Di tengah tekanan beruntun terhadap pasar properti PT Ciputra Development Tbk tetap menjaga laba bersih. Perusahaan juga telah menyiapkan strategi untuk memasarkan properti kelas menengah ke atas untuk menjaga bisnis berkelanjutan ke depan.
Dalam paparan publik hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan di Jakarta, Jumat (26/6/2026), PT. Ciputra Development Tbk., mengumumkan laba bersih senilai Rp2,66 miliar. Dari besaran ini, laba ditahan ditetapkan Rp1.99 miliar untuk pengembangan perseroan, sementara Rp667 juta sisanya disepakati sebagai dividen tunai dengan nilai Rp36 per saham.
Sekretaris Perusahaan Ciputra Development Aditya Ciputra Sastrawinata menjelaskan, dengan kontribusi 80% dari total pendapatan perusahaan, segmen pembangunan properti hunian menjadi pendorong utama yang mengangkat kinerja perusahaan, di samping properti investasi seperti mal, hotel, rumah sakit, dan persewaan kantor.
“Di segmen pembangunan properti, kami menetapkan target presales Rp9,5 triliun. Prospek ini tetap stabil di tengah melemahnya permintaan hunian menengah ke bawah. Meski secara tahunan mengalami penurunan, capaian Rp2,446 triliun setara 26% dari seluruh target 2026 dan ini dicapai dalam bulan puasa di Q1, yang biasanya memiliki dampak negatif sementara,” jelas Aditya.
Sejumlah capaian tercatat di triwulan I-2026. Ciputra antara lain berhasil menjual 228 unit baru di cluster Citra Garden City Jakarta senilai Rp521 miliar, sementara 51 unit berhasil terjual di cluster Hortis 2 di Citra Garden Serpong senilai Rp113 miliar. Setiap proyek tersebut ditawarkan dengan interval harga antara 1,7-4 miliar per unit.

Sementara penurunan terjadi akibat melemahnya daya beli, permintaan resilien rumah dan dengan porsi 98% total presales menjadi tulang punggung utama untuk menanggulangi over-supply dalam penjualan porsi apartemen dan hotel.
“Porsi pembelian KPR saat ini meningkat dengan 72% dari total pembeli kami. Rendahnya tingkat permintaan investor di pasar properti konsisten dengan apa yang kita lihat di seluruh sektor properti, karena terjadi di semua developer. Tren yang kami alami berlanjut di tahun ini. Namun, penjualan unit di bawah Rp1 miliar terus mengecil karena melemahnya daya beli segmen ini,” imbuh Aditya.
Manfaatkan insentif
Menurut Aditya, salah satu program pemerintah yang dimanfaatkan Grup Ciputra adalah insentif PPN DTP dengan harga maksimum Rp5 miliar per unit.
“Kami memaksimalkan insentif dengan mempercepat pembangunan rumah dan apartemen agar dapat serah terima dalam masa periode insentif. Konsumen bisa mendapatkan insentif sampai Rp220 juta, dengan Rp1,3 triliun dari total presales Rp2,5 triliun menggunakan platform insentif tersebut,” ungkap Aditya.
Di sisi lain, dampak negatif efisiensi anggaran untuk pengeluaran perjalanan dinas, pendapatan dari aset hotel tercatat turun. Karenanya, sementara aset kantor sewa relatif stabil, optimasi aset mulai dilakukan dengan memasarkan lantai dijual secara strata title, bukan untuk disewakan.
“Grup Ciputra memproyeksikan penurunan laba bersih 10% akibat penurunan presales pada 2025 yang berdampak pada laporan keuangan 2026. Walau segmen properti investasi meningkat, ini tidak cukup menutup penurunan segmen pembangunan properti. Namun, kami berusaha menjaga profitabilitas 10-20% margin dengan menjaga efisiensi operasional,” ungkap Aditya.
Direktur Ciputra Development Harun Hajadi menambahkan, meski insentif PPN DTP tersedia, permasalahan permintaan masih harus diselesaikan. “Dilihat dari sisi demand, kita lihat di 3 bulan pertama terjadi penurunan 23% dibandingkan tahun lalu, itu kelihatan pasar lebih lemah dari tahun sebelumnya,” jelasnya.
Dengan melihat momentum siklikal, Harun menilai koreksi saat ini masih ditopang booming laba di tahun 2023-2024. “Selama bunga KPR ikut naik, demand pasti terpengaruh. Apalagi ada liquidity crunch di pasar keuangan saat ini,” kata Harun.
Serah terima lebih cepat
Memanfaatkan momentum konsumen yang sudah menikmati fasilitas PPN DTP untuk produk yang ditawarkan, kepercayaan yang tumbuh akan dimaksimalkan untuk menjaga kinerja profitabilitas.
“Di Q1 tahun ini, pendapatan turun 6% menjadi 2,5 triliun dan laba bersih turun Rp518 miliar. Untuk tahun 2026, kontribusi kinerja keuangan akan terkonsentrasi di Q4 sama seperti tahun sebelumnya, sejalan dengan jadwal serah terima unit di kuartal tersebut. Kami berencana untuk mempercepat serah terima untuk menjaga profitabilitas,” ungkap Aditya.
Dengan daya tahan bisnis yang kuat, Ciputra menegaskan korporasi tetap optimistis dan strategis menjaga ketahanan bisnis dan menciptakan peluang baru. Ini antara lain memanfaatkan besaran pertumbuhan belanja modal (capital expenditure) yang mencapai Rp300 miliar di triwulan I-2026.
“Rencana capex perusahaan tahun ini sama seperti tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp1 triliun. Capex kami setiap tahun mayoritas untuk land banking yang membulatkan lokasi yang sudah ada. Ini yang bisa dilihat di tahun 2020-2025, agar tiga tahun ke depan dapat dikembangkan menjadi cluster baru, baik di Sentul maupun di Makassar.”
Strategi keuangan lain yang juga akan ditempuh Grup Ciputra adalah menghitung kenaikan dividen sebagai langkah untuk tidak melakukan buyback.
“Kami lebih memilih kenaikan dividen daripada buyback, karena pilihan ini tidak mengurangi likuiditas di saham. Selama kami memiliki ruang meningkatkan dividen, kami akan pilih itu daripada opsi buyback,” jelas Aditya.

