Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo pada akhir Maret 2026 menjadi sinyal penguatan poros ekonomi Jakarta-Tokyo di tengah dinamika geopolitik global. Forum Bisnis Indonesia-Jepang yang digelar di Imperial Hotel Tokyo menjadi pintu untuk memastikan Indonesia tetap menjadi destinasi utama investor asing di kawasan Asia Tenggara.
Dalam siaran pers Humas Sekretariat Kabinet, fokus utama dalam forum tersebut bertujuan mempererat kerjasama ekonomi yang lebih konkret. Terutama menjaring investor pada sektor-sektor masa depan, seperti hilirisasi energi bersih, pengembangan teknologi semikonduktor, dan penguatan inklusi keuangan. Target ini menjadi penting karena dalam dua tahun terakhir realisasi investasi Jepang di Indonesia menurun.
Dalam rentang 2020–2025, tren realisasi investasi Jepang ke Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2023 dengan nilai mencapai 4,6 miliar dollar AS. Jumlah tersebut merepresentasikan 9,2% dari total investasi asing di Indonesia kala itu.
Di tahun-tahun berikutnya realisasi investasi Jepang menurun, yakni menjadi 3,7 miliar dollar AS (6,2%) pada tahun 2024 dan 3,1 miliar dollar AS (5,5%) pada tahun 2025. Meski demikian, Jepang tetap menjadi salah satu investor utama yang menyokong struktur industri manufaktur dan infrastruktur nasional.
Dalam Forum Bisnis Tokyo 2026, Indonesia berhasil mencapai komitmen investasi senilai 23,63 miliar dollar AS atau setara Rp 401,71 triliun. Jumlah tersebut jika berhasil direalisasikan berarti jauh melampaui realisasi tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor Jepang terhadap Indonesia dan semakin kompetitifnya iklim investasi di Indonesia.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam 10 Nota Kesepahaman (MoU) strategis yang melibatkan kolaborasi antara BUMN, sektor swasta, dan institusi finansial kedua negara. Proyek-proyek yang disepakati sangat berorientasi pada masa depan dalam berbagai sektor.
Mulai dari produksi metanol berbasis rendah emisi oleh PT Pupuk Kaltim, pengembangan Blok Masela oleh Pertamina dan INPEX, hingga pembangunan ekosistem semikonduktor dan AI oleh PT Eblo Teknologi. Kemitraan ini menegaskan pergeseran paradigma investasi dari sekadar ekstraksi sumber daya menuju hilirisasi bernilai tambah tinggi dan transfer teknologi.
Keberhasilan forum ini membawa harapan besar bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui solusi kolaboratif kedua negara. Dengan integrasi modal Jepang dan potensi sumber daya domestik, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memperkuat kedaulatan energi melalui proyek panas bumi (PLTP) dan kemandirian teknologi.
Langkah sinergi ini diharapkan tidak hanya berdampak pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global hijau yang berkelanjutan.