Berpuluh tahun, dunia kerja modern dibangun dengan konsep spesialisasi. Karyawan dihargai karena kedalaman keahlian di satu bidang tertentu. Ia harus punya skill yang detail, layaknya empu pembuat keris profesional, tajam dan dalam saat menghasilkan karya.
Namun, ketika zaman berubah, menuntut kecepatan kerja, kompleks namun dalam tim yang ramping, maka dinding pembatas tentang profesionalisme jadi rapuh. Seorang analis bisa diminta memahami komunikasi, seorang pemasar harus menguasai data, dan seorang manajer dituntut peka terhadap teknologi. Semua orang harus menjadi generalis.
Di sinilah konsep agile working menemukan relevansinya. Ia menuntut individu untuk tidak kaku pada peran, lentur untuk siap berpindah peran, belajar cepat, dan mengambil tanggung jawab baru tanpa resistensi berlebih.
Secara filosofis, gagasan ini bukan hal baru. Filsuf Yunani kuno, Heraclitus, pernah menyatakan bahwa segala sesuatu mengalir (panta rhei). Dunia, menurutnya, adalah perubahan itu sendiri. Dalam konteks modern, pekerja yang tidak mampu menggelinding bersama perubahan, akan tertinggal oleh sistem yang terus bergerak.
Namun, dalam kenyataan, memang tidak semua karyawan siap untuk menjadi agile. Banyak yang masih terjebak dalam pola pikir rigid: bekerja sesuai job desk, resisten terhadap tugas di luar keahlian, dan merasa tidak nyaman ketika harus belajar hal baru.
Dari referensi perspektif filsafat eksistensialisme, khususnya pemikiran Jean-Paul Sartre, menjelaskan, manusia itu pada dasarnya dikutuk untuk bebas. Artinya, manusia boleh selalu punya pilihan, tetapi kebebasan itu sering kali menimbulkan kecemasan.
Dalam dunia kerja, agile working adalah bentuk kebebasan sekaligus beban, memiliki kebebasan untuk berkembang, tetapi juga ada tuntutan agar bisa berada di luar kenyamanan.
Di sisi lain, Marcus Aurelius dan Epictetus, para pemikir Stoikisme, menawarkan perspektif tentang manusia yang tidak bisa mengontrol dunia luar, tetapi bisa mengontrol responnya. Agile working, dalam perspektif ini, adalah kemampuan untuk menerima perubahan sebagai keniscayaan, bukan ancaman.
Maka, tuntutan zaman tentang perlunya perubahan konsep besar atas orientasi kerja ini tak bisa ditawar lagi. Perusahaan yang diisi oleh individu adaptif akan memiliki beberapa keunggulan:
Dia akan punya kecepatan eksekusi. Tim yang tidak terjebak dalam birokrasi peran dapat bergerak lebih cepat dalam merespons peluang maupun krisis.Disamping akan lebih , efisien dalam pengelolaan sumber daya.
Ketika karyawan mampu mengisi berbagai fungsi, perusahaan, maka manajemen tidak selalu harus menambah tenaga kerja baru untuk setiap kebutuhan.
Sementara bila ada gerak lintas fungsi, ini akan mendorong lahirnya ide-ide segar yang tidak muncul dari spesialisasi sempit.
Memang ada beberapa akar persoalan yang membuat karyawan sulit bertransformasi dalam bertugas, Ia biasanya akan takut gagal ketika diberi tanggung jawab yang berbeda dengan job desk nya yang selama ini ia geluti. Apalagi itu di luar keahliannya. Budaya organisasi kadang juga tidak mendukung, sementara seorang bisa saja merasa kehilangan jati diri ketika keluar dari perannya.
Dalam kerangka pemikiran filsuf pendidikan John Dewey, belajar bukanlah proses sekali jadi, melainkan pengalaman yang terus diperbarui. Ketika organisasi gagal menciptakan lingkungan belajar, maka agile working hanya akan menjadi jargon.
Dari sinilah bisa diambil kesimpulan, transformasi menuju agile working tidak bisa instan, tetapi dapat dibangun melalui beberapa langkah strategis. Mulai dari kesadaran untuk melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan, bukan sesuatu yang statis.
Aristoteles dalam paparannya tentang virtue menyebut, keunggulan bukan bawaan, melainkan hasil kebiasaan.Sehingga perusahaan harus mengubah pendekatan dari zero mistake menjadi fast learning. Kesalahan kecil yang cepat diperbaiki, lebih berharga daripada stagnasi yang aman.
Kemudian, cara paling efektif untuk membangun fleksibilitas adalah melalui rotasi dan eksposur lintas fungsi. Semakin sering seseorang terpapar berbagai peran, semakin tinggi kelenturan berpikirnya.
Di sisi lain, alih-alih job description yang kaku, perusahaan perlu mendorong role fluidity—peran yang bisa menyesuaikan kebutuhan bisnis. Dan ini harus dicontohkan setiap kepala bagian, yang mampu beradaptasi seperti air, lunak, tetapi mampu menembus batu.
Maka, agile working bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan cara bertahan dalam dunia kerja yang semakin tidak pasti. Situasi ini menuntut keberanian untuk berubah, kerendahan hati untuk belajar, dan ketahanan untuk menghadapi ketidaknyamanan.
Perusahaan memang tidak lagi bisa hanya mengandalkan strategi besar. Keunggulan justru terletak pada manusia-manusia di dalamnya yang mampu bergerak cepat, berpikir lentur, dan bekerja melampaui batas-batas lama.
Heraclitus berabad-abad lalu sudah berpesan, perubahan bukanlah sesuatu yang datang sesekali. Ia adalah kondisi permanen. Dan sejarah dunia kerja modern juga selalu mengajarkan, mereka yang mampu berdansa bersama perubahan, itulah yang akan bertahan dan bisa saja meraih kemenangan.