Guna menjaga agar strategi tersebut tercapai, Direktur Utama Ciputra Development Candra Ciputra mengharapkan tekanan likuiditas yang meningkat akibat kenaikan suku bunga acuan BI Rate serta inflasi akibat harga minyak dunia dapat mereda dalam waktu dekat.
“Penjualan kami selama ini banyak tergantung dari KPR, tetapi kalau kita lihat realitas, kenaikan suku bunga acuan 1% tidak akan berpengaruh terlalu signifikan terhadap besaran cicilan yang sudah ada,” kata Candra.
Memaksimalkan fasilitas PPN DTP sebagai insentif pembelian rumah, Candra menilai situasi ini akan menolong kesehatan keuangan perusahaan ke depan. “Sementara Rupiah tertekan dan suku bunga tinggi, kami tetap merasa probabilitas masih bisa dicapai, karena kenaikan suku bunga 1% dibandingkan cicilan tidak akan melonjak,” ujarnya.
Tren pasar berubah
Sebelumnya, Kepala Riset dan Konsultansi CBRE Indonesia Anton Sitorus menjelaskan sektor properti mulai berkembang mengikuti tren menguatnya bisnis digital, e-commerce, dan populasi menua (aging population), terutama di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek. Karenanya, pengembang perlu antisipasi agar tidak terperangkap pada pembangunan aset konvensional seperti rumah tapak, perkantoran, atau pusat perbelanjaan saja.
Mulai tahun 2026 hingga satu dasawarsa mendatang, terdapat empat aset properti nonkonvensional yang mulai diminati investor dan pengembang. Pertama, fasilitas layanan kesehatan; kedua, pusat data (data center); ketiga pergudangan cerdas (smart storage dan cold storage) dan kawasan industri; dan keempat serta hunian bertipe co-living space seperti senior living maupun hunian flat.
Baca juga:

Dalam temuan CBRE, aset fasilitas layanan kesehatan (healthcare facilities) semakin diminati karena empat faktor. Pertama, populasi menua yang membuat permintaan layanan kesehatan tumbuh secara organik. Kedua, pertumbuhan kelas menengah sebagai target pasar pengembang. Ketiga, penguatan iklim investasi sektor kesehatan pascapandemi. Keempat, tren medical tourism yang terbukti di Penang dan Singapura.
"Aset fasilitas kesehatan mengalami permintaan sangat tinggi, seperti juga medical office dan life sciences facility bertahan di peringkat satu aset prospektif selama tiga tahun berturut-turut. Seiring perkembangan bisnis properti, investor terus mengeksplorasi spektrum baru seperti student accomodation dan retirement living," ucap Anton.
Menghadapi segmen pengguna properti yang berubah, perusahaan pengembang memerlukan antisipasi dan strategi menyesuaikan new economy agar tidak terperangkap investasi aset-aset konvensional. Meskipun segmen baru belum terlalu besar dan ajek, investasi di sektor properti nonkonvensional adalah pilihan strategis.
"Perusahaan-perusahaan pengembang Indonesia belum terlalu tertarik menggarap pergudangan modern dan data center. Rata-rata pengembangnya masih dari luar. Saya pikir, dengan zaman yang terus berubah, bisa jadi mereka akan mulai tergerak, terutama karena konglomerasi properti juga sudah ke sana, sehingga developer lain akan tertarik ikut," pungkas Anton.