikan pemisahan bisnis es krim pada Desember 2025 dan menargetkan divestasi bisnis teh rampung pada Maret 2026.
“Dengan divestasi bisnis es krim dan teh, serta secara agresif merestrukturisasi basis biaya melalui berbagai intervensi, termasuk restrukturisasi biaya tenaga kerja,” ujar Benjie.
Baca juga:

Dampak restrukturisasi terlihat pada beban karyawan yang turun menjadi Rp1,78 triliun dari Rp2,17 triliun pada tahun sebelumnya. Jumlah karyawan berkurang menjadi 3.299 orang per 31 Desember 2025 dari 4.266 pada periode yang sama tahun lalu.
Terkait prospek 2026, manajemen menargetkan pertumbuhan di atas rata-rata pasar tanpa memberikan proyeksi angka spesifik.
“Strategi kami tetap sama, invest behind our power brands and future channels, dan tetap disiplin pada cost dan eksekusi. Kami bermain untuk menang, play to win,” ujar Benjie.
Kinerja kuartal I-2026 diperkirakan lebih moderat karena faktor Idulfitri yang jatuh lebih awal sehingga sebagian belanja telah terjadi pada kuartal sebelumnya. Kuartal II diproyeksikan lebih tinggi akibat pergeseran musiman tersebut dengan dampak sekitar 3%.
“Jadi pertumbuhan di atas rata-rata pasar tetap menjadi arah kami, dengan Q1 dan Q2 yang akan terdampak faktor seasonality dan timing, serta peningkatan bertahap pada margin operasional,” jelasnya.
Selain itu, UNVR memastikan pembagian dividen dengan payout ratio 100% dari laba tahun buku 2025 serta dividen tambahan satu kali dari hasil divestasi es krim dan Teh Sariwangi.
“Kami juga tetap memberikan dividen dengan payout ratio 100%. Selain itu, perusahaan juga membagikan dividen tambahan satu kali ke para pemegang saham dari hasil divestasi bisnis es krim dan teh Sariwangi,” jelas Benjie.
FMCG Dinilai Tetap Tumbuh di Tengah Pelemahan Daya Beli
Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai sektor produk konsumsi cepat saji atau fast moving consumer goods (FMCG) masih akan tumbuh defensif meskipun daya beli masyarakat tengah melambat.
Menurut Heri, karakter produk FMCG yang bersifat kebutuhan pokok membuat permintaannya relatif terjaga, seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan harian masyarakat.
“Iya, sektor yang diperkirakan akan tetap tumbuh pertama adalah produk-produk konsumsi yang sifatnya pokok atau produk utama seperti FMCG,” ujar Heri dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, meskipun tekanan terhadap daya beli terjadi, masyarakat tetap akan memprioritaskan belanja kebutuhan dasar.
“Kalau kita lihat ke pasar swalayan, kira-kira itu yang akan tetap tumbuh karena kan seiring dengan pertumbuhan populasi, penduduk, kemudian juga kebutuhan masyarakat, meskipun memang daya beli melambat, itu tetap mereka akan cari, tetap akan butuhkan,” kata dia.
Tidak hanya industri barang konsumsi, Heri menambahkan bahwa sektor-sektor turunan yang menopang rantai pasok FMCG juga berpotensi tetap bergerak, mulai dari perdagangan hingga logistik dan manufaktur.
“Jadi sektor-sektor industri yang terkait dengan FMCG seperti itu, dan juga sektor-sektor yang terkait lainnya, perdagangan, logistik, warehouse, dan seterusnya. Dan juga pabrik manufakturnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menyebut jika faktor musiman seperti Ramadan, Lebaran, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), serta momentum Tahun Baru Imlek masih menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi rumah tangga pada kuartal I setiap tahun.
Momentum tersebut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat dan menjadi bantalan awal bagi pertumbuhan ekonomi tahunan.
Josua menjelaskan peningkatan belanja rumah tangga pada periode awal tahun berkaitan erat dengan pola musiman yang berulang setiap tahun. Tambahan pendapatan dari THR serta kebutuhan konsumsi selama bulan puasa dan Lebaran membuat daya beli masyarakat cenderung meningkat.
“Seasonal faktornya, ya (masih jadi faktor pertumbuhan). Ada festive season. Tentunya dalam hal beli atau peningkatan spending masyarakat, belanja, cenderung meningkat pada saat adanya pembayaran THR. Jadi memang kita melihat kuartal I ini jadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini ya,” kata Josua.
Menurut dia, pola ini menunjukkan peran besar konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama produk domestik bruto (PDB). Pada periode Ramadan dan Lebaran, belanja masyarakat biasanya meningkat untuk kebutuhan makanan dan minuman, pakaian, transportasi, hingga perjalanan mudik. Sektor ritel, transportasi, serta jasa pariwisata umumnya merasakan dampak langsung dari lonjakan permintaan tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 4,87%. Periode tersebut bertepatan dengan momen Ramadan dan Lebaran. Angka tersebut mencerminkan kontribusi konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, meskipun berada di bawah capaian kuartal berikutnya.
Memasuki kuartal II 2025, pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi 5,12%. BPS mencatat penguatan tersebut didorong oleh konsumsi yang tetap solid serta investasi yang menunjukkan perbaikan. Josua menilai, untuk menjaga momentum setelah dorongan musiman mereda, diperlukan peran lebih besar dari belanja pemerintah.
“Di kuartal II tentunya ini menjadi salah satu harapan kita semua adalah bagaimana percepatan dari spending pemerintah ya, karena kan tidak mungkin pemerintah hanya mengandalkan pada seasonal faktor saja kan, pasti dia juga bagaimana memiliki harapan bahwa produktivitas dari program prioritas pemerintah ini pun juga bisa berdampak juga positif kepada pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Ia menambahkan, tanpa dukungan belanja pemerintah dan investasi, pertumbuhan berisiko melambat setelah efek musiman berakhir. Konsumsi rumah tangga memang menjadi bantalan awal, namun tidak cukup untuk menjaga ekspansi ekonomi secara berkelanjutan sepanjang tahun.
Dalam konteks ekonomi rumah tangga, Josua menjelaskan bahwa daya beli tidak hanya dipengaruhi oleh tambahan pendapatan musiman seperti THR, tetapi juga oleh kondisi ketenagakerjaan dan stabilitas harga. Aktivitas investasi memegang peran penting karena berkaitan langsung dengan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
"Kalau investasinya berkembang, bertumbuh, tentu kan semua akan ada pertumbuhan industri, pertumbuhan usaha, kan ada penyerapan tenaga kerja," ucapnya.
Josua juga menilai bahwa keberlanjutan pertumbuhan konsumsi rumah tangga memerlukan sinergi antara kebijakan fiskal, iklim investasi, serta stabilitas makro ekonomi.
Jika belanja pemerintah terealisasi lebih cepat pada kuartal II dan investasi terus menguat, maka dampaknya dapat memperkuat daya beli masyarakat di paruh kedua tahun berjalan.
“Secara historis, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam pola belanja masyarakat, baik akibat faktor musiman maupun struktural, akan berpengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.