Makna Perjanjian Dagang RI-AS Bagi Industri Nasional

Bagi pelaku usaha, kepastian adalah faktor utama dalam mengambil keputusan investasi, ekspansi kapasitas, hingga kontrak jangka panjang

Makna Perjanjian Dagang RI-AS Bagi Industri Nasional
Perajin menunjukkan kain tas berbahan alami (ecoprint) di rumah industri Kelurahan Pakembaran, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/nz). (ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar)
Daftar Isi

Di tengah kecenderungan global yang kian proteksionis, tercapainya kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat membawa angin segar bagi pelaku usaha domestik.

Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, menilai poin krusial yang dibutuhkan pengusaha saat ini adalah kepastiana berusaha dan prediktabilitas.

"Bagi pelaku usaha, kepastian adalah faktor utama dalam mengambil keputusan investasi, ekspansi kapasitas, hingga kontrak jangka panjang," ujarnya dalam statement yang diterima SUAR pada Jumat (27/2).

Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini juga mengatakan beberapa manfaat kesepakatan dagang ART ini adalah 

  • Pertama, kepastian akses pasar. Di tengah dinamika global yang semakin proteksionis dan penuh ketidakpastian kebijakan perdagangan, tercapainya kesepakatan ini memberikan sinyal positif bahwa akses pasar Indonesia ke Amerika Serikat tetap terbuka dan berbasis pada kerangka yang ternegosiasi. Bagi pelaku usaha, predictability adalah faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi, ekspansi kapasitas, dan kontrak jangka panjang. 
  • Kedua, penurunan eskalasi risiko tarif dan hambatan non-tarif. Sejak awal, dinamika perundingan cukup kompleks karena menyangkut kepentingan sektoral, keseimbangan neraca perdagangan, serta sensitivitas politik domestik kedua negara. Dengan adanya kesepakatan, potensi tekanan sepihak atau kebijakan tarif resiprokal yang lebih agresif dapat dikelola melalui mekanisme yang disepakati bersama dan ini penting untuk menjaga stabilitas ekspor nasional. 
  • Ketiga, penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Amerika Serikat tetap merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, khususnya untuk sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, furnitur, serta produk manufaktur bernilai tambah lainnya. Kesepakatan ini memberi ruang bagi dunia usaha untuk melakukan supply chain repositioning dan meningkatkan daya saing melalui pemanfaatan preferensi tarif dan penguatan kemitraan industri. 
  • Keempat, momentum reformasi domestik. Reciprocal trade bukan hanya soal akses keluar, tetapi juga kesiapan ke dalam. Dunia usaha harus memastikan kepatuhan terhadap aturan asal barang, standar keberlanjutan, transparansi rantai pasok, serta tata kelola yang baik. Dalam konteks ini, perjanjian ini menjadi katalis untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan standardisasi industri nasional. 
  • Kelima, kepercayaan investor. Tercapainya kesepakatan di tengah dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra yang kredibel dan mampu bernegosiasi secara konstruktif. Hal ini berdampak pada persepsi risiko negara (country risk perception) dan berpotensi mendorong investasi baru, termasuk relokasi industri dari negara lain. 

Namun demikian, Ia menekankan bahwa implementasi adalah kunci dan dunia usaha membutuhkan, kejelasan teknis pelaksanaan,sosialisasi yang masif,sinkronisasi kebijakan antar kementerian,dan dukungan pembiayaan dan fasilitasi perdagangan. 

“Dengan demikian, arti kesepakatan ini bagi dunia usaha bukan semata-mata pada teks perjanjiannya, tetapi pada bagaimana diterjemahkan menjadi akses pasar yang riil, biaya usaha yang kompetitif, dan peningkatan ekspor yang berkelanjutan,” ujar dia.  

Anne Patricia (Foto: Dokumen Pribadi)

Resiprokal yang seimbang

Banyak pihak menyoroti adanya ketimpangan posisi tawar antara Indonesia dan Amerika Serikat sejak awal negosiasi. Namun, Anne meluruskan bahwa konsep "resiprokal" dalam perdagangan internasional tidak selalu berarti simetris secara matematis.

