Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan tekanan pasar keuangan internasional, pasar saham Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan, meski diiringi volatilitas yang tinggi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tetap bergerak dalam tren naik dengan fluktuasi tajam, dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari dinamika geopolitik Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga global, hingga kondisi nilai tukar rupiah dan fundamental ekonomi nasional.
Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, dalam paparannya, Jumat (23/1/2026) menilai pasar keuangan global saat ini berada pada fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama kebijakan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang kembali agresif menggunakan instrumen tarif sebagai alat ekonomi dan politik.
“Untuk IHSG, arahnya masih naik, tetapi dengan volatilitas yang sangat tinggi. Ini bukan pasar yang tenang, melainkan pasar yang penuh peluang bagi investor yang memahami risiko,” ujar Hans.
Faktor Global: Geopolitik AS dan Perang Dagang
Hans menjelaskan bahwa kebijakan tarif Amerika Serikat berakar pada persoalan defisit kembar (twin deficits), yakni defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran. Alih-alih menaikkan pajak domestik, pemerintahan Trump memilih memanfaatkan tarif impor untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus mendorong relokasi industri kembali ke AS.
Namun, kebijakan tersebut dinilai tidak sepenuhnya efektif. Tingginya biaya tenaga kerja dan investasi membuat relokasi industri ke AS tidak berjalan optimal.
Dalam jangka pendek, kebijakan tarif berdampak pada inflasi AS yang bertahan tinggi serta mulai rapuhnya pasar tenaga kerja. Selain itu, terdapat potensi limpahan barang ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam jangka menengah hingga panjang, Hans menilai perang dagang berisiko menekan perdagangan dunia dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
“Kita pernah belajar dari Brexit. Dampaknya tidak instan, tetapi berkepanjangan. Perang dagang AS juga akan meninggalkan jejak struktural dalam ekonomi global,” kata Hans.
Ketegangan geopolitik tidak hanya datang dari hubungan AS–Eropa. Konflik Rusia–Ukraina yang belum berakhir, memanasnya situasi di Timur Tengah, serta persaingan perebutan sumber daya alam strategis seperti mineral tanah jarang turut memperburuk ketidakpastian global. Kondisi ini mendorong pergeseran portofolio investor global ke aset lindung nilai, terutama emas, sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar saham.
Dari sisi moneter, pasar global juga dihadapkan pada tarik-menarik antara pemerintah AS dan bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed). Trump mendorong pemangkasan suku bunga agresif untuk membuka ruang refinancing utang pemerintah, sementara The Fed tetap berhati-hati karena inflasi belum sepenuhnya kembali ke target 2 persen.
Konsensus pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga AS pada 2026 hanya akan terjadi dua kali, dengan penurunan pertama paling cepat pertengahan tahun. Penundaan tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar global dan berdampak pada aliran dana ke negara berkembang.
“Independensi bank sentral menjadi isu utama. Jika bank sentral kehilangan independensi, risiko bubble dan krisis justru meningkat,” tegas Hans.
Rupiah Berfluktuasi, Tekanan Dinilai Sementara
Di dalam negeri, volatilitas global tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS saat tensi global meningkat, serta faktor internal berupa selisih suku bunga (interest rate spread) Indonesia dengan AS yang semakin menipis.
Meski demikian, Hans menilai tekanan terhadap rupiah bersifat jangka pendek. Selama defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali dan Bank Indonesia menjaga independensinya, kepercayaan investor dinilai masih terjaga.
“Geopolitik itu faktor jangka pendek. Volatilitas rupiah memang tinggi, tapi ini bukan krisis. Justru di situ peluangnya,” ujarnya.
Baca juga:

Di tengah kekhawatiran global, euforia terhadap Artificial Intelligence (AI) kerap disebut sebagai potensi bubble baru. Namun Hans menilai kekhawatiran tersebut masih prematur. Saat ini, belanja modal (capital expenditure/capex) AI global masih sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah level historis bubble yang umumnya berada di kisaran 2–5 persen.
