Impor Barang Modal Cenderung Naik, Impor Bahan Baku Menurun

Nilai impor barang modal menunjukkan tren kenaikan. Sementara itu, nilai impor bahan baku justru alami penurunan. Ini menunjukkan tren aktivitas dunia usaha alami kenaikan untuk dorong ekspansi usaha jangka menengah dan panjang.

Nilai impor barang modal menunjukkan tren kenaikan. Sementara itu, nilai impor bahan baku justru mengalami penurunan. Ini memperlihatkan aktivitas usaha dalam tren kenaikan untuk mendorong ekspansi usaha jangka menengah dan panjang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-November 2025 nilai impor barang modal mencapai USD144,81 miliar atau naik 18,54% secara tahunan. Porsi impor barang modal terhadap total impor pun meningkat sehingga pada Januari-November 2025 sebesar 20,6% dari sebelumnya 17,7% pada periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan impor barang modal berasal dari mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) serta kendaraan udara dan bagiannya (HS 88).

Pada saat yang sama impor barang bahan mengalami tren penurunan. Pada Januari-November 2025 impor bahan baku mencapai USD 153,19 miliar turun 1,46%. Porsi impor barang baku Januari-November 2025 turun menjadi 70,27% dari total impor, setelah pada tahun sebelumnya porsinya 72,8%.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan kenaikan impor barang modal seperti mesin, peralatan mekanis, kendaraan, dan elektronik di Indonesia umumnya disebabkan oleh aktivitas manufaktur dan investasi dalam negeri yang berkembang.

Kebutuhan untuk memenuhi kapasitas produksi yang belum tercukupi, dan pertumbuhan di sektor-sektor baru seperti kendaraan listrik, yang menunjukkan optimisme ekonomi dan ekspansi industri. 

“Ini menandakan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi domestik yang mendorong permintaan akan alat produksi,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/1/2025).

Sektor manufaktur yang menguat dan aktivitas ekonomi domestik yang berkembang meningkatkan permintaan mesin dan peralatan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Kenaikan investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) juga membutuhkan barang modal untuk pembangunan pabrik, perluasan fasilitas, dan modernisasi peralatan.

Impor barang modal seperti CPU, mobil listrik, peralatan navigasi, dan ponsel pintar meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan sektor-sektor baru maka tidak heran impor barang modal terus tumbuh di Indonesia.

Eko mengatakan Industri membutuhkan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing, yang sering kali harus diimpor karena keterbatasan teknologi lokal sehingga ada beberapa mesin dengan teknologi canggih didatangkan dari luar.

BPS mencatat Indonesia mengimpor banyak barang dari China. Sepanjang Januari–November 2025, nilai impor nonmigas dari Tiongkok mencapai USD 77,52 miliar, didominasi oleh mesin serta peralatan mekanis.

BPS juga mencatat, Tiongkok kembali menjadi negara penyumbang defisit terdalam bagi Indonesia, khususnya pada kelompok nonmigas, dengan nilai mencapai minus USD 19,28 miliar. Sementara secara kumulatif, total defisit dagang Indonesia baik migas dan non migas terhadap Tiongkok tercatat minus USD 17,74 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, berdasarkan negara dan kawasan asal, tiga besar negara asal impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–November 2025 adalah Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat. Ketiganya menyumbang sekitar 52,87% dari total impor nonmigas Indonesia pada periode tersebut.

Impor nonmigas dari Jepang tercatat sebesar USD 13,28 miliar. Sama seperti Tiongkok, impor dari Jepang juga didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan pangsa 21,70% dan pertumbuhan 5,76% secara tahunan.

Adapun impor nonmigas dari Amerika Serikat mencapai USD 8,93 miliar. Kelompok mesin dan peralatan mekanis (HS 84) kembali menjadi komoditas utama dengan pangsa 18,36% dan mencatat pertumbuhan impor sebesar 16,25% secara tahunan.

“Dominasi impor mesin dan peralatan mekanis dari negara-negara utama tersebut mencerminkan masih kuatnya kebutuhan Indonesia terhadap barang modal dan peralatan penunjang industri,” ujar dia.

Menjaga Kenaikan Impor Barang Modal

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengatakan untuk menjaga kenaikan impor barang modal, pemerintah dan pelaku usaha bisa fokus pada penguatan industri dalam negeri, substitusi produk dengan barang lokal, diversifikasi pemasok, pengaturan kuota dan kebijakan tarif bea masuk.

Strategi ini bertujuan menjaga stabilitas biaya, meningkatkan daya saing produk domestik, dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional. 

“Mencari alternatif pemasok lokal untuk mengurangi ketergantungan pada barang impor yang harganya fluktuatif juga bisa dilakukan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/1/2025).

Baca juga:

Masih Bergantung Impor, Industri Perlu Siaga Dampak Pelemahan Rupiah di 2026
Sebagai negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku, pelemahan rupiah yang terus berlanjut akan memberatkan industri Nasional. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2025 melemah 2,98%.

Penyebab impor barang modal di Indonesia adalah keterbatasan produksi domestik sehingga harus mencari barang impor dari luar.

Impor barang modal meningkat karena menjadi sinyal positif pertumbuhan ekonomi dan aktivitas industri, meski kenaikannya perlu diiringi regulasi agar barang yang diimpor berkualitas, aman, serta memberikan kontribusi pajak.

“Kenaikan impor barang modal bisa jadi indikasi industri butuh mesin baru untuk ekspansi atau produksi,” tambah dia.