Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak akan membebani defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena sumber dana MBG berasal dari realokasi APBN, demikian menurut laporan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahhman mengatakan pelaksanaan MBG lebih bersifat perubahan komposisi belanja.
"Jika dikelola dengan baik, MBG tidak akan mempengaruhi defisit APBN," kata Rizal dalam acara diskusi di Jakarta (8/1). .
Indef sudah melakukan riset terhadap program MBG menggunakan metode Overlapping Generation Model. Pendekatan tersebut digunakan untuk menghitung dampak lintas generasi dari program MBG.
Generasi yang paling berdampak pada MBG adalah anak usia PAUD hingga SMA serta ibu hamil dan menyusui. Rizal menjelaskan dari sisi indikator makro ekonomi, MBG berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM.
“MBG membuka peluang usaha baru bagi UMKM katering, penyedia bahan baku, hingga jasa logistik mikro,” ujar dia.
MBG juga menyerap tenaga kerja yang masif di berbagai tingkat, dari petani hingga penyedia layanan lokal serta menciptakan perputaran ekonomi daerah.
Selain itu, Program MBG juga berkontribusi terhadap kenaikan produk domestik bruto atau PDB.
Peningkatan PDB bersifat moderat dengan puncak di kisaran 0,15 hingga 0,17 persen, lalu menurun. Meski demikian, program ini dinilai mendorong peningkatan produktivitas tenaga kerja secara bertahap.
Pemerintah mengalokasikan anggaran MBG sebesar Rp 335 triliun pada 2026. Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan alokasi anggaran MBG pada 2025 sebesar Rp 71 triliun.
Transformasi belanja
Pada kesempatan yang sama,Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Eka Chandra Buana mengatakan transformasi belanja negara diarahkan kepada program seperti Danantara dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Transformasi belanja negara diarahkan kepada program tinggi seperti Danantara dan MBG agar belanja fiskal tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga bisa menghasilkan dampak ekonomi sosial yang terukur,” ujar dia.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Danantara dan program MBG disebut menjadi flagship dalam pendidikan.
Sebagai salah satu instrumen pembiayaan strategis, Danantara mendorong investasi pada sektor kualitas dengan efek berganda dan memberikan dampak tak langsung yang tinggi. Danantara dinilai berperan untuk melengkapi dan memperkuat efektivitas kebijakan fiskal melalui pendekatan investasi yang produktif
Adapun MBG yang menjadi salah satu bentuk investasi sumber daya manusia (SDM) lintas generasi, secara langsung akan meningkatkan status gizi anak.
Ia menambahkan realokasi anggaran MBG dianggap menjadi instrumen kebijakan yang sangat krusial.
Dalam memastikan realokasi tersebut, optimalisasi Danantara dan MBG benar-benar harus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga diperlukan alat analisis yang mampu melihat lintas generasi yaitu Overlapping Generation (OG) Model.
Model ini disebut dapat menganalisis kebijakan termasuk realokasi anggaran, pembiayaan investasi, dan program bisnis yang akan mempengaruhi generasi yang sedang produktif (memasuki pasar kerja), serta bagaimana implikasi fiskal dalam ekonomi jangka panjang.

Strategi Keberhasilan MBG
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Diponegoro Firmansyah mengatakan untuk keberhasilan program MBG, strategi yang harus diterapkan mencakup kolaborasi lintas sektor yang kuat, manajemen rantai pasok lokal yang efisien (UMKM/petani), standar kualitas dan kebersihan ketat dan pelatihan SDM berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, Kemenkes, Kemendikbud, Kemenag, BPOM, industri, dan komunitas lokal sangat krusial dan menjadi indikator keberhasilan MBG.
“ Jangan ada yang salah komunikasi terkait MBG, semuanya harus sinkron dan terukur,” ujar dia.
Libatkan petani lokal dan UMKM (BUMDes) dalam rantai pasok untuk kemandirian pangan dan ekonomi desa serta sesuaikan menu dengan kebiasaan dan selera lokal bisa didapatkan dari feedback orang tua/siswa
Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Ibnu Yahya mengatakan kualitas dan keamanan pangan juga harus menjadi perhatian untuk kesuksesan MBG.
Terapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) dan standar higiene yang ketat di dapur SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi) dan berikan pelatihan rutin kepada tim dapur mengenai standar keamanan pangan.
“Lakukan evaluasi berkala, termasuk sterilisasi alat dan perbaikan sanitasi di dapur,” ujar dia.