Pelantikan Menteri Baru Hingga MSCI Jadi Sentimen IHSG
Selain putusan teranyar Morgan Stanley Capital International (MSCI), ada pula pertimbangan stabilitas politik Indonesia, di tengah tekanan eksternal berupa kenaikan harga minyak mentah, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian arah suku bunga global.
•
3 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Perombakan pada awal Oktober 2026 ini menjadi salah satu sentimen domestik yang turut membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selain putusan teranyar Morgan Stanley Capital International (MSCI), ada pula pertimbangan stabilitas politik Indonesia, di tengah tekanan eksternal berupa kenaikan harga minyak mentah, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian arah suku bunga global.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pemulihan IHSG tidak cukup mengandalkan perubahan politik ataupun arus modal jangka pendek. Perbaikan pasar saham membutuhkan stabilitas makroekonomi, prospek keuntungan emiten, serta kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG merosot 11,57% berada pada level 11,57%.
Kejatuhan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. Dua sentimen yang membayangi perdagangan ialah peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai risiko perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dan pengumuman sanksi administratif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap tiga emiten berkapitalisasi besar.
MSCI memperingatkan risiko penurunan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kekhawatiran tersebut berpotensi memengaruhi keputusan investasi pengelola dana internasional, terutama investor yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan portofolio.
Di sisi lain, OJK mengumumkan sanksi administratif dengan nilai total Rp2,1 triliun terhadap tiga emiten, yakni DSSA, BREN, dan CUAN. Sentimen negatif terhadap saham-saham berkapitalisasi besar tersebut turut menambah tekanan terhadap pergerakan indeks.
Reshuffle Bukan Jaminan Pemulihan
Sebelum kejatuhan tajam pada Jumat, Josua menilai tekanan terhadap IHSG tidak hanya bersumber dari faktor eksternal, tetapi juga dari risiko inflasi domestik, pelemahan rupiah, dan potensi penurunan pertumbuhan laba perusahaan.
Kepada SUAR, Josua menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan, terutama emiten yang bergantung pada bahan baku impor. Pada saat bersamaan, kenaikan harga pangan berpotensi menggerus daya beli masyarakat dan menekan permintaan terhadap barang maupun jasa.
“Dengan demikian, ancaman terhadap IHSG bukan hanya berasal dari kenaikan inflasi, melainkan dari risiko penurunan pertumbuhan laba emiten yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian investor,” ucap Josua.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan, mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia sebesar 3,5%. Inflasi kelompok pangan bergejolak bahkan mencapai 5,03%, sedangkan inflasi harga perdagangan besar tercatat 6,76%.
Josua juga menyoroti potensi tekanan terhadap pasar saham apabila bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Kebijakan moneter yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan memperbesar risiko arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
Sepanjang Januari hingga pertengahan Oktober 2026, investor asing mencatat penjualan bersih saham Indonesia sekitar US$4,15 miliar. Meski demikian, investasi asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan surat berharga negara (SBN) masih membukukan arus masuk bersih masing-masing sekitar US$9,80 miliar dan US$1,90 miliar.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa investor asing tidak sepenuhnya meninggalkan aset Indonesia, tetapi cenderung mengalihkan sebagian penempatan dananya ke instrumen berpendapatan tetap.
Josua menilai risiko penurunan IHSG dalam jangka pendek masih relatif besar. Namun, tekanan jual dapat mereda apabila nilai tukar rupiah membaik, ekspektasi suku bunga global mereda, dan kepercayaan investor terhadap pasar domestik pulih.
“Karena itu, kami melihat risiko IHSG masih cenderung lebih besar ke arah penurunan dalam jangka pendek, tetapi tekanan jual tidak harus berlangsung terus-menerus apabila stabilitas rupiah membaik, ekspektasi suku bunga global mereda, dan kepercayaan investor terhadap pasar domestik pulih,” tuturnya.
Senior Research and Analyst Pasar Dana, Beben Feri Wibowo, mengatakan pelaku pasar memandang reshuffle kabinet sebagai sentimen yang memiliki dua sisi, yakni berpotensi membawa dampak positif sekaligus negatif terhadap pasar keuangan.
"Pelaku pasar melihat reshuffle kabinet ini diibaratkan dua mata pisau, satu sisi positif, satu sisi negatif," ujar Beben kepada SUAR, Kamis (15/10/2026).
Menurut dia, reshuffle kabinet pada awal Oktober cukup mengejutkan pasar dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai kondisi politik dalam negeri. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah persepsi mengenai hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan mantan Presiden Joko Widodo.
Beben mengatakan, munculnya spekulasi tersebut berkaitan dengan sejumlah perkembangan politik, termasuk pergantian Kapolri dan isu ijazah Wakil Presiden. Ia juga menyinggung kedekatan Prabowo dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai bagian dari dinamika politik yang menjadi perhatian pelaku pasar.
"Artinya, pelaku pasar ataupun pengamat politik ini melihat kedekatan antara Bapak Prabowo dengan Jokowi ini sudah mulai dipertanyakan," katanya.
Dinamika politik tersebut membuat pelaku pasar mencermati stabilitas politik Indonesia, terutama menjelang tahun politik 2029. Ketidakpastian domestik itu berpotensi menambah tekanan terhadap pasar saham yang sebelumnya sudah menghadapi sentimen negatif dari luar negeri.
"Artinya, dengan peristiwa tersebut ataupun fakta-fakta tersebut, pelaku pasar melihat politik dalam negeri kita untuk menuju 2029 ini sedikit masih kurang stabil atau rawan terjadi guncangan," tutur Beben.
Meski demikian, Beben tidak menempatkan dinamika politik domestik sebagai satu-satunya faktor yang menekan IHSG. Menurut dia, pelemahan pasar saham Indonesia sepanjang September 2026 lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari eksternal, investor menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter. Pada saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah turut mendorong investor asing mengambil sikap lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar keuangan domestik.
"Jadi selain sentimen global, pelemahan IHSG ataupun pasar saham kita ini juga ditentukan oleh sentimen dalam negeri," kata Beben.