Peluncuran ETF Emas di Indonesia Dorong Pasar Asia

Pasar emas digital yang telah berkembang pesat di Amerika Utara dan Eropa kini merambah Asia, termasuk Indonesia. Inovasi aset emas dari yang berwujud fisik menjadi aset "kertas" atau "digital" yang lebih likuid akhirnya diluncurkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Agustus 2026.

Peluncuran ETF Emas di Indonesia Dorong Pasar Asia

Indonesia kini resmi memiliki Exchange-Trade Fund (ETF) emas yang diluncurkan BEI pada Senin, 10 Agustus 2026. Di tengah tren lonjakan investasi emas, langkah menghapus hambatan logistik dari emas fisik dan memasukkannya ke dalam sistem pasar modal sekunder diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap emas. Dibandingkan dengan wujud fisik investasi pada logam mulia jenis emas yang dinilai lebih berisiko dengan likuiditas yang rendah, ETF menawarkan fleksibilitas dalam bentuk digital bagi para investor emas.

Pasar emas ETF telah terlebih dahulu berkembang pesat di Amerika Utara dan Eropa. Tren ETF global dalam beberapa tahun terakhir terutama pasca-pandemi Covid-19 mencatatkan lonjakan kepemilikan dan juga aliran dana masuk.

Secara global, kepemilikan ETF emas di tahun 2020 meningkat sekitar 31% secara tahunan (yoy) dengan akumulasi kepemilikan mencakup 3,77 ribu ton. Di tahun 2025 angkanya meningkat 24,9% (yoy) atau berada di posisi kepemilikan 4,03 ribu ton. 

Kenaikan di dua tahun tersebut terjadi di berbagai kawasan. ETF Asia mencatatkan persentase lonjakan yang signifikan. Kepemilikan ETF di kawasan Asia tercatat sebanyak 115,1 ton di tahun 2020 atau naik 48,3% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya, akumulasi kepemilikan 221,4 ton (2024) naik menjadi 238,1 ton di tahun 2025. 

Kenaikan tahun 2025 di kawasan Asia menunjukkan pertumbuhan ETF emas tertinggi dibandingkan pasar kawasan lainnya yang mencapai 97,9% (yoy).Tidak hanya akumulasi kepemilikan yang melesat di tahun 2025, pasar Asia turut mencetak rekor aliran dana masuk (inflow) sebesar 216,6 ton melebihi Eropa dengan 133,1 ton dan berada di bawah Amerika Utara dengan inflow 444,7 ton.

Dinamika ETF emas di Asia tidak terlepas dari dinamika domestik yang sangat spesifik di negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar khususnya China, Jepang, dan India. Dinamika seperti guncangan kinerja aset tradisional domestik Tiongkok yang lesu, depresiasi mata uang utama Asia seperti Yen dan Yuan terhadap dolar AS, hingga sentimen beberapa bank sentral Asia yang melakukan pembelian emas fisik guna memperkuat cadangan devisa memengaruhi tumbuhnya ETF emas di Asia.

Khusus di Asia, tahun 2025 merupakan tahun dengan catatan inflow tertinggi sejak peristiwa krisis terakhir di tahun 2020 dampak dari pandemi. Di masa pandemi, pasar Asia mencatatkan inflow sebesar 37,6 ton. Meski sempat mencatatkan outflow pada tahun 2022, yaitu sebanyak -20,9 ton. Di tahun berikutnya, pasar Asia konsisten mencatatkan inflow di atas 20 ton. 

Jika dilihat dari tren kepemilikan dan aliran ETF emas secara global, pasar Asia yang masih berada di tiga besar dalam mendominasi ETF global tumbuh positif dan menjanjikan dibandingkan dengan dua kawasan lainnya seperti Amerika Utara dan Eropa. Meski belum menyamai pasar Amerika Utara dan Eropa, perkembangan pasar di Asia cenderung tumbuh lebih besar.

Masuknya Indonesia ke dalam pasar ETF emas menciptakan pilar pertumbuhan baru di kawasan Asia. Hal ini membuat pasar ETF emas Asia menjadi lebih tangguh. Diperkirakan, jika suatu saat terjadi perlambatan permintaan di Tiongkok atau India akibat pemulihan ekonomi lokal mereka, inflow dari pasar domestik seperti Indonesia yang masif dapat menjadi penyeimbang.

Author

Baca selengkapnya