Dalam kacamata praktis, resiprokal berarti keseimbangan manfaat. Indonesia mendapatkan kepastian akses pasar dan struktur tarif yang jelas, sementara AS memperoleh komitmen kerja sama serta akses terhadap komoditas strategis.

"Hasil akhirnya bukan soal siapa yang lebih unggul, tetapi apakah kesepakatan ini mampu menjaga keberlanjutan ekspor, stabilitas industri, dan lapangan kerja nasional," tegas sosok yang juga merupakan petinggi PT Pan Brothers Tbk tersebut.

Selama proses perundingan yang alot, dunia usaha tidak hanya duduk manis sebagai penonton. Anne mengungkapkan bahwa APINDO berperan aktif sebagai early warning system.

"Para pelaku industri adalah pihak pertama yang merasakan tekanan dari pembeli global ketika ada isu perubahan kebijakan di AS," ujar dia.

Pekerja menyelesaikan produksi produk fesyen di Pabrik Tekstil Tectona di Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/10/2025). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz)

Sepakat turunkan tarif

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif hingga nol persen pada sejumlah produk Indonesia dalam skema Agreement on Reciprocal Trade. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa dalam dokumen agreement on reciprocal trade terdapat 1.819 pos tarif produk yang memperoleh tarif 0 persen.

“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri. Antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang yang tarifnya adalah nol persen,” ucapnya dalam Konferensi pers dengan awak media di Washington DC, pada (19/2).

Sementara untuk produk tekstil dan aparel, Menko Airlangga menyebut bahwa Amerika Serikat juga memberikan tarif nol persen dengan mekanisme tariff rate quota (TRQ). “Tentunya ini memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat indonesia,” tambahnya.

Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik, Indonesia juga berkomitmen memberikan fasilitas tarif nol persen bagi sejumlah produk utama asal Amerika Serikat, khususnya komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai. Menurut Airlangga, langkah ini memastikan masyarakat tidak terbebani biaya tambahan untuk produk berbahan baku impor tersebut.

Di tingkat multilateral, kedua negara juga sepakat untuk tidak mengenakan bea masuk atas transaksi elektronik sesuai posisi dalam forum World Trade Organization (WTO). Indonesia turut mendorong pengaturan transfer data lintas batas secara terbatas sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional, serta memastikan adanya perlindungan data konsumen yang setara.

Lebih lanjut, Menko Airlangga mengatakan bahwa pemerintah juga akan menerapkan strategic trade management guna menjaga agar perdagangan tetap aman dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar tujuan perdamaian. Perjanjian ini akan berlaku 90 hari setelah proses hukum diselesaikan kedua belah pihak, termasuk konsultasi dengan DPR RI, dan dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatan tertulis bersama.

Dorong ekspor

Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan sebanyak 1.819 komoditas barang asal Indonesia yang memperoleh fasilitas bebas tarif saat memasuki pasar Amerika Serikat merupakan sebuah peluang yang dinilai dapat mendorong ekspor nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri. 

Kebijakan ini memungkinkan berbagai komoditas unggulan Indonesia masuk tanpa bea masuk, sehingga harga produk menjadi lebih kompetitif dibandingkan negara pesaing. 

“Pelaku usaha menilai langkah tersebut membuka ruang ekspansi yang lebih luas, khususnya bagi industri padat karya dan sektor manufaktur berorientasi ekspor,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (26/2).

Komoditas yang menikmati fasilitas ini mencakup beragam produk, mulai dari tekstil dan produk turunannya, alas kaki, furnitur, hingga sejumlah hasil pertanian dan perikanan. Dengan penghapusan tarif, eksportir dapat menekan biaya logistik dan distribusi, sekaligus memperbesar margin keuntungan atau menurunkan harga jual di pasar tujuan.

Baca selengkapnya