Muara Lesan, 31 Juli 2026 – Madu kelulut yang dihasilkan lebah tanpa sengat (Trigona spp.) memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat Kesehatan. Karena mengandung antioksidan, flavonoid, dan senyawa fenolik yang berpotensi membantu menjaga daya tahan tubuh, mengurangi peradangan, serta mendukung kesehatan pencernaan dan penyembuhan luka. Selain bernilai kesehatan, budidaya lebah kelulut juga berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem karena berperan sebagai penyerbuk alami berbagai tanaman. Meski demikian, madu kelulut tetap menjadi pelengkap pola hidup sehat dan bukan pengganti pengobatan medis.
Potensi tersebut dikembangkan masyarakat Kampung Muara Lesan melalui Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang dijalankan PT Anugerah Agung Prima Abadi (AAPA), anak usaha PT Triputra Agro Persada Tbk. Melalui program ini, masyarakat memperoleh alternatif sumber pendapatan dari hasil hutan bukan kayu. Dengan demikian, menjaga hutan tidak lagi sebagai upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pelaku UMKM berbasis potensi lokal agar memiliki akses pasar yang lebih luas. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman menilai, di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan pasar domestik melalui peningkatan konsumsi produk lokal menjadi salah satu strategi penting menjaga perekonomian nasional.
Melalui Program DMPA, TAP Untuk Negeri membantu membuka akses pasar bagi madu kelulut produksi masyarakat dengan memasarkan melalui koperasi karyawan AAPA. Langkah tersebut memberikan kepastian pasar bagi produk lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Inisiatif tersebut menjadi langkah awal untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
Sebagai langkah awal memperluas pasar, madu kelulut dipasarkan melalui koperasi karyawan AAPA tersedia dalam kemasan 75 ml dan 100 ml. Produk tersebut kini dapat diakses oleh masyarakat maupun karyawan perusahaan sebagai bagian dari dukungan terhadap produk lokal hasil binaan masyarakat.

Ketua Kelompok Madu Kelulut Muara Lesan, Lasiman, mengatakan selama ini tantangan utama yang dihadapi kelompok bukan pada proses produksi, melainkan pemasaran.
"Sebelumnya kami kesulitan memasarkan hasil panen. Sekarang madu kelulut sudah bisa dipasarkan melalui koperasi karyawan SLE sehingga kami lebih semangat menjaga kualitas produk dan mengembangkan usaha ini," ujarnya.
Kehadiran koperasi karyawan AAPA sebagai mitra pemasaran diharapkan dapat memperluas peluang pemasaran produk masyarakat. Dengan adanya akses pasar yang lebih jelas, masyarakat memiliki insentif untuk terus menjaga kualitas produk dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Budidaya madu kelulut bukan hanya tentang menghasilkan madu, tetapi juga membangun kesadaran bahwa menjaga hutan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semakin lestari hutan, semakin baik habitat lebah kelulut, sehingga manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat pun dapat terus berkelanjutan.
Melalui DMPA, TAP Untuk Negeri mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal yang selaras dengan pelestarian lingkungan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan karhutla tidak hanya dilakukan melalui patroli dan pengawasan, tetapi juga dengan menciptakan sumber penghidupan yang memberikan manfaat ekonomi dari hutan yang tetap lestari. TAP percaya desa-desa di sekitar wilayah operasional dapat tumbuh menjadi komunitas yang mandiri, sejahtera, sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia.