Target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada 2026 dibayangi ujian struktural. Di tengah tekanan geopolitik global dan sorotan indeks internasional, otoritas mempercepat reformasi integritas dan tata kelola pasar modal guna memastikan fondasi bursa cukup kuat untuk menopang reli jangka panjang.
Pejabat Sementara Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan reformasi integritas pasar modal merupakan rencana strategis dalam menghadapi ketidakpastian global.
“Kita melihat bagaimana ketidakpastian ini juga akan mendorong flight to quality ke instrumen safe haven. Dalam situasi seperti ini, kita melihat bagaimana pasar negara berkembang kita dituntut untuk bagaimana menunjukkan fundamental yang kuat, sekaligus tata kelola yang kredibel agar tetap kompetitif dan menarik aliran modal asing,” ujar perempuan yang akrab disapa Kiki, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan eskalasi konflik di Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak global, terutama jika Selat Hormuz terdampak berkepanjangan. Jalur tersebut dilalui sekitar 30% perdagangan minyak dunia dan 20% LNG global. Kenaikan harga energi, menurutnya, dapat mendorong kebijakan suku bunga global bertahan tinggi lebih lama.
“Kenaikan harga minyak tentu akan direspons oleh The Fed dengan kebijakan ‘higher for longer’ dan mungkin melihat ini sebagai satu konsideran yang utama dalam menetapkan suku bunga,” kata Kiki.

Tekanan global tersebut tercermin di pasar domestik. Pada 28 Januari, IHSG sempat terkoreksi 7,35% dengan arus keluar dana asing (outflow) nonresiden mencapai Rp6,2 triliun dalam sehari, di tengah pengumuman sejumlah indeks provider dan lembaga pemeringkat yang mendorong akselerasi reformasi tata kelola.
Kredibilitas dan Kepercayaan Investor
Ketua Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun, menilai penguatan kredibilitas pasar modal menjadi kunci menjaga kepercayaan investor.
“Pasar modal Indonesia ini kan salah satu simbol wajah ekonomi Indonesia. Karena dari pasar modal itu, orang bisa mendeskripsikan tentang kepercayaan. Kepercayaan investor,” ujar Misbakhun.
Ia menegaskan sektor keuangan sangat peka terhadap berbagai isu, baik fundamental maupun nonfundamental. Dalam konteks globalisasi, keterlibatan investor asing memperkuat likuiditas, tetapi juga meningkatkan sensitivitas terhadap sentimen global dan penilaian lembaga seperti MSCI, Moody’s, dan lain sebagainya.
Misbakhun mengidentifikasi tiga indikator utama kekuatan ekonomi: bursa saham, surat utang negara, dan nilai tukar rupiah.
Tekanan tersebut, kata dia, muncul di tengah transisi pemerintahan. Namun fundamental ekonomi dinilai tetap solid dengan pertumbuhan stabil di atas 5%, cadangan devisa kuat, neraca perdagangan positif, serta current account terjaga. Meski demikian, sentimen tetap memengaruhi premi risiko dan pergerakan rupiah.
“Ketika tiga unsur kekuatan wajah ekonomi Indonesia ini diberikan tekanan, maka saya bilang our brand in the crisis. Brand kita ya saat ini, image kita begitu ya Pak. Yang dipertaruhkan nama negara Republik Indonesia,” kata dia.
Dalam konteks penguatan struktur, ia menyoroti pentingnya demutualisasi BEI. Dia menegaskan bahwa bursa yang kredibel tidak boleh dioperasikan oleh pihak yang memiliki kepentingan langsung dalam perdagangan, dengan kata lain, manipulator.
Delapan Rencana Menjawab Tantangan
Menjawab tantangan tersebut, OJK bersama BEI dan Self-Regulatory Organization (SRO) meluncurkan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal sebagai respons atas catatan indeks global, termasuk MSCI dan FTSE.
Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan langkah ini ditujukan untuk memperkuat kredibilitas pasar di tengah skala yang terus membesar.
“Tujuan akhirnya tentu sama dengan tema diskusi kita, mengembalikan pasar modal yang berintegritas dan tentu menjadi kredibel, terutama di mata para investor, baik investor retail dan institusi domestik maupun terutama investor asing, regional, dan global,” ujar Hasan.
Hingga akhir Februari 2026, kapitalisasi pasar mendekati Rp14.800 triliun, sempat menembus hampir Rp16.000 triliun atau lebih dari 71% PDB nasional. Jumlah investor melampaui 22 juta, dengan 9,2 juta investor saham. Nilai transaksi harian rata-rata tahun ini mencapai lebih dari Rp30 triliun per hari, tertinggi sepanjang sejarah, menjadikan BEI sebagai bursa terbesar di ASEAN.
Tak hanya itu, dia juga menyebut empat proposal utama menjadi kunci respons cepat. Pertama, peningkatan transparansi data kepemilikan melalui KSEI dengan memperluas granularitas identitas investor dari sembilan tipe menjadi 28 tipe. Sebanyak 97% data telah disesuaikan dan akan diumumkan berdasarkan data Maret, paling cepat pertengahan bulan ini atau awal April 2026.
