Perkembangan terkini di dunia saham, termasuk kinerja emiten, tren pasar, dan kebijakan yang memengaruhi pergerakan investasi.
Momentum pembagian laba emiten berkapitalisasi besar berpotensi menjaga likuiditas pasar dan menjadi katalis positif dalam jangka pendek. Ini bisa jadi faktor pendongkrak kinerja pasar modal di tengah tekanan eksternal tensi geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pakar nilai lonjakan minat investor domestik maupun internasional perlu diimbangi dengan sistem perlindungan yang jelas dan kuat. Tanpa hal tersebut, kepercayaan investor berpotensi terganggu dan dapat menghambat pertumbuhan pasar.
Pasar modal Indonesia melewati kuartal pertama (Q1) tahun 2026 dengan dinamika yang cukup kontras. Optimisme yang terbangun di awal tahun seketika diuji oleh eskalasi konflik di Timur Tengah pada bulan Maret.
Mulai dari transparansi kepemilikan saham hingga kebijakan baru besaran minimal free float saham sudah dijalankan.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap Israel, memperburuk kekhawatiran pasar.
Mampukah rentetan buyback dari emiten ini bisa mendongrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan perdana pasca libur Lebaran, Rabu (25/3/2026)?
Di tengah reformasi tata kelola yang tengah berjalan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali harus dihantam pukulan ganda dari ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran ditambah vonis negatif dari lembaga pemeringkat Fitch.
Di tengah tekanan geopolitik global dan sorotan indeks internasional, otoritas mempercepat reformasi integritas dan tata kelola pasar modal guna memastikan fondasi bursa cukup kuat untuk menopang reli jangka panjang.
Upaya percepatan akan dilakukan melalui Satgas yang dibentuk bersama pemerintah, di samping kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang saat ini sedang ditindaklanjuti secara internal.
Pasar modal Indonesia belakangan menghadapi tantangan yang tidak hanya bersumber dari dinamika ekonomi global, tetapi juga dari isu domestik terkait integritas dan transparansi.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 267 emiten masih memiliki porsi saham beredar di publik di bawah 15%. Rencana kenaikan ini akan meningkatkan kebutuhan pasokan saham di pasar sekunder secara signifikan.
OJK bersama BEI melanjutkan reformasi pasar modal. Caranya memberikan sanksi bagi manipulator saham, menjelaskan aturan baru free float, dan transparansi kepemilikan saham.
Menampilkan 12 dari 96 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.