Suster Irena Perangi TPPO, Psychological Safety dan Gambar Tanpa Penghapus

Daftar Isi

Selamat berakhir pekan. 

Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Perjuangan Suster Irena Perangi Perdagangan Orang

  • Irena Handayani, seorang suster Ursulin, memulai kiprahnya dalam advokasi perdagangan orang dari sebuah perjumpaan singkat dengan seorang remaja korban eksploitasi. Berbekal pengalaman panjang sebagai pendidik, ia kemudian terjun ke pendampingan korban TPPO melalui jaringan Talitha Kum. Jaringan ini bekerja lintas agama dan negara, mengoordinasikan evakuasi korban hingga pemulangan mereka dengan dukungan Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan berbagai NGO. Bagi Irena, perjuangan ini bukan sekadar membebaskan korban, tetapi juga memastikan mereka dapat menata hidup baru dengan pelatihan keterampilan dan dukungan ekonomi.
  • Di usia 71 tahun, Irena tetap aktif menjalankan advokasi, pelatihan, dan seminar, bahkan mendesak revisi UU No. 21/2007 agar pendampingan korban lebih tuntas. Ia menekankan bahwa akar masalah TPPO adalah keserakahan yang melahirkan ketidakadilan, sehingga komitmen memutus rantai perdagangan orang harus dimulai dari tingkat paling dasar. Dengan semangat yang tak surut meski sudah 46 tahun hidup membiara, Irena melihat setiap langkahnya sebagai panggilan Tuhan untuk terus hadir bagi kemanusiaan.
Koordinator Talitha Kum Jaringan Jakarta, Sr. Irena Handayani, OSU. Foto: SUAR/Chris Wibisana

Konser paduan suara Illuminare: American Choral Music akan digelar di J.S. Bach Recital Hall, Jakarta Pusat pada 23 Mei 2026. Pertunjukan ini menghadirkan karya-karya komposer populer Elaine Hagenberg bersama lagu-lagu khas Amerika lainnya, dengan tema yang menyoroti perjalanan emosional dari pergulatan batin menuju cahaya dan harapan. Acara ini menjadi kesempatan bagi penikmat musik klasik dan paduan suara untuk merasakan kekuatan musik dalam menyampaikan pesan spiritual sekaligus universal.

Drama tari Tari Obah Gerabah siap memikat publik di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, pada 23 Mei 2026 dengan menghadirkan kisah kehidupan para pengrajin gerabah melalui perpaduan gerak tari dan musik ritmis dari alat-alat gerabah. Pertunjukan yang dibawakan oleh penari dari anak-anak hingga dewasa ini menonjolkan nuansa tradisional yang kuat, menjadikan panggung sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus perayaan kreativitas lokal yang autentik.

Museum Macan menghadirkan Pameran Menelan Cakrawala pada 23 Mei hingga 4 Oktober 2026, sebuah eksplorasi artistik yang menyoroti lanskap sebagai ruang yang terus berubah, dipengaruhi relasi kuasa dari masa kolonial hingga kapitalisme modern. Dikutip dari laman resmi museum, pameran ini menampilkan karya penting dari Kita, Chairil, dan Dua Siklus Tembang Puisi, yang mengajak pengunjung menelusuri bagaimana lanskap dibentuk melalui beragam cara pandang atau regimes of vision. Dengan pendekatan kontemporer yang kuat, pameran ini menjadi ruang refleksi kritis sekaligus pengalaman visual yang memikat.

Membuat Aman Pegawai Vokal

  • Di balik rapat internal kantor yang terasa tenang, tak ada adu wacana, semua keputusan dihasilkan dengan sangat mulus tanpa perdebatan sengit, disitulah proses pengeroposan organisasi sedang terjadi. Dalam situasi seperti itu, organisasi memang tampak stabil di permukaan, tetapi sebenarnya rapuh secara intelektual. Ide-ide baru berhenti muncul, kritik menghilang, dan kesalahan cenderung disembunyikan.
  • Situasi nyaman ini, bisa terjadi karena karyawan memilih untuk diam bukan karena setuju, melainkan karena takut. Takut dianggap melawan, takut dicap tidak loyal, takut dinilai bodoh, atau takut kehilangan peluang karier. Sikap usang ini sebenarnya sudah banyak ditinggalkan, seiring dengan perkembangan zaman, dan mulai munculnya kesadaran tentang persamaan hak antar karyawan. Di tengah kesadaran itu, lahirlah satu konsep yang kini menjadi perhatian korporasi global, yaitu psychological safety.
Photo by Wiki Sinaloa / Unsplash

Gambar tanpa Penghapus

Saudaraku, hidup itu ibarat seni menggambar tanpa penghapus.

Setiap gambar merekam jejak penziarahan manusia menuju pelabuhan sakral. Namun, perjalanan menuju dermaga harapan itu hanya berbekal peta buta.

Dengan peta buta, hidup dijalani ke depan, namun dipahami ke belakang. Setiap penghujung tahun, kita tengok gambar hidup kita. Yang tampak dalam hasil akhir lukisan itu tak selalu sesuai dengan bayangan saat keberangkatan.

Di sepanjang terang sapuan dasar, ada banyak goresan warna gelap. Di atas sukses ada gagal; di atas suka, ada duka; di atas rindu, ada berang; di atas harap ada cemas; di atas yakin ada ragu; di atas optimis, ada pesimis; di atas puas, ada kecewa.

Acap kali muncul sesal, andai aku tak begitu, mungkin gambar hidupku lebih indah. Namun, hidup yang dipahami ke belakang itu tak bisa menghapus sapuan warna yang terlanjur tergores pada kanvas kehidupan.
Cendekiawan Muda, Yudi Latif (Foto: AI/ Tim SUAR)

Baca selengkapnya

Ω