IHSG Tetap Menghijau di Tengah Ganasnya Net Sell dan Ancaman Lembaga Pemeringkat Asing

Pasca memperoleh vonis dari MSCI dan Moody's, IHSG perlahan bangkit. Bahkan di saat penjualan asing tinggi, IHSG masih mencatat kenaikan.

IHSG Tetap Menghijau di Tengah Ganasnya Net Sell dan Ancaman Lembaga Pemeringkat Asing
Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan di tengah derasnya arus keluar dana asing dan sorotan lembaga pemeringkat global. Ini tercermin pada perdagangan 9–13 Februari 2026, IHSG naik 3,49%. Teranyar, pada perdagangan Rabu, (18/2/2026), IHSG melonjak 97,95 poin atau 1,19% ke level 8.310,22.

Penguatan tersebut terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang signifikan. Sepanjang pekan lalu, di pasar reguler, investor asing membukukan net sell Rp6,11 triliun.

Pada periode tersebut, tekanan jual terbesar asing terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai Rp3,86 triliun. Saham tersebut melemah 6,19% ke level Rp7.200 per saham. Selain BBCA, saham yang mencatat net sell terbesar adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp1,97 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp349,5 miliar, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp207,51 miliar, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp191,88 miliar.

Daftar berikutnya mencakup PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp170,29 miliar, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) Rp150,49 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp132,37 miliar, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) Rp130,87 miliar, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) Rp122,6 miliar.

Pasar modal dan ekonomi makro

Dalam diskusi bertajuk “Prospek dan Tantangan Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s” yang digelar Universitas Paramadina, Rabu (18/2/2026), Ekonom Senior yang juga Rektor Paramadina Didik J. Rachbini menyebut pasar modal sebagai sektor yang paling sensitif terhadap perubahan lingkungan ekonomi.

“Pasar modal itu seperti bendungan. Jadi kalau APBN itu satu bendungan, dana pensiun bendungan, pasar modal juga bendungan yang sangat besar yang bisa mengairi banyak bisnis,” ujar Didik.

Menurutnya, pasar modal merupakan gerbang depan ekonomi yang sangat regulated dan cepat bereaksi terhadap gangguan.

“Pasar modal itu sensitif pada stabilitas makro. Kalau APBN dicabik-cabik, wah ini sudah tidak benar, mereka lari,” katanya.

Lebih lanjut, Didik juga mengibaratkan pasar modal seperti “kerang hijau”. Dengan kata lain, jika ada polusi maka kerang hijau dulu yang menyerap polusi itu. Pertanda bahwa lingkungan itu sakit.

Menurut Didik, arus modal internasional penting khususnya bagi startup dan perusahaan yang membutuhkan likuiditas besar. Dia menilai jika likuiditas internasional sering berlebih dan masuk ke Indonesia sehingga menjadi bisnis.

Di sisi lain, Ekonom Paramadina, Wijayanto Samirin, memaparkan bahwa peringatan MSCI dan perubahan outlook oleh Moody’s terjadi ketika arus portofolio asing tengah mencatat tekanan.

Ia menyebut penilaian lembaga global tersebut mencerminkan persepsi internasional.

“Apa yang diumumkan oleh MSCI dan Moody’s adalah sesuatu yang benar. Paling tidak dunia melihat seperti itu,” imbuhnya.

Terkait risiko lanjutan, Wijayanto menyinggung fenomena sovereign selling. Ketika rating sovereign itu turun atau outlook-nya turun, jelasnya, maka seluruh saham, obligasi termasuk korporasi di Indonesia juga turun karena tidak mungkin rating perusahaan itu lebih tinggi daripada rating negara.

Mengenai tata kelola pasar modal, ia menyatakan jika pasar modal Indonesia banyak pelanggaran tapi tidak ada pelanggarnya. Artinya regulasi dibikin tetapi penegakannya masih merupakan tanda tanya besar.

Wijayanto juga menyoroti struktur valuasi yang mana empat puluh persen market cap pasar modal dikuasai oleh 10 perusahaan dengan Price Earning (PE) ratio di atas 100.

Sementara itu, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan volatilitas masih tinggi menjelang keputusan final MSCI.

“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar. Kami menilai sebelum MSCI mengumumkan keputusan final, risiko volatilitas IHSG masih tinggi dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing,” ujar Rully.

Baca juga:

Habis MSCI, Terbitlah Moody’s, Bagaimana ke Depan?
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings pada Kamis (5/2/2026) malam yang resmi menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif. IHSG pun merespon negatif. Bagaimana ke depan?

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menyatakan kenaikan indeks saat arus keluar asing masih berlangsung menunjukkan pergeseran sumber penopang pasar.

“Kenaikan IHSG di tengah net outflow asing pada dasarnya menunjukkan reli yang ditopang likuiditas domestik, bukan perubahan persepsi risiko global. Artinya reli seperti ini cenderung dangkal, yakni indeks bisa stabil secara teknikal, tetapi mudah terkoreksi setiap muncul sentimen eksternal karena tidak ada aliran dana baru yang memperkuat tren,” ujar Rizal kepada SUAR.

Rizal juga menyinggung dampak struktural dari isu MSCI yakni jika persepsi investability memburuk atau keputusan tidak sesuai ekspektasi, maka terjadi mechanical selling dari dana indeks dan likuiditas pasar menyempit.

Terkait stabilisasi likuiditas, ia menyebut masuknya Danantara ke saham LQ45 lebih merupakan langkah stabilisasi likuiditas saat outflow asing, bukan semata sinyal fundamental.

“Kehadiran pembeli besar berfungsi menahan overshooting harga dan menjaga kepercayaan jangka pendek, tetapi jika terlalu sering dapat memunculkan persepsi harga dijaga secara administratif sehingga investor global justru menunggu. Karena itu perannya idealnya sementara dan countercyclical, sambil diiringi perbaikan struktural seperti transparansi emiten dan peningkatan free-float agar stabilitas tidak bergantung pada intervensi,” pungkas Rizal.

Baca selengkapnya