Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Februari 2021 hingga November 2025 menunjukkan jumlah penduduk bekerja yang melakukan aktivitas komuter fluktuatif di kisaran 7-8 juta orang per tahun.
Definisi komuter menurut BPS adalah penduduk yang melakukan pergerakan harian secara rutin pergi dan pulang pada hari yang sama dengan melewati batas administrasi kabupaten/ kota tempat tinggalnya.
Jumlah pekerja komuter tertinggi terjadi pada Agustus 2022 dengan jumlah 8,07 juta orang. Tren peningkatan jumlah pekerja komuter ini mencerminkan ketergantungan yang tinggi penduduk di wilayah pinggiran atau penyangga dalam mencari nafkah di kota-kota metropolitan yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Kita mengenal istilah seperti Jabodetabek atau Gerbangkertosusila yang memiliki fenomena pekerja komuter yang tinggi.
Jika ditinjau dari sisi persentase terhadap total pekerja, pada Februari 2021, jumlah pekerja komuter mencakup 6,11% dari total penduduk bekerja. Porsi ini kemudian menurun dan stabil di kisaran 5,01% hingga 5,39% pada tahun 2025.
Penurunan persentase di tengah jumlah nominal yang tetap besar mengindikasikan mulai ada pertumbuhan lapangan kerja di wilayah penyangga. Selain itu, juga ada indikasi pergeseran pola kerja yang tidak lagi mengharuskan mobilitas tinggi lintas wilayah setiap hari bagi sebagian profesi pascapandemi dan memasuki era normal baru.
Pertumbuhan jumlah komuter melonjak signifikan sebesar 9,95% pada Agustus 2022. Namun, memasuki tahun 2024 dan 2025, pertumbuhan tahunan mulai menurun hingga 2,85%.
Untuk pilihan moda transportasi, mayoritas pekerja komuter (lebih dari 90%) masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi dalam melakukan perjalanan ulang alik. Per November 2025, pekerja komuter yang menggunakan kendaraan pribadi sebanyak 90,32%. Sementara pengguna transportasi umum seperti kereta api sekitar 8%.
Hal ini menjadi catatan penting bagi perencana kota bahwa kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan utama karena faktor fleksibilitas dan jangkauan yang mungkin belum sepenuhnya terakomodasi oleh transportasi massal di semua titik asal-tujuan.
Meski demikian, dari laporan BPS, penggunaan transportasi massal berbasis rel (seperti KRL, LRT, atau MRT) menunjukkan tren meningkat yang cukup menjanjikan di akhir periode Maret 2026 ini.
Peningkatan ini memberikan sinyal optimistis bahwa integrasi moda dan peningkatan layanan transportasi massal mulai berhasil menarik minat para pekerja untuk beralih. Secara keseluruhan, masa depan mobilitas komuter Indonesia akan sangat bergantung pada seberapa cepat transformasi dari ketergantungan kendaraan pribadi menuju transportasi publik yang terintegrasi.