Kedua, kewajiban keterbukaan kepemilikan saham diturunkan dari di atas 5% menjadi di atas 1%.
“Kita mereform konsep keterbukaan dari 5% menjadi di atas 1% dan mudah-mudahan apa yang kita berikan ini bisa memberikan semacam keterbukaan lebih kepada pasar modal Indonesia,” paparnya.
Ketiga, peningkatan bertahap batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15%. Keempat, penerbitan Shareholder Concentration List guna mengidentifikasi potensi konsentrasi kepemilikan.
Terkait isu indeks asing, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan komunikasi dengan MSCI dan FTSE berjalan konstruktif menjelang evaluasi Mei.
“Secara umum tadi sangat konstruktif, mereka sementara ini dapat menerima seluruh agenda proposal solusi yang kita sedang lakukan,” beber Jeffrey.
Ia menegaskan kunci reformasi adalah komunikasi, termasuk dengan emiten terkait rencana kenaikan free float.
“Tentu kami juga mendengar dari pelaku apa concern-nya dan bagaimana kita bisa bersama-sama mencarikan solusi. Jadi sebagai regulator tentu kami tidak hanya mengeluarkan aturan kemudian diikuti dengan sanksi,” kata dia.
BEI juga mengantisipasi tambahan suplai saham dengan mendorong peningkatan demand, termasuk menarik dana asing dan pelonggaran investasi saham bagi dana pensiun dan asuransi.
“Tentu pertama kita harus memitigasi bagaimana kita juga bisa meningkatkan demand. Ya dari apa yang kita lakukan selama ini dengan global indeks provider tujuan kita adalah supaya dana asing tidak hanya bertahan tetapi bertambah di pasar kita,” ujarnya.
Early Warning Lonjakan Investor Ritel
Lebih lanjut, lonjakan investor ritel turut menjadi faktor struktural. Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat mengungkapkan sepanjang 2025 terdapat tambahan 5,4 juta investor baru. Dari awal 2026 hingga pertengahan Februari saja, sudah ada 2,5 juta investor baru.
“Itu adalah potensi tambahan demand yang luar biasa,” ujar Samsul.
Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi fondasi dari pasar modal. Dia menyinggung sejak tahun 2012 lalu implementasi Single Investor Identification (SID) digunakan sebagai basis penguatan struktur data pasar modal.
Kendati demikian, di tengah optimisme tersebut, pelaku pasar mempertanyakan kesiapan struktur menuju IHSG 10.000. Misbakhun menyinggung volatilitas indeks yang sempat melonjak dari 6.700 hingga menembus 9.000 sebelum terkoreksi.

Hasan juga menegaskan reformasi ditempuh melalui respons cepat dan pembenahan struktural jangka panjang, termasuk menghadirkan investor forum dan investor desk untuk menampung masukan sebelum berkembang menjadi isu yang memengaruhi investabilitas.
“Kami akan menghadirkan percepatan reformasi integritas ini secara struktural dan komprehensif untuk pasar modal tembus 10.000,” ungkap Hasan.
Tiga Pilar Penopang Stabilitas
Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani, berharap momentum reformasi pasar modal saat ini benar-benar dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan jangka panjang, memperdalam pasar, dan memperkuat koordinasi kebijakan lintas otoritas.
Menurutnya, kualitas tata kelola (governance), harmonisasi regulasi, serta komunikasi yang solid dengan investor global menjadi kunci agar pasar modal Indonesia lebih kredibel dan tangguh menghadapi shock eksternal.
“Transformasi ini sudah mengarah pada best practice internasional. Potensi pasar investor domestik masih sangat besar, begitu juga kualitas emiten, terutama di indeks LQ45. Tinggal bagaimana seluruh kebijakan disampaikan secara harmonis dan tidak membingungkan pelaku usaha maupun investor,” ujar Aviliani.
Ia menekankan bahwa stabilitas pasar modal bergantung pada sinergi tiga pelaku utama perekonomian: pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat/investor.
Regulator, menurutnya, harus memastikan kebijakan konsisten dan terkoordinasi. Emiten wajib meningkatkan transparansi serta kualitas laporan keuangan. Sementara investor akan berperilaku lebih rasional apabila memperoleh informasi yang jelas dan tidak kontradiktif.
“Kalau informasi tidak membingungkan dan kebijakan harmonis, pelaku usaha dan investor akan berperilaku normal. Mereka akan terus berinvestasi tanpa rasa takut berlebihan,” kata Aviliani.
Di tengah momentum reformasi dan rencana penguatan struktur pasar, ia berharap pasar modal Indonesia tidak hanya fokus pada respons jangka pendek terhadap volatilitas, tetapi membangun fondasi institusional yang kuat untuk menghadapi potensi guncangan global beberapa tahun ke depan.
“Kepercayaan itu dibangun dari konsistensi. Reformasi ini harus dijalankan utuh, bukan hanya saat momentumnya ramai,” ujarnya.