Kekuatan Investor Dalam Negeri untuk Jaga Stabilitas Lantai Bursa
Terus bertumbuhnya jumlah investor ini menjadi jadi kekuatan baru untuk menjaga likuiditas dan stabilitas perdagangan lantai bursa.
Terus bertumbuhnya jumlah investor ini menjadi jadi kekuatan baru untuk menjaga likuiditas dan stabilitas perdagangan lantai bursa.
Pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia yang kini melampaui 32 juta single investor identification (SID). Terus bertumbuhnya jumlah investor ini menjadi jadi kekuatan baru untuk menjaga likuiditas dan stabilitas perdagangan lantai bursa. Di sisi lain juga muncul tantangan bagaimana para investor ini bisa bertahan dalam fluktuasi yang tengah terjadi.
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Umi Kulsum, mengatakan pertumbuhan investor terutama dari kalangan muda yang mengenal investasi melalui platform digital, perlu diikuti peningkatan pemahaman terhadap karakteristik produk dan risiko investasi.
“Pertumbuhan jumlah investor harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman dan ketahanan investor,” kata Umi dalam Ring the Bell for Financial Literacy 2026, Rabu (14/10/2026).
Menurut Umi, investor perlu memiliki tiga karakter utama, yakni cerdas dalam memahami produk investasi, waspada terhadap informasi dan ancaman penipuan, serta tangguh menghadapi fluktuasi pasar.
Investor juga perlu memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan dan menjaga keamanan data pribadi. Sementara itu, pemahaman mengenai profil risiko diperlukan agar keputusan investasi sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing.
“Investor yang cerdas tidak hanya mengetahui cara membeli produk investasi, tetapi juga memahami manfaat serta risikonya,” ujar Umi.

Dia mengatakan BEI bersama OJK, lembaga penyelenggara pasar atau self-regulatory organization (SRO), anggota bursa, dan pemangku kepentingan lainnya terus memperluas edukasi pasar modal ke berbagai wilayah Indonesia.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa semakin luas akses masyarakat ke pasar modal juga harus diiringi dengan kemampuan untuk mengambil keputusan investasi secara logis dan sesuai dengan profil risiko masing-masing,” tuturnya.
Senada, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, menyampaikan bahwa jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai sekitar 31,14 juta SID hingga Agustus 2026.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sekitar 55,25% investor individu berusia di bawah 30 tahun. Jika digabungkan dengan kelompok usia 31–40 tahun, proporsinya mencapai 80,64%.
Dominasi kelompok usia muda menjadi perhatian dalam pengembangan literasi keuangan. Kemudahan membuka rekening dan melakukan transaksi melalui aplikasi perlu diimbangi pemahaman mengenai karakteristik produk, potensi keuntungan, serta risiko investasi.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan kelompok usia 26–35 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 78,70%, dengan indeks inklusi mencapai 96,27%. Namun, pada sektor pasar modal, indeks literasi tercatat sebesar 17,78%, sedangkan indeks inklusinya sebesar 1,34%.
Edi juga menegaskan kepada investor, khususnya pemula, mengenai pemahaman terhadap instrumen investasi, kewaspadaan dalam memeriksa informasi, serta kedisiplinan menghadapi perubahan kondisi pasar.

