Pemerintah Siapkan 15.000 Talenta Nasional Kembangkan Industri Semikonduktor

Dari 15.000 jumlah talenta yang dibutuhkan, saat ini sudah terdaftar sebanyak 1.180 orang.

Pemerintah Siapkan 15.000 Talenta Nasional Kembangkan Industri Semikonduktor
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat acara Pembekalan nasional talenta semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (ANTARA FOTO/Fauzan/agr)
Daftar Isi

Pemerintah menyiapkan 15.000 insinyur dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta sebagai talenta nasional untuk menggerakkan ekosistem industri semikonduktor Tanah Air.

Hal ini merupakan tindak lanjut penandatanganan Nota Kesepahaman BPI Danantara dan Arm Limited yang disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan ke Inggris, Senin (23/2) lalu. Kala itu perusahaan asal Inggris itu nantinya akan melatih para insinyur Indonesia dalam teknologi desain cip semikonduktor.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dunia dunia saat ini tengah memasuki perang semikonduktor (chip war) babak ketiga yang memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki banyak pemain.

"Kesempatan tersebut inilah yang ingin direbut Indonesia dengan kembali memasuki gelanggang industri semikonduktor lewat ekosistem terpadu. Bidang ini adalah konvergensi nano, info, bio, and cognitive technology yang menjadi fondasi revolusi industri selanjutnya," kata Airlangga saat membuka Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Ia menjelaskan jika satu kendaraan listrik membutuhkan lebih dari 200 chip, maka kami menghitung nilai permintaan chip global nanti diperkirakan mencapai USD 1 triliun pada 2030, didorong pembangunan data center dan komputasi kuantum.

Perekrutan talenta akan dilakukan dari mahasiswa fakultas teknik dari sejumlah Universitas ternama di seluruh Indonesia seperti Institute Teknologi Bandung (ITB) atau Institute Teknologi Surabaya (ITS). Dari 15.000 jumlah talenta yang dibutuhkan, saat ini sudah terdaftar sebanyak 1.180 orang.

Pengumuman disebarkan melalui Universitas terkait. Peserta yang terpilih itu kemudian bisa mengikuti pembekalan mulai hari ini yang dilakukan secara hybrid.

Pengembangan industri semikonduktor berbasis sumber daya manusia menjadi mitigasi Indonesia setelah belajar dari masa lalu. Ketika itu, sekitar dasawarsa 1980 hingga menjelang tahun 2000, Indonesia pernah menjadi pionir produsen semikonduktor di Asia Tenggara dengan fasilitasi Fairchild Semiconductor.

Namun, karena pengembangan difokuskan pada teknologi dan bukan sumber daya manusia, industri semikonduktor nasional lumpuh ketika Fairchild memutuskan hengkang dan pindah ke Malaysia. Kini, dengan lebih dari 200 perusahaan semikonduktor, negeri jiran itu telah merajai pangsa semikonduktor regional, hingga mendapatkan special treatment untuk memasuki pasar Amerika Serikat yang ketat.

"Melalui investasi dengan Arm Limited senilai USD 200 juta, Indonesia menempuh jalan yang berbeda dengan mendahulukan pengembangan SDM sebagai pilar kerja sama intellectual property. Indonesia telah memiliki pengalaman dengan Apple Academy dan IBM Hybrid Cloud Academy di Batam, sehingga Arm Academy ini kami dorong untuk memfasilitasi pembekalan yang lebih masif dalam waktu lebih cepat, sekitar 3-6 bulan per angkatan," jelasnya.

Berbekal peta jalan yang telah selesai sejak Agustus 2024, Airlangga mengakui bahwa tantangan utama dalam implementasi penyiapan kader-kader revolusi industri nasional itu adalah kesiapan universitas dari segi kurikulum. Selama ini, perguruan tinggi swasta lebih siap dan tangkas dalam mengakomodasi kebutuhan kurikulum desain hingga produksi semikonduktor dibandingkan perguruan tinggi negeri.

Karena itu, Airlangga mengharapkan langkah proaktif 6 perguruan tinggi negeri utama, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Surabaya untuk memacu pengembangan kurikulum semikonduktor.

Selain berpacu dengan kebutuhan industri, pengembangan ini akan mempermudah Arm Limited menyelaraskan tindak lanjut kerja sama dalam pelatihan dan pembekalan talenta nasional nantinya.

"Melalui kerja sama dengan Arm Limited, Indonesia sedang menggeliat memasuki kesempatan kedua. Jangan sampai ini tidak dimanfaatkan, dan Indonesia harus kembali masuk dalam ekosistem semikonduktor. Para insinyur, negara berharap Anda menjalankan peran yang baik, dan kami akan jadikan ini prioritas untuk menggerakkan ekosistem industri semikonduktor di Indonesia," pungkasnya.

Butuh penggerak

Ditemui di sela acara, CEO Jababeka Group Setyono Djuandi Darmono menegaskan prospek industri semikonduktor di Indonesia bukan lagi terletak pada infrastruktur dan ekosistem kawasan industri yang mendukung, tetapi pada penggerak yang selama ini sulit ditemukan walau permintaan pasarnya cukup besar.

