Sebagai salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam keranjang belanja masyarakat, fluktuasi harga pada sektor tersebut secara cepat mempengaruhi tekanan ataupun relaksasi terhadap laju inflasi umum. Ketika kelompok pangan mengalami lonjakan harga, angka inflasi nasional cenderung ikut terkerek naik secara signifikan.
Sebaliknya, saat pasokan pangan melimpah dan harga-harga kembali stabil, tekanan inflasi mereda, Bahkan, dalam beberapa momentum musinam mampu mendorong terjadinya deflasi. Sehingga, sektor tersebut menjadiroda utama dalam stabilitas makroekonomi domestik.
Pada paruh pertama tahun 2025, pergerakan inflasi umum sempat diawali dengan kondisi yang terkendali. Inflasi Januari 2025 tercatat sebesar 0,76% dengan inflasi sektor makanan berada di level 3,69% dan memberikan andil sebesar 1,07%.
Memasuki Februari 2025, Indonesia mengalami deflasi sebesar -0,09% secara tahunan (y-o-y) yang didorong oleh penurunan inflasi kelompok makanan menjadi 2,25% serta andilnya yang menyusut ke angka 0,66%. Tren pelandaian sektor pangan ini mencapai puncaknya pada Mei 2025, di mana inflasi makanan menyentuh titik terendah sebesar 1,03% dengan andil terhadap inflasi total hanya sebesar 0,30%. Penurunan ini menggambarkan dampak dari manajemen pasokan musiman yang efektif di awal tahun.
Situasi berbalik pada paruh kedua tahun 2025, di mana tekanan inflasi mulai meningkat akibat lonjakan di sektor pangan. Sejak Juli 2025, inflasi makanan kembali melompat ke angka 3,75% dan terus mendaki hingga mencapai puncaknya pada September 2025 di level 5,01%.
Pada bulan September, andil kelompok makanan, minuman, dan tembakau terhadap inflasi nasional mencatatkan rekor tertinggi sebesar 1,43%. Kenaikan yang terjadi di paruh kedua tahun 2025 mengindikasikan adanya tekanan rantai pasok atau faktor cuaca yang mengganggu produksi. Sehingga, memaksa inflasi secara umum ikut melonjak naik hingga menyentuh angka 2,92% pada penghujung Desember 2025.
Memasuki tahun 2026, dinamika inflasi menjadi semakin kompleks dengan adanya faktor eksternal. Meski demikian, peran pangan tetap mendominasi inflasi.
Pada Januari 2026, terjadi anomali di mana inflasi melonjak ke angka 3,55% meski inflasi makanan sempat turun ke angka 1,54% dengan andil terkecil sebesar 0,46%. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan dari kelompok pengeluaran lain di awal tahun. Kendati demikian, sektor makanan kembali menunjukkan perannya pada Februari 2026 dengan inflasi yang kembali meroket ke angka 3,51% dengan andil 1,05%.
Kenaikan kelompok pengeluaran tersebut pada bulan Februari 2026 mendorong inflasi ke puncak tertingginya sepanjang periode 2025-2026, yaitu sebesar 4,76%. Setelah sempat melandai pada April, sektor pangan kembali naik pada Mei 2026 dengan inflasi mencapai 4,94% dan andil masif sebesar 1,43% yang memaksa inflasi kembali merangkak naik ke level 3,08%.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengambil andil utama inflasi di Indonesia. Setiap dinamika pada sektor tersebut, baik berupa penurunan maupun kenaikan, memiliki daya pengaruh terhadap daya beli masyarakat luas. Oleh karena itu, kebijakan ketahanan pangan yang berfokus pada kelancaran distribusi, stabilitas harga eceran, dan mitigasi dampak cuaca bukan lagi sekadar urusan sektor pertanian. Melainkan, strategi dalam menjaga stabilitas moneter nasional agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.