Dalam investasi saham, imbuhnya, investor membeli bagian kepemilikan suatu perusahaan. Karena itu, keputusan investasi perlu mempertimbangkan kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek perusahaan, bukan semata-mata mengikuti saham yang sedang ramai diperbincangkan. “Investor juga perlu mewaspadai penipuan yang memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi deepfake yang dapat menghasilkan video maupun suara tiruan menyerupai tokoh publik atau profesional keuangan,” jelas Edi.
Modus penipuan dapat menggunakan identitas lembaga keuangan resmi serta menawarkan keuntungan tinggi dengan risiko yang diklaim rendah atau tanpa risiko. Maka dari itu, dia mengimbau kepada investor agar memeriksa legalitas pihak yang menawarkan produk, memahami karakteristik investasi, dan tidak mudah percaya pada janji keuntungan yang tidak realistis.
“Selain itu, investor perlu menjaga kerahasiaan data pribadi, kata sandi, PIN, dan kode one-time password (OTP), serta tidak memberikannya kepada pihak lain,” kata dia.
Pihaknya juga menekankan pentingnya penguatan perlindungan investor melalui regulasi, pengawasan, keterbukaan informasi, edukasi masyarakat, dan penegakan ketentuan. Upaya tersebut melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem pasar modal, termasuk penyelenggara pasar, perusahaan efek, emiten, pelaku profesi, pendidik keuangan, kreator konten, dan media.
Di tengah tekanan pasar beberapa waktu belakangan, Senior Research and Analyst Pasar Dana, Beben Feri Wibowo, menyarankan investor mulai mencicil pembelian saham yang memiliki fundamental kuat.
Strategi tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan koreksi harga, menerapkan cost averaging, dan mempertahankan dana cadangan untuk mengantisipasi pelemahan lanjutan.
Beben mengatakan investor perlu tetap waspada terhadap risiko pasar tanpa mengambil keputusan secara panik.
“Tentunya kita dalam kondisi yang waspada, tetapi tidak panik,” kata Beben kepada SUAR, Rabu (14/10/2026).
Menurut dia, tekanan terhadap pasar saham domestik dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ketidakpastian global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan arus keluar dana asing. Bahkan, tercatat sepanjang September 2026, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp10,24 triliun di pasar saham Indonesia.
Ketidakpastian global tersebut berkaitan dengan konflik geopolitik dan pergerakan harga minyak mentah, sehingga hal itu memengaruhi ekspektasi suku bunga dan mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah, sentimen politik, dan perubahan kebijakan di pasar modal turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Beben menilai tekanan harga saham perlu dicermati dengan membedakan koreksi yang dipicu sentimen pasar dan penurunan harga yang mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.
Dalam kondisi koreksi, investor disarankan memanfaatkannya untuk mengakumulasi saham perusahaan dengan fundamental kuat yang harganya telah terkoreksi cukup dalam. Pembelian pun sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan dengan mengalokasikan seluruh dana sekaligus.
Strategi cost averaging tersebut memungkinkan investor membeli saham dalam beberapa tahap untuk mengelola harga perolehan ketika pasar masih berfluktuasi.
“Nah, berdasarkan pengalaman kami, justru kondisi saat ini merupakan momentum kita untuk cicil beli. Artinya ketika kita ada fresh money, itu kita sudah mulai akumulasi, akumulasi saham-saham yang tanda kutip memiliki fundamental yang bagus tetapi harga sahamnya mulai turun atau sudah tertekan dalam,” ujar Beben.
Dia menjelaskan, penyediaan dana cadangan diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan harga saham kembali turun. Dengan demikian, investor masih memiliki dana untuk melakukan pembelian berikutnya apabila koreksi berlanjut.
“Kita ada fresh money, kita belanjakan beberapa, terus kemudian nanti ketika ada false analisis kita, ya kita masih punya dana cadangan untuk tanda kutip akumulasi supaya harga perolehan kita menjadi lebih rendah,” katanya.
Beben juga mengingatkan investor agar tidak membeli saham hanya karena mengikuti tren atau keputusan investor lain. Analisis terhadap kinerja dan valuasi perusahaan tetap diperlukan sebelum melakukan transaksi.
Lebih lanjut, dia mewanti-wanti calon investor untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan, terutama perkembangan laba operasi dan laba bersih, sebelum memutuskan melakukan akumulasi saham.
Mereka juga dapat menggunakan rasio price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) untuk mengevaluasi valuasi saham.
“Perbandingan dengan riwayat valuasi perusahaan dapat membantu menilai posisi harga saham relatif terhadap kondisi sebelumnya,” ucapnya.
Dia mencontohkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Berdasarkan analisis terhadap pergerakan harga, PER, dan PBV selama satu tahun, valuasi saham tersebut relatif murah dibandingkan dengan riwayatnya.
Kendati demikian, penilaian valuasi tetap perlu dikaitkan dengan kondisi fundamental perusahaan. Penurunan harga saham tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa saham tersebut menarik apabila kinerja keuangannya turut memburuk.
Pada kondisi pasar yang bergejolak saat ini, dia menyebut beberapa saham sektor energi yang layak buat dicermati seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT United Tractors Tbk (UNTR), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Dari sisi teknikal, Beben mengungkap level 6.000 sebagai area psikologis yang perlu diperhatikan investor. Dalam analisisnya, area dukungan (support) IHSG berada pada kisaran 5.960–6.000.
Beben menilai, jika indeks kembali menguat dan mampu bertahan di atas 6.000, pergerakan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menilai kekuatan pemulihan pasar. Sebaliknya, apabila tekanan berlanjut, IHSG berpotensi menguji level 5.600.
“Kalau IHSG kita ini rebound, berarti kita bisa memandang bahwa level 6.000 ini merupakan level yang tanda kutip cukup kuat, tetapi ketika IHSG terkonfirmasi kembali turun, kami melihatnya (level support) itu 5.600,” ujar Beben.

Dia juga menyebut level 5.300 sebagai kemungkinan pergerakan IHSG, meskipun peluang tersebut dinilai relatif kecil.
Selain pergerakan indeks, arus dana asing menjadi salah satu faktor yang dicermati Beben. Setelah mencatatkan pembelian bersih pada Juli dan Agustus 2026, investor asing kembali melakukan penjualan bersih pada September.
Dia juga menyinggung kemungkinan peralihan sebagian dana asing dari saham ke surat berharga negara (SBN). Perkembangan kepemilikan asing pada awal Oktober ini menjadi salah satu data yang tak boleh luput untuk menilai arah aliran modal.