Berkaca dari pengalaman Jababeka mengembangkan kawasan industri Cikarang yang saat ini menampung 2.000 pabrik semikonduktor dari 36 negara, seluruh ekosistem industri telah disediakan dan mendukung, mulai dari akses lokasi langsung 1 jam ke Bandara Soekarno Hatta, kemitraan dengan universitas negeri, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional.

"Kelengkapan fasilitas dan syarat ini jelas sangat menarik bagi perusahaan mancanegara bekerja sama dengan kita dalam mengembangkan bisnis semikonduktor di Indonesia. Tetapi kerja sama dengan Arm dalam talenta ini menjadi penting, karena kebutuhan industri ini semua kembali pada SDM yang cakap dan mampu mendesain," ujar Darmono.

Mengambil industri garmen sebagai contoh kasus, Darmono menggambarkan bahwa dalam produksi fesyen, yang paling diuntungkan dan memperoleh reputasi bukanlah penjahit atau pabrik yang memproduksi pakaian tersebut, melainkan desainer yang merancang dan mengembangkan mode. Hal serupa itulah yang diperlukan industri semikonduktor nasional saat ini.

"Desainer memiliki intellectual property atas rancangan produknya, yang dihargai mahal ketika lisensi rancangan itu dibeli negara lain. Itu perlu kita wujudkan, di samping menciptakan lapangan kerja luas, tidak hanya untuk yang pintar. Nah, industri padat karya itu sudah ada di kawasan industri yang Jababeka kembangkan, tinggal desainer produknya yang belum," pungkasnya.

Berbagi pandangan dengan Darmono, Rektor Institut Teknologi Bandung Tatacipta Dirgantara menekankan arti strategis pengembangan ekosistem semikonduktor di Indonesia adalah merebut kembali kesempatan yang hilang lebih dari dua dasawarsa lalu, karena ketidaksiapan sumber daya manusia waktu itu. Ia mengingatkan, tanpa semikonduktor, industri masa depan dipastikan lumpuh tak bergerak.

"Industri semikonduktor adalah mesin utama yang menumbuhkan industri-industri lain di masa depan. Bukan hanya otomotif seperti kendaraan listrik, tetapi juga kalau kita bicara mesin cuci, kulkas, smart meter, ponsel. Aplikasinya sangat luas, sehingga kita butuh untuk melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi," ucapnya.

Dengan potensi 9,97 juta mahasiswa teknik di seluruh penjuru tanah air, kolaborasi triple helix industri, universitas, dan pemerintah dalam mewujudkan ekosistem semikonduktor menjadikan hilirisasi dan industrialisasi bukan lagi sekadar slogan, tetapi langkah nyata dengan hasil konkret yang dapat diharapkan. Kuncinya, sumber daya manusia yang tidak hanya siap menggerakkan, tetapi juga siap berinovasi.

"Industri ini perlu dibangun sehingga kita tidak lagi 'menjual' tanah air, tetapi menghela kemajuan dengan talenta-talenta nasional. Mewakili perguruan tinggi, kami mengucapkan terima kasih atas inisiatif Kemenko ini, dan akan mendukung serta menyediakan resources yang dibutuhkan untuk kesuksesan program ini dan penciptaan talenta nasional unggul," kata Tata.

Deputi Bidang Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon memberikan laporan saat acara Pembekalan nasional talenta semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (ANTARA FOTO/Fauzan/agr)

Sebelumnya, CEO Asian Development Bank Institute Bambang Brodjonegoro menilai, Indonesia tidak dapat mengejar kapasitas produksi hardware seperti semikonduktor dan baterai secara kompetitif dalam waktu dekat. Karena itu, pengembangan software menjadi kunci untuk meningkatkan aktivitas nilai tambah tersebut.

Syarat pengembangan produk yang inovatif tersebut, menurut Bambang, tidak lepas dari prioritas penelitian dan pengembangan (R&D) yang perlu dipacu. Dengan kata lain, PDB Indonesia yang besar karena ditopang sumber daya alam tidak akan bertahan lama, kecuali jika pendanaan R&D untuk pengembangan teknologi dan SDM mendapatkan porsi lebih dari 0,3% PDB seperti saat ini.

"Dari 10 perusahaan startup di Asia Tenggara, hanya 1 dari Indonesia, yaitu Gojek. Padahal, product development datang dari inovasi, dan inovasi berakar dari R&D. Belakangan, kita juga lihat Vietnam masuk dengan startup Vinfast, penyedia jasa taksi mobil listrik yang semakin banyak kita lihat di Jakarta," ucap Bambang.

Indonesia dapat belajar dari cara Jepang yang menjadikan Tsukuba University sebagai pusat R&D untuk pendidikan teknologi, data science, dan AI. Jepang berhasil mengubah wilayah suburban menjadi produsen inovasi teknologi global dengan mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan akademisi.

"Manfaatkan Science Techno Park (STP) yang ada di beberapa PTN. STP saat ini sudah ada, tetapi masih kosong pemakainya, padahal itulah tempat terbaik, seperti STP UI di Depok dan STP ITB di dekat Tegalluar. Pertemuan pemerintah, dunia usaha, dan akademisi di sana harus jadi cikal-bakal percepatan competitiveness ekonomi digital di Indonesia," tandas Bambang.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya