Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang minggu ini membawa misi untuk memperkuat fondasi kerjasama ekonomi yang telah terjalin lebih dari lima dekade. Sebagai salah satu mitra dagang utama, Jepang memiliki pengaruh sistemik terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Data perdagangan antara Indonesia dengan Jepang selama lima tahun terakhir (2021-2025) menunjukkan hubungan dagang kedua negara mengalami pasang surut. Puncak total nilai perdagangan tercapai pada tahun 2022 di mana nilai ekspor menembus 24 miliar dollar AS. Nilai ekspor perlahan menurun hingga tahun 2025 tercatat menjadi 17 miliar dollar AS.
Namun, Indonesia secara konsisten masih mempertahankan posisi surplus. Neraca perdagangan tetap berada di zona positif, dengan surplus tahun 2025 tercatat sebesar 3,14 miliar dollar AS. Meski posisi tawar produk Indonesia di pasar Jepang masih sangat kuat, surplus di tahun 2025 tercatat sebagai yang terendah sejak 2021.
Jepang masih sangat bergantung pada pasokan energi dari Indonesia. Nilai ekspor migas Indonesia ke Jepang merangkak naik dari 978,5 juta dollar AS di 2021 menjadi 2,1 dollar AS pada 2025.
Ekspor Indonesia ke Jepang didominasi oleh bahan bakar mineral yang mencapai nilai fantastis 4,96 miliar dollar AS, disusul oleh produk hilirisasi seperti nikel (1,62 miliar dollar AS) dan mesin/perlengkapan elektrik (1,2 miliar dollar AS). Kehadiran nikel dalam jajaran lima besar ekspor menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi mulai membuahkan hasil di pasar Jepang.
Di sisi lain, terjadi penurunan nilai impor dari Jepang ke angka 14,46 miliar dollar AS pada 2025. Impor Indonesia dari Jepang didominasi oleh barang modal dan teknologi, seperti mesin dan peralatan mekanis (3,1 miliar dollar AS) serta kendaraan (2,04 miliar dollar AS), yang menunjang industrialisasi dalam negeri.
Namun demikian, penurunan impor ini memberi ruang bagi industri domestik untuk mengisi kekosongan, sekaligus menjaga cadangan devisa tetap sehat melalui surplus yang berkelanjutan.
Diplomasi ekonomi yang dilakukan presiden diharapkan dapat meningkatkan kembali surplus perdagangan Indonesia terhadap Jepang. Di samping memperkuat perdagangan di sektor energi, juga investasi di sektor manufaktur yang bernilai tambah tinggi.
Dengan data yang menunjukkan surplus yang konsisten dan minat Jepang yang besar pada mineral kritis seperti nikel, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menegosiasikan akses pasar yang lebih luas bagi produk olahan. Penguatan diplomasi diharapkan mampu membalikkan tren penurunan total perdagangan dan membawa hubungan ekonomi RI-Jepang menuju level yang lebih tinggi dan menguntungkan.