Ledakan partisipasi investor ritel menjadi salah satu fenomena paling menonjol di pasar modal Indonesia sepanjang 2025. Lonjakan ini menandai pergeseran struktur pasar, di mana aktivitas bursa semakin ditopang oleh investor individu, terutama dari kalangan generasi muda. Namun, ini perlu dibarengi kehati-hatian karena investor rawan terjebak saham yang tidak optimal kerjanya.
Mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) total investor pasar ritel Single Investor Identification (SID) pasar modal melonjak 5,25 juta dalam setahun. Pada 2024 jumlahnya 14,87 juta lantas meroket menjadi 20,12 juta pada 19 Desember 2025.
Lonjakan jumlah investor ritel itu juga mengubah struktur transaksi di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi investor ritel terhadap nilai rata-rata transaksi harian saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak dari 38% pada akhir 2024 menjadi sekitar 50% sepanjang 2025. Artinya, kini nilai transaksi dibagi rata seimbang antara investor ritel dan investor korporasi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan sekitar 70% investor ritel saham Indonesia berasal dari generasi Y dan generasi Z. Proporsi ini tergolong besar dibandingkan banyak negara lain yang masih didominasi investor institusional.
Masifnya keterlibatan investor ritel membawa implikasi langsung bagi pengawasan pasar. OJK menilai dominasi tersebut meningkatkan urgensi penguatan perlindungan investor, khususnya dari praktik transaksi tidak wajar dan manipulasi harga.
“Artinya, semakin meningkatkan urgensi penguatan aspek perlindungan, termasuk melindungi investor ritel dari kemungkinan goreng-menggoreng saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya,” kata Mahendra.
OJK juga menekankan pentingnya literasi dan edukasi yang lebih terarah. Mayoritas investor ritel berasal dari generasi muda, sehingga diperlukan perubahan perspektif agar pasar saham tidak semata dipandang sebagai sarana transaksi jangka pendek.
“Sehingga investor ritel kita yang lebih 70% di antaranya adalah gen Y dan gen Z tidak melihat pasar saham sebagai transaksi perdagangan harian yang semata-mata mengejar kekayaan dalam jangka pendek,” ujarnya.
Data OJK per September 2025 menunjukkan 54,20% investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun. Meski mendominasi jumlah, nilai aset kelompok ini masih relatif kecil, yakni Rp70,81 triliun, jauh di bawah kelompok usia 31–40 tahun sebesar Rp293,89 triliun dan usia 41–50 tahun Rp249,43 triliun. Kelompok usia di atas 60 tahun justru menguasai aset terbesar senilai Rp1.215,89 triliun meski porsinya hanya 2,92%.
Deputi Komisioner OJK Eddy Manindo Harahap menilai dominasi investor muda sebagai investasi jangka panjang. “Kami berharap yang 54,20% kelompok investor muda ini semakin turun porsinya, tetapi asetnya akan membesar,” ujar Eddy.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menyebut pertumbuhan tersebut mencerminkan akselerasi inklusi pasar modal nasional. Dari sisi transaksi, investor ritel masih mendominasi.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mencatat porsi transaksi ritel mencapai 47,3% atau Rp7,33 triliun dari total transaksi Rp15,5 triliun pada September 2025.
Dalam konteks global, dominasi ritel Indonesia tergolong tinggi. Porsi order ritel di BEI mencapai 50%, jauh di atas Amerika Serikat sekitar 25% dan India 27,37%. Di Asia, Indonesia berada di antara ekstrem China yang didominasi ritel hingga 90% dan Malaysia yang sangat institusional dengan porsi ritel 16,9%.
Menghadapi struktur pasar yang semakin ritel-driven, OJK dan BEI menyiapkan langkah pendalaman pasar, termasuk penguatan investor institusi domestik dan penerapan kebijakan peningkatan free float saham secara bertahap mulai 2026. Dengan dominasi investor ritel yang kian kuat, pasar modal Indonesia memasuki fase pertumbuhan baru yang menuntut keseimbangan antara ekspansi, perlindungan investor, dan stabilitas jangka panjang.
Baca juga:
Di tengah meningkatnya partisipasi investor ritel di Bursa Efek Indonesia, Komisaris Utama PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB), Hero Gozali, menilai komunikasi menjadi faktor kunci untuk meredam risiko spekulasi berlebihan. PJHB, kata dia, secara konsisten memperkuat hubungan dengan investor melalui berbagai kanal resmi.
Strategi komunikasi yang dijalankan mencakup pelaksanaan public expose, penyampaian keterbukaan informasi secara berkala, serta komunikasi rutin dengan investor dan analis pasar. Langkah ini ditujukan untuk memastikan pelaku pasar memperoleh informasi yang seimbang dan akurat terkait kondisi perseroan.
“Perusahaan secara konsisten melakukan keterbukaan informasi, public expose, dan komunikasi rutin dengan investor serta analis pasar,” ujar Hero, kepada SUAR, Selasa (6/1/2026).
Lebih lanjut, peningkatan free float juga dipandang sebagai peluang strategis bagi PJHB untuk memperluas basis investor institusi. Dengan likuiditas saham yang lebih baik, perseroan berharap daya tarik saham PJHB meningkat di mata investor jangka panjang.
Hero menilai investor institusi umumnya menaruh perhatian pada likuiditas, tata kelola, serta stabilitas kinerja. Oleh karena itu, peningkatan free float dinilai dapat membuka ruang masuknya investor dengan profil risiko yang lebih terukur.
Terkait kebijakan regulator, Hero menyampaikan pandangan agar Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerapkan pendekatan yang adaptif. Menurutnya, karakteristik industri dan kondisi masing-masing emiten perlu menjadi pertimbangan dalam penerapan aturan free float.
