Kejar Target 5 Juta Barel, UEA Lepas dari OPEC

Keputusan Uni Emirat Arab keluar dari keanggotaan OPEC menandai babak baru dalam peta geopolitik energi global. Dengan memiliki keleluasaan penuh dalam meningkatkan kapasitas produksi, UEA menargetkan peningkatan produksi minyak bumi hingga 5 juta barel per hari pada tahun 2027. 

Kejar Target 5 Juta Barel, UEA Lepas dari OPEC

Dengan melepaskan diri dari batasan kuota produksi yang ditetapkan dalam organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC), Uni Emirat Arab (UEA) kini memiliki fleksibilitas penuh untuk mengoptimalkan pendapatan dari sektor migas. Dengan demikian UEA mampu mendanai transisi besar-besaran ke sektor teknologi canggih, industri pertahanan, dan kecerdasan buatan (AI).

Signifikansi UEA di dalam OPEC bukanlah hal kecil, mengingat negara ini secara konsisten menempati posisi lima besar produsen minyak terbesar dalam organisasi tersebut. Berdasarkan data produksi tahun 2024, UEA menyumbang sekitar 2.950 ribu barel per hari (tb/d) atau setara dengan 11,09% dari total produksi OPEC yang mencapai 26.604 tb/d. 

Kontribusi ini terus menguat pada tahun 2025 dengan produksi sebesar 3.142 tb/d (11,39%), menempatkan UEA di posisi produsen terbesar ketiga setelah Arab Saudi dan Irak. Keluarnya produsen dengan pangsa dua digit ini tentu memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas pengaruh OPEC di pasar minyak mentah dunia.

Memasuki awal tahun 2026, tren produksi minyak UEA sempat menunjukkan performa yang sangat impresif sebelum terjadinya fluktuasi besar di pasar global. Pada Januari 2026, produksi UEA menyentuh angka 3.389 tb/d dan meningkat menjadi 3.419 tb/d pada Februari 2026. 

Namun, laporan bulanan OPEC pada Maret 2026 menunjukkan produksi UEA mengalami kontraksi tajam menjadi 1.892 tb/d, selaras dengan penurunan total produksi OPEC secara keseluruhan yang anjlok ke angka 20.788 tb/d pada periode tersebut.

Eskalasi konflik di kawasan Teluk telah berdampak pada penurunan produksi minyak negara-negara di kawasan tersebut. Meskipun terjadi penurunan sesaat pada Maret, ambisi UEA untuk berdiri sendiri tetap terlihat dari persiapan infrastruktur produksi mereka yang terus dipacu melampaui standar kuota lama.

Di sisi lain, hubungan dagang energi antara UEA dan Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Data impor minyak Badan Pusat Statistik (BPS) dengan kode HS 27 dari UEA ke Indonesia mencatatkan penurunan volume dari 2.800,99 ribu ton pada tahun 2023 menjadi 1.804,80 ribu ton pada 2024, dan sedikit menyusut menjadi 1.798,10 ribu ton pada 2025. 

Secara nilai ekonomi, penurunan ini bahkan lebih terasa, di mana nilai impor yang pada 2023 mencapai 1.569,83 juta dollar AS turun drastis menjadi 1.006,00 juta dollar AS pada akhir tahun 2025. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh adanya pergeseran strategi pengadaan energi atau diversifikasi mitra impor oleh pihak Indonesia.

Tren penurunan ini berlanjut semakin tajam pada kuartal pertama tahun 2026. Selama periode Januari hingga Maret 2026, total volume impor hanya tercatat sebesar 671,30 ribu ton dengan nilai 384,72 juta dolar AS. Jika dibedah secara bulanan, penurunan pada Maret 2026 sangat drastis, di mana Indonesia hanya mengimpor 79,4 ribu ton senilai 47,53 juta dollar AS, jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang masih di level 348,2 ribu ton.

Dinamika tersebut menunjukkan bahwa meskipun UEA sedang berupaya meningkatkan produksi minyaknya secara mandiri pasca-keluar dari OPEC, ketergantungan langsung Indonesia terhadap pasokan minyak dari UEA justru sedang berada pada titik terendah.

Baca selengkapnya

Ω