Penjualan Makanan Minuman Bakal Naik 10-20% Saat Ramadan

Faktor Pendorong penjualan produk makanan dan minuman meningkat saat momen lebaran adalah penyaluran THR (Tunjangan Hari Raya) serta gaji ke-13 yang bisa meningkatkan daya beli masyarakat.

Penjualan Makanan Minuman Bakal Naik 10-20% Saat Ramadan
Pengunjung memesan sajian makanan saat Roadshow Kuliner Viral Indonesia di Kota Cilegon, Banten, Jumat (30/1/2026). (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/rwa.)
Daftar Isi

Penjualan makanan dan minuman diprediksi bakal melonjak hingga 10%-20% saat Ramadan tahun ini. Angka ini cenderung stagnan atau bahkan hanya naik sedikit jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo mengatakan momen Ramadhan dan Lebaran merupakan peak season dan penyumbang terbesar industri makanan dan minuman.

“Momen Lebaran menjadi tumpuan utama bagi industri minuman ringan, terutama saat konsumsi masyarakat sedang lesu di hari normal,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/2).

Triyono mengatakan masyarakat biasanya menyimpan stok minuman untuk kebutuhan tamu maupun untuk buka puasa, jenis minuman ringan yang menjadi favorit adalah jus, minuman soda dan teh kemasan.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman mengatakan secara historis, rata-rata permintaan produk mamin pada periode Ramadhan dan Lebaran meningkat sekitar 15%-20% sama seperti Nataru.

“Produk yang paling laris dan diburu konsumen adalah kue kering (nastar, kastengel, putri salju), biskuit, minuman, dan snack,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/2).

Data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menunjukkan bahwa hingga kuartal ketiga 2025, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,49%. Capaian ini melampaui target pertumbuhan tahun sebelumnya yang hanya ada di kisaran 5% - 5,5%.

Peningkatan tersebut, ujar dia, didorong oleh naiknya konsumsi produk siap saji, layanan pesan-antar, serta menu yang mudah viral di platform media social

"Permintaan hampers makanan dan minuman meningkat tajam sebagai bingkisan lebaran," kata Lukman.

Faktor Pendorong penjualan produk makanan dan minuman meningkat saat momen lebaran adalah lonjakan pemudik dan penyaluran THR (Tunjangan Hari Raya) serta gaji ke-13 meningkatkan daya beli masyarakat.

Setelah puncak penjualan, industri mamin biasanya menghadapi penurunan siklus selama sekitar satu bulan sebelum kembali normal. 

Pengelolaan sampah

Triyono juga menilai regulasi terkait kewajiban produsen mengelola sampah atau tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) perlu seimbang bagi berbagai skala industri.

“Ada perusahaan besar, ada perusahaan kecil, ada perusahaan skala lokal, ada perusahaan skala nasional. Akan lebih baik kalau memang peraturan ini diterapkan sehingga menjadi basis yang seimbang untuk semuanya,”  ujar dia.

Menurut Triyono, aturan ini pun perlu dibuat dan diimplementasikan dengan mengedepankan nilai kehati-hatian agar industri juga bisa bertumbuh seiring dengan komitmen hijau dan ekonomi sirkular.

Triyono mengatakan dunia industri siap untuk mengimplementasikan EPR lebih luas, tapi tetap membutuhkan dukungan pemerintah agar dapat berdampak lebih luas.

"Bagi industri skala besar, integrasi sistem daur ulang mungkin lebih mudah dilakukan berkat dukungan modal dan teknologi. Sebaliknya, bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), beban administratif dan biaya logistik pengelolaan sampah yang terlalu berat berisiko mengganggu stabilitas operasional mereka," kata Triyono.

Baca juga:

Sadar Kesehatan, GNB Drinks Usung Jus Buah Jadi Andalan Produk
GNB Drinks berinisiatif menghadirkan minuman jus buah dengan target pasar lintas generasi.

Kementerian Perindustrian menegaskan posisi industri makanan dan minuman (mamin) sebagai sektor andalan dan penopang utama ekonomi nasional harus terus dijaga.

Sektor ini didukung oleh sumber daya alam yang melimpah dan permintaan domestik yang kuat, sektor ini terus menunjukkan kinerja impresif yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa industri mamin berhasil tumbuh sebesar 6,15% pada triwulan II-2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12%. Pada periode yang sama, sektor ini juga menyumbang 41% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

“Sektor makanan dan minuman menjadi motor utama pertumbuhan industri nonmigas, menyerap tenaga kerja besar, sekaligus mendorong ekspor,” ujar Agus dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (9/2).

Untuk terus mendorong pertumbuhan, Kemenperin menyiapkan berbagai insentif seperti tax allowance dan fasilitas super deduction tax. Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan bahan baku lokal seperti tepung sagu untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat industri dari hulu ke hilir.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan kontribusi utama lebaran terhadap penjualan mamin cukup besar karena konsumen cenderung meningkatkan konsumsi dan stok makanan, yang memicu kenaikan penjualan industri mamin secara signifikan.

“Permintaan produk spesifik seperti biskuit, permen, sirup, dan makanan olahan lainnya mengalami lonjakan permintaan tertinggi,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/2).

Pelaku industri mamin harus merespons lonjakan ini dengan meningkatkan kapasitas produksi.

Kenaikan ini didorong oleh psikologi pasar, persiapan kebutuhan Ramadan, dan peningkatan konsumsi rumah tangga.

Baca selengkapnya