“PJHB selalu mendorong penerapan kebijakan yang fleksibel dan bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik industri serta kondisi masing-masing emiten,” kata Hero.
Dibayangi Manipulasi
Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan penguatan integritas pasar modal dan penindakan terhadap praktik manipulasi saham atau saham gorengan menjadi keharusan, seiring menguatnya IHSG dan partisipasi investor ritel di BEI. Penegasan ini disampaikan menyusul meningkatnya perhatian terhadap risiko perlindungan investor di tengah euforia pasar.
Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan penguatan IHSG mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional. Menurutnya, sentimen positif tersebut didukung oleh perbaikan fundamental ekonomi serta sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
“Saya pikir itu ada optimisme di pasar, pelaku pasar melihat bahwa kita akan membaik terus ke depan,” ujar Purbaya usai menghadiri pembukaan perdagangan BEI.
Ia menambahkan, koordinasi kebijakan yang semakin solid berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam kerangka tersebut, Purbaya menilai pencapaian IHSG pada level yang lebih tinggi masih terbuka.
“Target tahun ini 10.000 itu bukan angka yang mustahil untuk dicapai,” katanya.
Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa penguatan indeks tidak boleh mengabaikan kualitas dan kredibilitas pasar. Menanggapi maraknya isu saham gorengan, ia merujuk pada langkah pengawasan yang tengah disiapkan OJK.
“Tadi kan Pak Mahendra sudah menyebutkan beberapa langkah itu yang disebutkan oleh dia, katanya. Saya akan lihat, akan dilihat terus. Dia serius atau tidak,” ujar Purbaya.
Ia juga menegaskan hingga kini belum ada permintaan insentif kebijakan pasar modal untuk 2026. Menurutnya, insentif hanya relevan apabila diikuti dengan prestasi nyata dalam penegakan aturan.
“Belum. Mereka belum minta insentif. Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya. Apa prestasinya? sudah berapa orang ditangkap?” ucapnya.
Lonjakan yang Berpeluang Buka Celah
Lonjakan investor ritel dalam beberapa tahun terakhir mengubah wajah pasar modal Indonesia. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut hingga akhir November 2025, jumlah investor pasar modal telah mencapai 19,67 juta, dengan porsi transaksi ritel mendekati 50% dari total perdagangan. Fenomena ini memperluas basis investor, namun di saat yang sama memunculkan risiko manipulasi harga atau saham gorengan.
Dia menjelaskan bahwa lonjakan investor ritel didorong oleh tiga faktor utama.
“Pertama, pintu masuk yang makin mudah lewat aplikasi dan pembukaan rekening daring membuat jumlah investor melonjak cepat,” ujar Josua ketika dihubungi SUAR, Selasa (6/1/2026).
Faktor kedua adalah dominasi investor muda dan pemula yang cenderung bertransaksi jangka pendek demi hasil instan. Sementara faktor ketiga berasal dari rendahnya imbal hasil tabungan dan deposito, sehingga dana ritel mencari peluang ke saham, terutama saham berkapitalisasi kecil.
Perilaku tersebut, kata Josua, diperkuat oleh media sosial dan adanya financial influencer (finfluencer).
“Informasi singkat dan narasi cuan cepat menyebar lebih cepat daripada penjelasan risiko, sehingga pola transaksi ritel makin digerakkan oleh perasaan pasar, bukan kinerja usaha emiten,” kata Josua.
Menurutnya, dominasi ritel memang membuat pasar terasa inklusif, tetapi tidak otomatis sehat. Ketika jumlah investor pemula besar dan sebagian saham memiliki free float tipis, ruang manipulasi harga melebar.
“Cukup ada transaksi kecil berulang untuk mengerek harga, lalu ramai-ramai masuk karena takut ketinggalan. Kombinasi investor pemula, saham publik tipis, dan transaksi jangka pendek memang memperbesar peluang harga digerakkan pihak tertentu,” jelasnya.
Baca juga:

Sementara itu, Head of Research PT NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama menilai lonjakan ritel juga dipengaruhi pergeseran minat dari kripto ke saham.
“Setelah kripto menurun, saham mulai naik dan banyak financial influencer muncul. Ini biasanya jadi tanda minat ritel yang besar,” kata Eza. Ia menambahkan, investor muda cenderung agresif karena melihat potensi keuntungan finansial lebih cepat dibandingkan membangun bisnis riil.
Soal peran ritel sebagai bantalan saat investor asing keluar, Josua menilai sifatnya situasional. “Dalam kondisi normal, ritel bisa menahan tekanan. Tapi saat koreksi tajam, ritel justru rawan bergerak serentak dan mendorong panic selling,” tuturnya.
Dari sisi solusi, Josua menekankan pendekatan bertahap dan berbasis risiko. Dia menyebut jika kebijakan paling realistis adalah memperketat persyaratan saham publik secara gradual, fokus pada emiten dengan free float terlalu tipis, serta memperkuat pengawasan transaksi tak wajar secara cepat.
“Arah kebijakan ini sejalan dengan pembahasan di OJK dan BEI,” imbuhnya.
Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menambahkan, literasi saja tidak cukup.
“Kita kayaknya belum pernah dengar ada yang terkena sanksi karena melakukan manipulasi pasr. Kebanyakan omon-omon termasuk soal saham gorengan,” kata dia.
Menurut dia, adanya istilah saham gorengan sendiri belum jelas karena tidak ada dalam literatur keuangan. Kendati demikian, dia mendorong adanya penegakan hukum yang jelas terhadap perilaku manipulasi pasar yang meresahkan investor.
“Tanpa penegakan hukum yang tegas, saham gorengan akan terus jadi wacana,” ungkapnya.