Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, 70 Bulan Beruntun

Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga negara tujuan ekspor utama Indonesia pada Februari 2026

Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, 70 Bulan Beruntun
Sejumlah kapal pengangkut melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (11/3/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar)
Daftar Isi

Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, tercermin dari kinerja neraca perdagangan Februari 2026 yang mencapai surplus USD 1,27 miliar. Angka ini juga mengalami kenaikan dibandingkan surplus neraca perdagangan pada Februari 2026 sebesar USD 0,95 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Rilis Berita Statistik di Jakarta, Rabu (1/4/2026) mencatat, nilai total ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai USD 22,17 miliar, naik 1,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY).

Sementara itu, nilai total impor Indonesia pada Februari 2026 tercatat USD 20,89 miliar, naik 10,85% YoY. Dengan demikian Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 sebesar USD 1,27 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, kenaikan ekspor pada Februari 2026, ditopang ekspor non migas yang tumbuh 1,30% YoY mencapai USD 21,09 miliar, sementara ekspor migas turun 4,25% YoY menjadi USD 1,08 miliar.

Menurut Ateng, capaian ekspor nonmigas secara kumulatif tidak terlepas dari peningkatan nilai ekspor dari sektor manufaktur yang tumbuh 5,24% YoY mencapai USD 18,55 miliar, didorong peningkatan ekspor nikel, minyak kelapa sawit, kendaraan bermotor roda empat, kimia dasar organik, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya. "Sedangkan CPO kembali menjadi komoditas ekspor utama dengan kenaikan 26,4% YoY," katanya.

Tiga negara tujuan ekspor

Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga negara tujuan ekspor utama Indonesia pada Februari 2026. Nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok menduduki tempat tertinggi sebesar USD 10,46 miliar, didominasi komoditas besi dan baja senilai USD 2,69 miliar.

Sementara itu, ekspor ke AS dan India masing-masing mencapai USD 5 miliar dan USD 3,11 miliar dengan komoditas dominan mesin dan perlengkapan elektrik ke AS dan bahan bakar mineral ke India, masing-masing senilai USD 0,86 miliar dan USD 0,89 miliar.

Sementara nilai ekspor tumbuh tipis 1,01% YoY, nilai impor total tumbuh 10,85% YoY menjadi USD 20,89 miliar, didorong kenaikan impor nonmigas sebesar USD 18,90 miliar atau tumbuh 18,24% YoY. Peningkatan terjadi di seluruh golongan penggunaan, dengan nilai impor bahan baku tetap menjadi yang tertinggi sebesar USD 14,52 miliar, tumbuh 4,25% secara YoY.

“Nilai impor tiga komoditas utama yaitu mesin/peralatan mekanis sebesar USD 6,64 miliar, mesin/perlengkapan elektrik sebesar USD 5,66 miliar, dan impor plastik serta barang dari plastik sebesar USD 1,82 miliar memberikan kontribusi sebesar 38,23% terhadap total impor nonmigas. Ketiganya naik dari sisi nilai maupun volume dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelas Ateng.

Secara kumulatif, BPS mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sejauh ini mencapai USD 2,23 miliar atau turun dibandingkan surplus neraca perdagangan Januari-Februari 2025 yang mencapai USD 6,59 miliar. Ini disebabkan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas kumulatif yang saat ini mencapai USD 3,19 miliar.

“Lemak dan minyak hewani/nabati menyumbang surplus terbesar senilai USD 6,49 miliar, diikuti bahan bakar mineral USD 4,01 miliar, serta besi dan baja USD 2,7 miliar. Sementara itu, mesin/peralatan mekanis menyumbang defisit terdalam senilai USD 5,27 miliar, diikuti mesin/perlengkapan elektrik USD 2,67 miliar, dan plastik/barang dari plastik USD 1,39 miliar,” jelas Ateng.

Kontainer langka

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menyatakan ekspor yang tumbuh tipis tidak lepas dari gangguan rantai pasok yang membuat ketersediaan kontainer tidak seimbang dengan kebutuhan ekspor. Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya permintaan pengiriman barang ke luar negeri dalam beberapa waktu terakhir.

“Eksportir sekarang harus bersaing mendapatkan kontainer di tengah pasokan terbatas. Kontainer sedang kekurangan sehingga permintaan ekspor lebih banyak dibanding yang tersedia,” ujar Benny saat dihubungi, Rabu (1/4/2026). 

Selain kelangkaan kontainer, harga BBM yang meningkat dan imbas konflik global turut memicu kenaikan tarif pengiriman internasional sehingga biaya ekspor yang semakin mahal. Meski demikian, proses bongkar muat masih terkendali melalui perencanaan yang matang.

“Keterlambatan bongkar muat masih terlaksana baik karena sudah direncanakan sebelumnya,” imbuhnya. Penyesuaian jadwal dan negosiasi dengan mitra dagang serta pengaturan ulang skema pengiriman dan waktu distribusi untuk tetap memenuhi permintaan pasar internasional menjadi sejumlah langkah yang kini dipersiapkan eksportir menghadapi badai yang mendekat.

“Pengurangan hari libur untuk aktivitas angkutan menuju dan dari pelabuhan juga perlu diatur untuk menjaga kelancaran distribusi dan mempertahankan efisiensi rantai pasok secara keseluruhan,” ujar Benny.

Sopir truk menunggu antrean kendaraan truk yang hendak menyeberang melalui pelabuhan Ciwandan di Jalan Lingkar Selatan, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (14/3/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/nz)

Paradoks struktur industri nasional

Meski surplus neraca perdagangan telah kembali ke atas USD 1 miliar dari bulan sebelumnya yang sempat menyempit ke tingkat USD 0,95 miliar, Kepala Penelitian Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman menggarisbawahi turunnya surplus kumulatif yang cukup tajam, yaitu dari USD 6,59 miliar pada Januari-Februari 2025 menjadi USD 2,23 miliar pada Januari-Februari 2026.

Sementara permintaan ekspor tertahan akibat disrupsi permintaan musiman, impor semakin meningkat, khususnya bahan baku. Ketika situasi impor mengalahkan ekspor, ini menandai gerak ekonomi global yang melambat, sementara Indonesia mengejar kebijakan pro-growth dengan terus mendorong permintaan domestik ,” kata Faisal dalam keterangan tertulisnya Rabu (1/4/2026).

Sedangkan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai tumbuhnya impor bahan baku di tengah produksi nasional yang pas-pasan, menunjukkan paradoks dalam struktur industri nasional. 

“Persoalan utama bukan pada produksi, melainkan pada rantai pasok yang belum terintegrasi dan sistem logistik yang belum efisien. Produksi yang didominasi petani kecil menyebabkan pasokan tersebar dan kualitas tidak seragam, sehingga sulit memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar,” jelasnya.

Setijadi mengambil contoh industri kakao di sisi hilir, kapasitas industri pengolahan kakao nasional saat ini mencapai sekitar 739 ribu ton per tahun, tetapi realisasi produksi baru sekitar 422 ribu ton atau hanya 50-60 persen dari kapasitas. 

Pada saat yang sama, impor kakao masih mencapai sekitar 157 ribu ton dengan nilai sekitar USD1,1 miliar per tahun. Ini menunjukkan industri dalam negeri belum sepenuhnya mengandalkan pasokan domestik. 

“Ini menandai tantangan utama terletak pada sistem pascapanen dan distribusi. Proses fermentasi, pengeringan, penyimpanan, dan pengumpulan hasil produksi belum dilakukan standarisasi, sementara biaya distribusi domestik masih lebih tinggi daripada impor. Bahan baku impor pun jadi lebih kompetitif dari sisi kualitas dan kepastian pasokan,” ungkapnya.

Setijadi menekankan agar perbaikan logistik dan rantai pasok bahan baku nasional tetap diperhatikan karena ini membuka potensi nilai ekonomi yang signifikan. Sebagai gambaran, substitusi impor sebesar 25 persen berpotensi menghemat devisa sekitar USD 275 juta, atau mencapai hingga USD 550 juta jika mencapai 50 persen. 

“Penguatan logistik dan rantai pasok bahan baku yang dilakukan melalui integrasi hulu ke hilir, termasuk agregasi petani, peningkatan peran offtaker, dan standardisasi kualitas akan mendorong rantai pasok bahan baku domestik lebih efisien dan andal, sehingga impor bahan baku dapat ditekan dan menyelamatkan cadangan devisa,” tegasnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya