Potensi Pengembangan Lahan Industri Semakin Bergeser ke Koridor Timur

Lanskap industri di Greater Jakarta tengah bertransformasi seiring dengan semakin terbatasnya ketersediaan lahan di wilayah-wilayah penyangga yang memiliki kemudahan akses. Data menunjukkan bahwa meskipun pasokan lahan baru sangat terbatas, permintaan lahan untuk industri tetap tinggi.

Potensi Pengembangan Lahan Industri Semakin Bergeser ke Koridor Timur

Sepanjang 2025, total penyerapan lahan untuk industri mencapai 311,85 hektar. Memasuki awal 2026, pasar menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih selektif, namun tetap aktif, di mana penyerapan lahan pada Q1-2026 tercatat hampir mencapai angka 90 hektar.

Angka ini melampaui capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya. Akan tetapi, dibandingkan kuartal sebelumnya (kuartal 4-2025), permintaan lahan di kuartal I 2026 menurun sebesar 87,20 ha.

Keterbatasan lahan di kawasan industri seperti Bekasi telah memicu pergeseran konsentrasi investasi ke arah koridor timur, khususnya ke wilayah Karawang dan Subang. Di wilayah Bekasi, ketersediaan lahan yang siap bangun kini sangat kritis dengan sisa hanya sekitar 100 hektar. Hal itu berbeda dengan Karawang yang masih memiliki sekitar 160 hektar serta potensi pengembangan besar di Subang. 

Kelangkaan ini secara otomatis mendorong kenaikan harga permintaan rata-rata menjadi 181,59 dollar AS per meter persegi pada awal 2026, mencerminkan ketatnya persaingan di antara para investor untuk mengamankan lokasi strategis.

Sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung utama dalam akuisisi lahan, disusul oleh ekspansi masif dari sektor data center, kimia, dan industri terkait kendaraan listrik (EV).

Selain itu, kajian dari konsultan properti internasional Colliers juga menemukan keterlibatan investor asal China yang kian kuat dalam memenuhi kebutuhan lahan. Keterlibatan tersebut banyak terkait dengan berbagai transaksi skala besar mulai dari industri tekstil, alat berat, hingga fasilitas produksi komponen baterai. 

Kebijakan pemerintah terkait peningkatan ambang batas Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada 2026 turut menjadi faktor yang mempercepat langkah perusahaan global untuk membangun basis manufaktur lokal dibandingkan sekadar mengandalkan impor.

Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kini menjadi magnet baru yang mendefinisikan ulang strategi investasi di koridor timur Jakarta. KEK menawarkan integrasi insentif fiskal dan efisiensi logistik yang sangat dibutuhkan oleh industri modern untuk menghadapi volatilitas ekonomi global. 

Transformasi ini tidak hanya memperluas jangkauan geografis pasar industri dari Bekasi hingga ke Subang, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, menjadikannya pusat produksi yang lebih kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Ke depannya, analisis Colliers memproyeksikan bahwa pasar akan memasuki fase pertumbuhan selektif di mana pengembang harus lebih jeli dalam menangkap kebutuhan spesifik tiap sektor. Potensi besar terletak pada pengembangan kawasan industri berbasis teknologi dan berkelanjutan (smart & green industrial estate) yang mampu mengakomodasi kebutuhan pusat data dan ekosistem kendaraan listrik. 

Dengan perbaikan infrastruktur konektivitas yang terus berlanjut, wilayah koridor timur diprediksi akan terus memimpin momentum pertumbuhan, sekaligus menjadi solusi utama atas kendala keterbatasan lahan di jantung ibu kota.

Baca selengkapnya

Ω