Memasuki pertengahan tahun 2026, industri farmasi nasional menghadapi tantangan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Kurs yang sempat menyentuh Rp 18.000 per dolar AS dan kini masih tertahan di kisaran Rp 17.700-an per dolar AS memicu lonjakan harga obat-obatan di dalam negeri.
Saat ini masyarakat dan petani di berbagai daerah belum merasakan dampak langsung dari kehadiran perusahaan ini dalam pengembangan potensi obat-obatan herbal di Indonesia.
Nilai tukar rupiah yang menembus Rp 17.700 per dolar AS menjadi alarm keras bagi industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku dari luar negeri. Industri farmasi nasional menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampak guncangan ini.
Menampilkan 12 dari 3 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.