Selain itu, perusahaan berbasis AI masih mencatat pertumbuhan laba dan permintaan yang kuat, terutama di sektor pusat data dan infrastruktur energi. AI dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas dan margin keuntungan perusahaan.
“AI belum bubble. Justru AI menjadi katalis pertumbuhan laba emiten ke depan, meski memang akan mengubah struktur pasar tenaga kerja,” kata Hans.
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, tekanan global kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memicu eskalasi baru perang dagang dengan Eropa, termasuk ancaman tarif impor tambahan hingga 25 persen dan tuntutan geopolitik terkait Greenland. Aksi risk-off meluas di pasar global, dengan Wall Street mengalami penurunan tajam pada Selasa (20/1/2026) lalu.
Kendati demikian, di tengah tekanan tersebut IHSG justru mencatat penutupan tertinggi selama empat hari beruntun dan ditutup di level 9.134,70.
“Ketahanan IHSG ditopang sektor berbasis komoditas dan domestik seperti basic materials, consumer cyclicals, dan industrials. Meski foreign net buy relatif tipis, investor asing masih mencatat pembelian signifikan pada saham-saham besar seperti BBRI, ANTM, ADRO, dan PTRO,” jelasnya.
Namun, tekanan eksternal mulai terasa di pasar lain. Rupiah melemah hampir 2 persen sejak awal tahun hingga mendekati Rp16.950 per dolar AS, sementara pasar obligasi mencerminkan sikap investor yang semakin berhati-hati melalui dominasi permintaan pada tenor pendek–menengah.
Pada Kamis (22/1/2026), sentimen global sempat berbalik setelah Trump menarik ancaman tarif terhadap Eropa dan menyepakati kerangka kesepakatan terkait Greenland. Meski demikian, IHSG justru terkoreksi ke level 8.992,18, disertai arus keluar asing, menandakan penyesuaian risiko di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Ke depan, beber Liza, ketahanan pasar domestik akan sangat ditentukan oleh stabilitas kebijakan dan kekuatan fundamental.
“Bagi investor, volatilitas global menuntut disiplin manajemen risiko. Strategi trailing stop, diversifikasi portofolio, dan fokus pada emiten berfundamental kuat menjadi langkah krusial di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan global,” pungkasnya.
Proyeksi IHSG dan Strategi Investor
Dengan berbagai dinamika tersebut, Hans memproyeksikan IHSG berpeluang menembus level 10.000 dalam 12 bulan ke depan, meski dengan skenario terburuk (bear case) di kisaran 7.500. Volatilitas tinggi diperkirakan masih mewarnai pasar sepanjang tahun.
Investor disarankan memanfaatkan koreksi pasar sebagai peluang akumulasi saham berfundamental kuat. Sektor yang dinilai menarik antara lain saham berkapitalisasi besar perbankan, konsumer, energi, batu bara, serta komoditas terkait emas dan logam.
“Volatilitas itu bukan musuh, tetapi peluang. Selama fundamental emiten kuat, pelemahan justru menjadi momentum beli,” ujar Hans.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini tidak diikuti oleh penurunan pasar saham domestik. IHSG justru mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH), mencerminkan perbedaan respons antarsegmen pasar keuangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa depresiasi rupiah tidak dapat disamakan dengan sinyal krisis ekonomi.
“Jadi Anda enggak usah khawatir bahwa rupiah itu akan men-trigger krisis ekonomi. Jauh dari itu, karena fundamental ekonominya masih amat baik,” kata Purbaya di Aula Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Purbaya menyatakan pemerintah tengah memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Sinkronisasi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Investor akan merealisasikan rencana investasinya, yang asing juga akan masuk. Rupiah akan terus menguat,” ujarnya.
Menurut Purbaya, kenaikan IHSG mencerminkan persepsi positif pelaku pasar terhadap arah perekonomian nasional.
“Pasar modal itu semacam bendera untuk investor di seluruh dunia,” kata Purbaya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan data Bursa Efek Indonesia yang mencatat IHSG menembus rekor ATH sebanyak 24 kali sepanjang 2025 dan berlanjut hingga awal 2026.